KORANKALTIM.COM, JAKARTA – Untuk kali kedua tahun ini, umat muslim di seluruh dunia termasuk Indonesia merasakan bulan suci Ramadan ditengah pandemic Covid-19.
Sebelumnya tahun 2020 lalu, puasa Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1441 Hijriyah dilewati dalam suasana kehati-hatian dan waspada tingkat tinggi karena virus corona masih merajalela, membuat salat tarawih ditiadakan setelah salat wajib di masjid dan musala terlebih dahulu juga dilarang.
Untuk tahun 2021 atau 1442 Hijriyah ini, pemerintah melonggarkan aturan tersebut namun tetap meminta umat muslim memperketat protocol kesehatan saat salat tarawih di musala atau di masjid.
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pun terus mengingatkan hal tersebut.
"Ramadan tahun ini masih dalam situasi pandemi. Segala bentuk aktivitas ibadah selama Ramadan harus tetap menerapkan protokol kesehatan dan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas)," pesan Yaqut dikutip dari website resmi kemenag.go.id
Yaqut menuturkan, kedisiplinan adalah bentuk pengendalian nafsu sebagaimana yang diajarkan oleh spirit Ramadan. "Kedisiplinan dalam penerapan prokes juga menjadi ikhtiar bersama untuk menjaga kesehatan diri, keluarga, dan juga masyarakat. Dengan keberkahan Ramadan, semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu," harapnya.
Sebelumnya, Kemenag sudah telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) nomor 4 tahun 2021 tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442H/2021M. "Panduan ini tidak berlaku bagi mereka yang berada di Zona Oranye dan Zona Merah. Bagi mereka yang berada di zona itu, harap beribadah di rumah saja," ujar jelas Yaqut.
"Sedangkan bagi mereka yang berada di Zona Kuning dan Zona Hijau silakan melaksanakan ibadah tarawih di masjid atau musala tapi tetap dengan menerapkan protokol kesehatan," tegasnya.
Lebih jauh Yaqut menyatakan Ramadan adalah bulan istimewa. Mereka yang mencintai kebaikan diseru untuk bergembira, memanfaatkan berjuta keistimewaan yang ada di dalamnya
"Sebaliknya, mereka yang masih suka berbuat kejahatan dan keburukan, diseru untuk berhenti dan introspeksi diri. Ramadan adalah kesempataan untuk menata diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi," paparnya.
Umat muslim diajak untuk menjadikan bulan suci Ramadan sebagai momentum pendidikan jiwa agar menjadi umat beragama yang memiliki tepo sliro atas berbagai perbedaan dan memuliakan sesama untuk Indonesia yang lebih baik.
“Semoga Allah menerima ibadah puasa, dan mengabulkan segala doa kita," tutupnya.
Editor: Aspian Nur




