Penulis: Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Surutnya Sungai Mahakam mulai mempengaruhi akses transportasi dari Kutai Barat (Kubar) menuju Mahakam Ulu (Mahulu).
Kondisi air yang semakin dangkal membuat kapal yang biasanya melayani perjalanan ke wilayah Mahulu kini tak lagi bisa melanjutkan perjalanan seperti biasa. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan Melak Kubar Yunus Parwito mengatakan, kondisi air Sungai Mahakam yang surut membuat perjalanan kapal taxi saat ini terbatas.
Untuk sementara, kapal hanya dapat melayani perjalanan sampai Long Iram. “Benar, saat ini kapal sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan sampai Mahulu karena kondisi air Sungai Mahakam yang surut. Jadi perjalanan kapal hanya bisa sampai Long Iram,” ujar Yunus kepada Korankaltim.com, Rabu (12/8/2026).
Namun berdasarkan informasi terbaru yang diterima pihaknya, jangkauan kapal taksi kini disebut hanya sampai wilayah perairan Muara Bunyut. Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat yang biasa mengandalkan kapal angkutan tersebut.
Selain melayani penumpang, moda transportasi ini memiliki keunggulan dari sisi tarif yang relatif lebih terjangkau serta kapasitas angkut barang yang lebih besar. Karena itu surutnya Sungai Mahakam tidak hanya berdampak pada mobilitas penumpang, tetapi juga pengiriman barang menuju wilayah Mahulu.
Saat kapal taksi tidak lagi mampu menjangkau tujuan, masyarakat harus menyesuaikan pilihan transportasi dengan kondisi perjalanan yang tersedia. Ditengah kondisi tersebut, speed boat rute Tering–Long Bagun masih beroperasi seperti biasa. Mursalin, satu diantara pengelola jasa angkutan speed boat mengatakan belum ada penambahan jadwal keberangkatan maupun perubahan tarif penumpang meski kondisi Mahakam semakin surut.
Keberangkatan speed boat umumnya berlangsung mulai jam tujuh pagi sampai jam dua sore. Diluar jam tersebut, keberangkatan tetap dapat dilakukan apabila ada penumpang yang mencarter kapal. Untuk tarif, penumpang rute Tering–Long Bagun masih dikenakan Rp400 Ribu per orang.
“Tidak ada kenaikan harga tiket. Untuk rute Tering–Long Bagun masih Rp400 Ribu per orang,” ujar Mursalin. Sementara untuk titipan barang seperti berkas dan barang lainnya terdapat penyesuaian biaya. Tarif yang sebelumnya sekitar Rp50 ribu sekali pengiriman dapat menjadi Rp100 ribu sekali kirim.
Dengan kondisi sungai yang semakin surut, perjalanan dari Kubar menuju Mahulu kini memiliki dua pilihan utama, yakni menggunakan speed boat melalui jalur sungai atau kendaraan melalui jalur darat. Dari sisi biaya dan waktu tempuh, perjalanan menggunakan speed boat berada di kisaran Rp400 Ribu per orang dengan waktu perjalanan sekitar empat hingga lima jam.
Sementara perjalanan menggunakan mobil travel berkisar Rp500 Ribu dengan waktu tempuh sekitar lima hingga enam jam. Eki, warga yang rutin bepergian antara Mahulu dan Kubar mengaku lebih memilih lewat darat ketika harus membawa barang dalam jumlah banyak karena mobil memiliki kapasitas angkut yang lebih besar dibandingkan speed boat. “Kalau menggunakan mobil bisa membawa barang lebih banyak,” ujar Eki. Sejumlah jasa travel menggunakan mobil double cabin seperti Toyota Hilux dan Mitsubishi Triton. Ada pula Toyota Innova yang telah dimodifikasi untuk menyesuaikan kondisi akses menuju Mahulu.
Kendaraan darat juga menawarkan waktu keberangkatan yang lebih fleksibel. Penumpang tidak sepenuhnya bergantung pada jadwal keberangkatan speed boat, terutama bagi mereka yang membutuhkan perjalanan di luar jam operasional reguler.
Namun jalur darat juga memiliki kekurangan. Waktu tempuhnya relatif lebih lama dan perjalanan harus melewati sejumlah ruas jalan yang kondisinya kurang nyaman. Sebaliknya, speed boat dinilai lebih nyaman bagi penumpang dengan barang bawaan yang tidak terlalu banyak. Perjalanan melalui sungai membuat penumpang tidak harus menghadapi kondisi jalan darat yang rusak.
Di tengah Mahakam yang terus surut, pilihan transportasi dari Kubar menuju Mahulu kini harus disesuaikan dengan kondisi. Speed boat tetap menjadi pilihan bagi warga yang mengutamakan kenyamanan perjalanan melalui sungai, sementara kendaraan darat menjadi alternatif bagi mereka yang membutuhkan fleksibilitas dan kapasitas angkut lebih besar.
Editor: Aspian Nur




