KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Masjid Shirathal Mustaqiem yang berdiri sejak kurang lebih 100 ratus tahun silam ialah bangunan bersejarah bagi masyarakat Kota Tepian. Wabah coronavirus disease 2019 (Covid-19) yang tengah melanda Indonesia, tak terkecuali Kaltim, termasuk Kota Samarinda, membuat sejumlah masjid saat bulan Ramadan 1441 Hijriyah sedikit berbeda.
Ramadhan sebelumnya menjelang kumandang adzan ashar, masyarakat disekitar Masjid tertua di Kota Samarinda dan Kaltim ini sudah berada di area masjid sembari salat serta mengaji hingga beduk Maghrib dikumandangkan.
Namun, Rabu (29/4/2020) sore tadi. Masjid yang terletak di Jalan Mas Penghulu, Kelurahan Masjid, Samarinda Seberang itu tampak sepi. Hanya segelintir anak-anak yang bermain di pelataran menanti waktu berbuka puasa.
Tidak ada hiruk pikuk masyarakat memenuhi masjid bermaterial kayu ini. Persiapan-persiapan yang terbiasa dilakukan tiap tahun seperti memasak bubur peca, makanan khas yang biasa dibawa masyarakat dan disediakan.
untuk suguhan menu berbuka di masjid ini juga tak ada. Memang, pada tahun ini, masjid yang menjadi cagar budaya itu tak mengadakan buka puasa bersama. Tentu saja, karena menjalankan imbauan pemerintah memutus mata rantai covid-19.
Korankaltim.com berkesempatan menemui dan berbincang dengan Sofian, Takmir Masjid Shirathal Mustaqiem. Pria 47 tahun itu membenarkan jika rutinitas yang diadakan di Masjid Shirathal Mustaqiem ditiadakan terlebih dahulu. Jangankan salat tarawih, salat lima waktu serta salat Jumat pun saat ini telah ditiadakan.
"Sangat berbeda dari tahun sebelumnya, masjid yang berdiri ratusan tahun ini, barulah kali ini untuk salat tidak bisa di dalam masjid, saya juga tarawih di rumah saja. Ini memang sudah keputusan pengurus masjid," ucap Sofian sore saat ditemui di halaman masjid
"Tentunya kami meminta maaf sebelumnya pada masyarakat Kota Samarinda, tapi kami juga mengikuti imbauan pemerintah sebagai ulil amri, untuk memutus penyebaran covid-19," lanjutnya.
Perbedaan makin terasa ketika tradisi buka bersama dengan bubur peca khas masjid yang resmi menjadi cagar budaya ini sudah ditiadakan sementara waktu.
Masyarakat yang kerap kali saling bahu membahu menyediakan bahan baku bubur peca pun tak lagi berjalan. Bubur peca biasanya disiapkan untuk warga sekitar dan para pengendara yang kerap singgah untuk berbuka puasa.
"Dari tahun ke tahun memanglah ramai, banyak yang datang, jemaah mulai datang ke masjid saat menjelang salat ashar, musafir juga bisa mampir buat makan bubur khas masjid ini," ucap Sofian sambil mengingat-ingat suasana buka bersama tahun sebelumnya sembari tersenyum.
Sofian tak bisa menyembunyikan raut wajah sedihnya mengingat setiap peristiwa yang terjadi ketika Ramadhan di Masjid Tua ini, pria kelahiran Banjarmasin itu seketika berubah ketika mengingat ibadah yang kerap dilaksanakan pada Ramadan sebelumnya.
Matanya berkaca-kaca, sembari berucap, baru Ramadhan tahun ini lah masjid yang berdiri sejak 1881 itu, tanpa adanya jemaah yang hadir melaksanakan salat dan berbuka puasa. Hampir seabad umur masjid ini, tak pernah sepi bahkan ketika Ramadan masyarkat yang menjalankannshalat terawih penuh sesak hingga ke pelataran masjid.
"Sedih jika mengingat itu, ramai sekali ketika bulan penuh berkah ini datang. Namun sekarang jemaah tak ada, saya pun juga salat tarawih di rumah saja," sebut pria yang telah menjadi takmir sejak 2003 itu.
Dengan terbata-bata Sofian bercerita ketika pengeras suara masjid ia nyalakan dan mengumandangkan adzan subuh khususnya pada Bulan Suci Ramadan, jemaah berduyun-duyun ramai datang ke masjid Shirathal Mustaqiem, saat ini lantaran pandemi covid-19 tak ada lagi yang menjalankan salat subuh berjamaah di masjid.
"Teringat saya kumandangkan adzan subuh, jemaah datang ramai, tua-muda, remaja dan anak-anak datang. Keluarga-keluarga muslim hadir untuk melaksanakan sakat subuh berjamaah, sekarang jangankan subuh terawih saja tidak ada. Namun, ini semua demi kebaikan bersama agara covid-19 segera mereda," imbuhnya
Sembari berharap semoga pandemi covid-19 yang terjadi saat ini segera dapat diatasi dengan cepat oleh pemerintah. Sofian pun bertitip pesan, biar pun tak ada lagi dan sementara waktu tak dapat salat di masjid, bukan jadi penghalang untuk mendekatkan diri ke Sang Pencipta serta menghentikan ibadah dan berdoa kepada-Nya. (*)
Penulis : Fairus
Editor Aspian Nur




