KORANKALTIM.COM - Roblox, satu dari beberapa platform permainan daring paling populer dikalangan anak dibawah umur mengumumkan kebijakan baru yang akan mencegah anak-anak dan remaja berkomunikasi dengan orang dewasa yang tidak dikenal.
Tindakan tersebut yang akan diterapkan pertama kali di Australia, Selandia Baru dan Belanda mulai bulan depan dan kemudian diseluruh dunia pada awal Januari 2026 mendatang, menanggapi tuntutan hukum baru-baru ini yang menuduh perusahaan tersebut memfasilitasi kontak antara anak dibawah umur dan pelaku kekerasan seksual.
Sistem kontrol akan menggunakan verifikasi usia dengan pengenalan wajah yang bertujuan untuk meningkatkan keamanan anak dan mengurangi pelecehan. Kebijakan baru ini akan membatasi pengguna dibawah umur untuk mengobrol hanya dengan pemain seusia mereka atau yang usianya hampir sama.
Secara keseluruhan, platform ini akan membagi pengguna ke dalam enam kategori, masing-masing dibawah sembilan tahun, sembilan hingga dua belas tahun, tiga belas hingga lima belas tahun, enam belas hingga tujuh belas tahun, delapan belas hingga dua puluh tahun dan dua puluh satu tahun ke atas. Misalnya, pengguna berusia dua belas tahun hanya dapat berkomunikasi dengan pengguna di bawah enam belas tahun.
Roblox mengklarifikasi gambar dan video yang digunakan untuk verifikasi wajah tidak akan disimpan dan menyoroti ini adalah pertama kalinya platform game memerlukan verifikasi usia untuk memungkinkan interaksi antar pengguna.
Matt Kaufman, direktur keamanan Roblox menjelaskan tujuannya adalah untuk memperkuat kepercayaan pengguna terhadap platform. "Kami melihat ini sebagai cara bagi pengguna kami untuk lebih percaya diri terhadap orang-orang yang berinteraksi dengan mereka dalam permainan ini. Kami menganggapnya sebagai peluang nyata untuk membangun kepercayaan pada platform dan di antara para pengguna kami," kata Kaufman melansir dari laman Guardian Rabu (19/11/2025) hari ini.
Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya tekanan hukum terhadap Roblox Corporation yang menghadapi tuntutan hukum di Amerika Serikat atas dugaan predasi sistematis terhadap anak dibawah umur.
Matt Dolman, seorang pengacara di Florida, menyatakan tuduhan utama terkait dengan predasi sistematis terhadap anak dibawah umur.
Kasus terbaru yang diajukan di Nevada, Amerika Serikat, melibatkan seorang gadis berusia 13 tahun yang keluarganya menuduh Roblox mengelola bisnis mereka dengan cara yang ceroboh dan menipu.
Gadis itu menurut keluarganya dihubungi oleh orang dewasa yang menyamar sebagai anak-anak yang memanipulasinya untuk menyerahkan ponselnya dan kemudian memaksanya mengirimkan gambar dan video eksplisit seksual.
Keluarga berargumen jika kontrol verifikasi usia dan identitas diberlakukan, anak dibawah umur tersebut tidak akan terpapar begitu banyak predator atau mengalami begitu banyak kerugian.
Menanggapi tuduhan ini, Kaufman menyebut mereka sangat prihatin dengan insiden apa pun yang membahayakan pengguna. “Kami mengutamakan keselamatan komunitas kami. Itulah sebabnya kebijakan kami sengaja dibuat lebih ketat daripada banyak platform lain," ucapnya.
“Kami membatasi obrolan untuk pengguna yang lebih muda, tidak mengizinkan berbagi gambar antarpengguna, dan menerapkan filter yang dirancang untuk memblokir pembagian informasi pribadi,” imbuhnya.
Mereka menyadari tidak ada sistem yang sempurna, berupaya meningkatkan perangkat mereka, dan telah meluncurkan 145 inisiatif baru tahun lalu.
Para ahli dan organisasi perlindungan anak bereaksi dengan beragam. "Sudah saatnya perusahaan gim video menempatkan tanggung jawab mereka terhadap anak-anak di inti layanan mereka,” kata Beeban Kidron pendiri 5Rights Foundation.
Editor: Aspian Nur




