Penulis: Zulhamri
KORANKALTIM.COM, SANGATTA - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kutai Timur (Kutim) terus berupaya mendekatkan akses literasi kepada masyarakat melalui layanan perpustakaan keliling.
Layanan tersebut menyasar sekolah dan ruang publik dengan membawa beragam koleksi buku secara langsung.
Kehadirannya menjadi alternatif bagi anak-anak untuk mendapatkan bahan bacaan di tengah tingginya penggunaan gawai dalam aktivitas sehari-hari.
Koleksi yang dibawa cukup beragam, mulai dari buku cerita anak, pengetahuan umum, ensiklopedia hingga buku pendidikan yang disesuaikan dengan usia pembaca.
Antusiasme siswa terlihat saat mereka memilih buku yang menarik perhatian. Sebagian membaca secara mandiri, sementara lainnya mendapat pendampingan dari petugas layanan.
Salah satu lokasi layanan berada di Jalan Dayung, Kecamatan Sangatta Utara. Perpustakaan keliling hadir secara rutin setiap Senin hingga Kamis dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih buku sesuai minat mereka.
Petugas Layanan Perpustakaan Keliling Dispusip Kutim, Haryono mengatakan, pendampingan dilakukan agar siswa tidak hanya mengambil buku secara acak, tetapi juga mengenal bacaan yang sesuai dengan usia serta ketertarikan mereka.
“Buku yang kami bawa cukup beragam. Anak-anak bisa memilih sesuai kesukaan mereka, dan kami membantu mengarahkan supaya bacaan yang dipilih juga sesuai dengan kebutuhan dan usianya,” ujarnya, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, konsep perpustakaan keliling memang dibuat untuk menghilangkan hambatan jarak dalam memperoleh bahan bacaan. Petugas berupaya membawa layanan perpustakaan langsung ke lingkungan sekolah maupun masyarakat.
“Prinsipnya kami ingin mendekatkan buku kepada masyarakat. Jadi masyarakat tidak selalu harus datang ke gedung perpustakaan, tetapi kami yang mendatangi mereka agar akses terhadap ilmu dan bacaan menjadi lebih mudah,” katanya.
Haryono menilai keberadaan perpustakaan keliling menjadi bagian penting dalam membangun budaya membaca. Sebab, penguatan literasi tidak cukup hanya dengan mengajak anak membaca, tetapi juga harus diikuti dengan kemudahan memperoleh bahan bacaan.
“Kalau bahan bacaannya mudah ditemui, anak-anak akan lebih terbiasa membaca. Karena itu kami berusaha hadir di tempat-tempat yang mudah dijangkau, termasuk sekolah dan ruang publik,” tutupnya. (adv)
Editor: Erwin




