Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Citizen Journalism

Teknologi Dalam Pendidikan Olahraga

Irfan Prasetyo
21 Maret 2019
3.8K views
8 min
Ilustrasi (Sumber Gambar: www.tes.com)

Pendidikan  jasmani, olahraga dan kesehatan (PJOK)  dan  olahraga  memiliki kaitan yang  erat  namun  tidak  sama persis. Olahraga merupakan aktifitas fisik yang melibatkan kompetensi atau tantangan terhadap diri sendiri, orang lain atau lingkungan dengan menekankan sebuah kemenangan. Berbeda dengan pengertian olahraga, tertulis di dalam kurikulum bahwa pendidikan jasmani adalah perkembangan menyeluruh anak, menekankan pengembangan pribadi dan sosial, pertumbuhan fisik, dan perkembangan motorik. Penetapan tujuan dalam kurikulum berfokus pada perbaikan individu dan bukan menang atau menjadi yang terbaik (Curriculum Physical Education Ireland, 1999:6). Dari pernyataan tersebut, disarikan bahwa pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang mengembangkan seluruh aspek yang ada pada diri seseorang sehingga tidak hanya terbatas dari aspek perkembangan fisik saja. 

Kurikulum Physical Education (PE) menawarkan kegiatan fisik yang beragam  untuk memenuhi kepentingan pribadi siswa dan oleh karena itu, dapat menjadi tantangan bagi guru untuk menumbuhkan motivasi besar kepada semua siswa (Kersey dan Spray, 2015:108). Diringkaskan bahwa, tujuan pembelajaran pendidikan jasmani itu harus mencakup  tujuan  dalam  domain  pisikomotorik,  kognitif,  dan  afektif. Dalam pendidikan jasmani dan kesehatan guru memberikan kesempatan dan kebebasan kepada  peserta  didik  untuk  mengembangkan  motorik  kasar  ataupun motorik halus melalui berbagai kegiatan baik itu melalui permaian dan melalui media sebagai alat penunjang aktifitas (Rosdiani, 2013:34). 

Guru dalam proses belajar mengajar membutuhkan bahan ajar sebagai alat untuk mengajar di depan kelas pada saat pembelajaran berlangsung, yang mana bahan ajar dapat berupa apa saja baik itu berbentuk cetak maupun noncetak. Dalam Departemen Pendidikan Nasional (2006:1) menyatakan bahwa pembelajaran dan buku pelajaran merupakan dua hal yang saling melengkapi. Pembelajaran akan berlangsung secara efektif bila dilengkapi dengan media pembelajaran yang relatif penting, yaitu buku pelajaran. Buku pelajaran dapat disusun serta digunakan dengan baik jika memperhatikan prinsip-prinsip dalam pembelajaran. Pembelajaran menyangkut masalah siswa, guru, materi bahan ajar, cara penyajian bahan ajar, dan latihan. Komponen tersebut harus tercermin di dalam buku pelajaran. Dari pernyataan ini, dipahami bahwa dalam proses pembelajaran yang efektif diperlukan buku pelajaran sebagai pedoman. Ada dua faktor yang harus diperhatikan, yaitu materi bahan ajar dan cara penyajian. 

Bahan ajar dapat diperoleh dengan berbagai macam cara sehingga tidak hanya terfokus pada satu sumber saja yaitu buku. Pada abad ke-21 ini, buku dirasa masih dominan digunakan oleh pengajar sebagai satu-satunya bahan dalam menyampaikan materi, padahal di era ini, teknologi seharusnya dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut mengingat teknologi ikut serta dalam perkembangan pendidikan saat ini seperti dikatakan Seydakhmetov dkk (2015:110), bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan yang modern memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir dan mempersiapkan diri mereka ke masa yang akan datang. Teknologi dalam pendidikan modern juga memberikan kesempatan kepada siswa dan guru memperoleh sesuatu yang lebih inovatif. 

Pendidikan kini sudah berada di zaman modern, semua orang bisa mendapatkan informasi baik berupa ilmu pengetahuan, berita dan lain-lain secara cepat dan transparan. Namun pada dasarnya semua itu tergantung bagaimana diri  kita  (pengguna)  berinisiatif  untuk  mencapainya,  karena  pengetahuan  saat  ini sudah tersebar dimana-mana. Di era digitalisasi saat ini, pemanfaatan teknologi dirasa sangat perlu dalam pendidikan terlebih lagi dalam pembelajaran PJOK, kita ketahui bahwa dalam PJOK ada beberapa pengetahuan yang tidak dapat dijangkau dengan kasat mata seperti detak jantung ketika melakukan lari, bagimana reaksi otot ketika melakukan gerakan-gerakan dan lain-lain, seingga pemanfaatan teknologi dirasa dapat membantu dalam memperoleh pengetahuan yang lebih dalam dan luas, menurut Amin (2013:9) pengembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan akan memiliki dampak yang sangat besar pada proses belajar mengajar,  kualitas,  aksibilitas  pendidikan,  motivasi  belajar,  lingkungan, penggunannya dan kinerja dalam belajar. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pendidikan memiliki dampak positif pada hasil pembelajaran. Juga dikatakan Higon (2011:696) “aplikasi TIK tidak hanya memiliki dampak tertentu dilihat dari aktivitasnya tetapi mungkin memberikan kebutuhan yang berbeda dalam hal sumber daya”.

Banyak  faktor  yang  dapat  dihasilkan dari  pemanfaatan  teknologi  dalam proses belajar mengajar salah satunya seperti dikatakan Fisher dkk (2010:311) bahwa “melalui penggunaan program komputer dalam pendidikan saat ini membuat menjadi professional dan efektif mengembangkan praktik pembelajaran yang inovatif tersedia  dalam skala luas di dalam sebuah format dan guru dapat dengan mudah untuk mengaksesnya”. Kemudian penggunaan teknologi untuk siswa dikatakan Stosic (2015:111), bahwa “dengan aplikasi dalam teknologi  pendidikan  siswa  memiliki  kemajuan  dalam  menguasai  bahan  ajar, memiliki kecepatan kerja dan dapat mengulang materi  yang kurang jelas dengan mandiri”. Secara keseluruhan dampak memanfaatkan teknologi sangat besar seperti dikatakan Darmawan (2011:54) berkembangnya ilmu dan teknologi membawa perubahan pula pada bahan ajar, yang mana sebelum berkembangnya teknologi  dalam  dunia  pendidikan  dalam  pengajaran  masih  menggunakan  bahan tercetak. Produk TI saat ini memberikan alternatif  berupa bahan ajar yang dapat diakses peserta didik yang tidak dalam bentuk kertas, tetapi berbentuk CD, DVD, Flashdisk, dan lain-lain. Inti dari bahan tersebut berupa program/software yang dapat dimanfaatkan dengan sekedar mengambil data, membaca, mengunduh sampai berinteraksi antarprogram yang bisa dilakukan oleh siswa dan guru dalam memanfaatkan komputer. Dari pernyataan tersebut, dapat dirangkum bahwa dengan hadirnya teknologi dalam pendidikan, akan mempengaruhi  pendidikan  itu  sendiri. 

Guru PJOK  dalam  proses belajar mengajar, semestinya dapat memberikan alternatif menggunakan perangkat atau program untuk diberikan dan digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran, dikatakan alternatif karena PJOK bukan hanya sebatas mengasah kognitif siswa nya saja tetapi perlu peraktik langsung di lapangan sebagai proses pengembangan dalam aspek pisikomotor siswa nya juga. Hal tersebut senada dikatakan Mullamaa (2010:38), dengan memanfaatkan teknologi mendorong siswa untuk melakukan pekerjaannya yang lebih efektif/mengeluarkan potensi yang terbaik dari diri siswa serta hal tersebut dapat meningkatkan motivasi siswa.

Guru semestinya menyadari bahwa teknologi itu merupakan alat yang dapat membantu dalam proses pembelajaran, dapat membantu dalam perkembangan pengetahuan dan berbagai hal. Hal ini sesuai dengan pendapat Costley (2014:9)  bahwa integrasi teknologi menjadi lebih umum di sekolah negeri dan swasta. Integrasi teknologi terbukti efektif dalam semua kelompok usia dan juga terbukti membantu bagi siswa dengan kebutuhan belajar khusus. integrasi teknologi memiliki tujuh keuntungan, yaitu: 1) meningkatkan motivasi belajar siswa, 2) meningkatkan keterlibatan siswa, 3) meningkatkan kerjasama siswa, 4) meningkatkan kesempatan belajar, 5) memungkinkan untuk belajar di semua tingkatan, 6) meningkatkan kepercayaan diri pada siswa, dan 7) meningkatkan keterampilan teknologi.

Guru  juga  harusnya  memperhatikan  karakteristik siswa dalam hal gaya belajarnya disetiap proses pembelajaran yang berlangsung, yang mana hal tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana informasi yang tepat diberikan kepada siswa agar  dapat  membantu  mereka dalam  pemahaman  yang  lebih  baik sebagai upaya dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Mengenai pengaruh tersampaikannya informasi secara jelas dan dapat diterima, menurut Marcus (1977:112), “setiap guru harus menyadari gaya belajar siswanya untuk merencanakan strategi mengajar secara efektif”. Menurut Pashaler, dkk. (2009:106), “istilah gaya mengajar adalah mengacu pada orang yang berbeda memahami informasi dengan cara yang berbeda”. Kemudian Cassidy (2004:420) menyatakan, “bahwa pendidikan di segala bidang semakin sadar akan pentingnya memahami gaya belajar setiap individu”. Dengan perbedaan karakteristik setiap individu dan banyaknya budaya yang ada di Indonesia, tentu setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. 

Budaya dan pendidikan kadang menjadi tumpang tindih, sehingga perlunya mempertimbangkan atau merancang metode dan konten untuk  peserta  didik  yang  memiliki  gaya  belajar  yang  berbeda-beda (Hyland, 1993:69). Selain  itu, menurut Rolfe (2012:176), gaya belajar dapat dilihat sebagai karakteristik pembelajar,  yang mana gaya belajar mempengaruhi dimana orang  yang belajar. Berdasarkan pernyataan terkait gaya belajar, maka peneliti menyimpulkan, pengajar perlu memperhatikan gaya belajar peserta didik sebagai awal sebelum memberikan pembelajaran agar tercapainya pembelajaran atau hasil belajar yang diinginkan serta menyadari apa yang tepat untuk diberikan pada lingkungan tersebut.

Guru perlu memperhatikan gaya belajar  siswanya dengan secara tidak langsung mendukung untuk perlunya guru menguasai gaya belajar agar dapat memberikan informasi kepada seluruh siswanya dengan tujuan apa yang disampaikan dapat dipahami tanpa keterbatasan. Selain itu, beberapa gaya belajar VAK, yaitu gaya belajar melalui visual, audio, atau kinestetik semestinya menjadi pengetahuan yang sudah dimiliki oleh pengajar, Maksudnya, pengajar mengetahui bagaimana cara mengajar untuk setiap masing-masing gaya mengajar VAK tersebut dengan harapan agar informasi yang disampaikan dapat diterima dan dipahami oleh peserta didik. Kemudian di luar dari gaya belajar, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Gilakjani dan Ahmadi (2011:470), dalam proses belajar ada lima faktor yang mempengaruhi siswa, yaitu keadaan di sekitar belajar, motivasi, ketekunan, teman, dan kebutuhan lainnya. Dari pernyataan tersebut, peneliti menyimpulkan, ketika situasi dalam proses pembelajaran menarik atau hal lainnya positif, maka akan mempengaruhi si pebelajar tersebut. Sehingga pendidik perlu dalam menciptaknya lingkungan belajar yang baik untuk menciptakan hasil yang baik pula, senada dengan itu dikatakan Hariadi (2017:601) bahwa lingkungan yang baik akan dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. 

Penggunaan teknologi pada pendidkan juga dapat memberikan pengaruh lain. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Salameh dan Khawaldeh (2014:147), bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran memberikan tanggung jawab yang baru di mana pelajar menjadi lebih aktif dalam mencari tahu, serta instrukturnya berperan sebagai perancang dalam lingkungan pendidikan dengan gaya yang lebih modern dalam mengembangkan kemampuan siswanya dan mendorong siswa untuk dapat memecahkan masalah melalui internet. Senada dengan hal tersebut, menurut Zaman (1993:143), teknologi informasi, contohnya penggunaan peralatan seperti komputer, perekam video, dan pemutar audio dalam  menyimpan, mengambil  dan  menyebarkan informasi. Sebagai  komunikasi yang tersistem dalam memanipulasi dan mentransfer informasi untuk tujuan pengendalian  dan  penanganan  mesin,  memiliki  keunggulan  dibandingkan  metode informasi tradisional. Di bidang pendidikan (baik dalam belajar dan  mengajar atau di pendidikan guru), penggunaan informasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses   belajar   dan   mengajar.   Demikian,   teknologi  informasi   tidak   hanya diperkenalkan dan digunakan dalam proses belajar dan mengajar, tetapi juga harus menjadi subjek baru dalam kurikulum pendidikan guru.

Tags:

Citizen JournalismBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Irfan Prasetyo

6

Penulis di kategori Citizen Journalism.