KORANKALTIM.COM,TENGGARONG – Dampak pandemi Covid-19 sangat terasa di semua sektor. Kondisi paling berat juga dirasakan oleh pedagang musiman yang biasanya memanfaatkan keberadaan Pasar Ramadan.
Pemerintah Kutai Kartanegara (Kukar) meniadakan Pasar Ramadan karena dinilai dapat meningkatkan resiko penyebaran Covid-19.
Lena (58), salah satu pedagang musiman yang biasa berjualan di Pasar Ramadan Jalan S Parman Tenggarong, mengaku hanya bisa pasrah dengan kondisi ini.
Namun, dirinya tetap berjualan di pinggir jalan, tepatnya di Jalan Kartini Tenggarong.
"Kalau saya nyewa jualan di sini, dekat jembatan kayu. Saya jualan aneka masakan, jualan sayur masak," katanya kepada Korankaltim.com, Kamis (30/4/2020).
Lena mengungkapkan, akibat ditiadakannya pasar Ramadan, banyak rekan-rekannya yang terpaksa tidak berjualan lagi. Sebagian berjualan di depan rumah masing-masing.
"Banyak yang tidak jualan lagi tahun ini, ngondokan maha sida (nganggur saja mereka). Kalau yang tetap jualan, mereka buka lapak di depan rumah sendiri-sendiri, ada juga yang nitip dagangannya ke kawannya," ungkapnya.
Mengacu pada surat edaran Bupati Kukar tanggal 16 Maret 2020, Sekretaris Kabupaten Kukar, Sunggono menegaskan, Pemkab tidak memfasilitasi dan tidak memperbolehkan tempat-tempat untuk Pasar Ramadan.
"Yang jelas kami tidak memfasilitasi, dan tidak memperbolehkan tempat untuk dijadikan Pasar Ramadan, pedagang yang sering jualan di pasar ramadan sudah kita hubungin juga," ujarnya.
Pihaknya menyarankan agar pedagang berjualan di rumah saja dengan memanfaatkan sistem penjualan online. Bahkan, pihaknya akan membantu memfasilitasi pedagang untuk berjualan secara online.
"Kalau jualan di depan rumah kan sama saja bisa mengakibatkan berkumpulnya banyak orang. Di dalam rumah saja dengan menggunakan sistem online. Ini dilakukan semata-mata untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaran virus corona," tegasnya.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: M.Huldi




