Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Ekonomi

Pedagang Usul Pasar Basah Dipusatkan di Belakang TAS, PKL Pinggir Jalan Diminta Ditertibkan

Koran Kaltim
19 Juli 2026
0 views
3 min
Lapak Tangga Arung Square, Kecamatan Tenggarong. (Foto: Muhammad Anshori/Korankaltim.com)

Penulis: Muhammad Anshori

KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Penataan kawasan Pasar Basah Tenggarong kembali menjadi sorotan. Pedagang dan pembeli mengusulkan pemanfaatan lahan kosong di belakang Tangga Arung Square (TAS) sebagai pusat pasar basah, disertai penertiban pedagang kaki lima (PKL) di pinggir jalan.

Seorang pedagang ikan, Angga (34), menilai area parkir yang luas di belakang TAS memiliki potensi besar untuk dijadikan zonasi khusus pasar basah. Menurutnya, langkah tersebut dapat membuat tata kawasan pasar lebih rapi dan terstruktur.

“Untuk saran saja, di bagian belakang TAS itu kan ada parkiran luas. Bagus sekali kalau dibangun pasar basah, tapi dibuat agak tertutup dengan dinding pembatas supaya dari luar tetap terlihat rapi dan tidak kumuh,” ujar Angga, Minggu (19/7/2026).

Ia mengungkapkan, kondisi pasar yang dinilai belum tertata turut berdampak pada sepinya pembeli yang dirasakan hampir seluruh pedagang. Karena itu, penataan yang terpusat diyakini dapat meningkatkan kembali aktivitas jual beli.

Menurut Angga, pemusatan pasar basah di satu area juga akan memberikan efek berantai bagi lapak lainnya. Pembeli yang datang untuk kebutuhan pokok berpotensi mengalir ke sektor lain, seperti kuliner di lantai atas hingga toko pakaian dan konter telepon seluler.

“Kalau pasar basah terpusat di dalam, efek dominonya akan menghidupkan lapak-lapak lain. Pembeli yang datang untuk berbelanja kebutuhan pokok otomatis akan mengalir ke area lain, seperti lantai atas untuk kuliner, atau toko pakaian dan konter handphone,” ucapnya.

Di sisi lain, para pedagang yang saat ini berjualan di pinggir jalan menyatakan sikap kooperatif terhadap rencana relokasi, asalkan penertiban dilakukan secara menyeluruh dan adil tanpa tebang pilih. 

“Kami siap masuk ke dalam, asalkan bagian luar benar-benar bersih. Kalau semua dipusatkan di satu tempat, kami jamin pasar akan ramai. Pembeli juga tidak akan bingung mencari tempat belanjaan yang terpencar-pencar,” tambahnya.

Angga mengungkapkan, dari beberapa sudut pandang konsumen, keberadaan pasar basah yang terpusat di dalam area gedung jauh lebih aman dan nyaman ketimbang bertransaksi di bahu jalan yang rawan memicu kemacetan.

Selain masalah zonasi, tata kelola kebersihan menjadi poin krusial yang disoroti. 

“Kalau memang ada pembangunan area tambahan nantinya wajib dilengkapi dengan sistem drainase atau saluran pembuangan air yang modern agar tak menimbulkan kesan jorok dan bau, meniru konsep pasar basah modern yang sukses diterapkan di luar negeri,” ucapnya.

Namun, Angga juga mengakui infrastruktur yang bagus tidak akan bertahan lama tanpa adanya kedisiplinan dan pengawasan ketat. Budaya membuang sampah sembarangan dan kebiasaan pedagang yang kerap memajang barang melebihi batas lapak menjadi tantangan utama.

“Aturan itu harus dibuat dan diawasi secara ketat oleh pengawas. Aturan dasar seperti larangan membuang sampah sembarangan dan batasan lapak harus ditegakkan. Seketat apa pun aturannya, kalau tidak ada pengawasan konstan di lapangan, pasti akan tetap dilanggar,” pungkasnya.

Di akhir, ia berharap pemerintah daerah dapat mendengar masukan ini dalam menyusun anggaran penataan pasar ke depan, demi mewujudkan pasar tradisional yang bersih, ramai, dan nyaman bagi semua pihak.

Editor: Erwin

Tags:

EkonomiBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Ekonomi.