KORANKALTIM.COM - Sebuah temuan ilmiah menunjukkan kalau belajar bermain musik dapat meningkatkan fungsi otak pada orang dewasa di atas 60 tahun.
Dalam jurnal yang diterbitkan Royal Society Open Science Kamis (18/12/2025) hari ini, dari Universitas Sheffield bekerja sama dengan Universitas Western Sydney, selama 12 bulan, para peneliti yang dipimpin oleh Dr Jennifer MacRitchie menganalisis individu yang tidak memiliki pengalaman sebelumnya dalam memainkan alat musik.
Tujuan utama mereka adalah untuk mengukur bagaimana metode pengajaran musik yang berbeda memengaruhi memori, perhatian dan ketajaman mental pada orang dewasa lanjut usia.
Pembelajaran musik, baik melalui improvisasi maupun replikasi melodi, menghasilkan peningkatan fungsi otak yang dapat diamati. “Studi kami menambah bukti kalau belajar memainkan alat musik di usia lanjut bahkan tanpa pengalaman sebelumnya dapat meningkatkan fungsi otak,” kata MacRitchie dalam jurnal tersebut.
Tim peneliti membandingkan dua metode pembelajaran yaitu improvisasi musik, yang mendorong kreativitas dan spontanitas dan meniru melodi dengan mengikuti model atau partitur. Kedua metode tersebut terbukti bermanfaat, tetapi improvisasi menunjukkan dampak yang lebih besar pada fungsi kognitif dan pengembangan keterampilan motorik terkait.
“Kami telah mengamati hubungan langsung antara kemajuan dalam keterampilan musik dan peningkatan kemampuan kognitif secara keseluruhan,” kata para peneliti.
Fakta improvisasi tidak memerlukan hafalan rangkaian panjang atau mengandalkan pengulangan memungkinkan banyak orang dewasa yang lebih tua untuk berpartisipasi dalam latihan musik tanpa takut lupa, yang menumbuhkan motivasi dan kesejahteraan.
Penelitian ini juga mengevaluasi efektivitas berbagai alat untuk pembelajaran musik. Beberapa peserta berlatih dengan piano sungguhan sementara yang lain menggunakan aplikasi digital. Tidak ditemukan perbedaan dalam manfaat kognitif yang dicapai antara kedua metode tersebut.
Temuan ini mendobrak hambatan teknologi dan mempromosikan akses ke musik bagi orang dewasa yang lebih tua, bahkan mereka yang tidak memiliki instrumen tradisional.
Studi tersebut menunjukkan dampak yang terbukti terletak pada metodologi pengajaran dan bukan pada jenis instrumen yang digunakan.
Hubungan antara musik dan kesejahteraan kognitif telah dipelajari sebelumnya, terutama terkait dengan apa yang disebut efek pesta koktail (kemampuan untuk mengikuti percakapan di lingkungan yang bising) dan koordinasi motorik. Namun penelitian yang dipimpin oleh MacRitchie menandai titik balik dengan menunjukkan orang dewasa tanpa latar belakang musik dapat mengalami peningkatan yang terukur setelah satu tahun berlatih secara teratur.
“Kami mengamati kemajuan dalam pembelajaran musik tercermin dalam bidang berpikir dan memori lainnya ,” kata MacRitchie. Temuan ini memberikan dasar bagi lembaga, pusat penitipan anak dan profesional perawatan kesehatan untuk memasukkan musik sebagai sumber daya prioritas dalam program penuaan aktif.
Tim dari Universitas Sheffield merekomendasikan perancangan ulang program pendidikan musik untuk orang dewasa yang lebih tua, dengan memprioritaskan kreativitas, improvisasi, dan akses ke perangkat digital. “Perbedaan signifikan terletak pada metodologi yang diterapkan, bukan pada jenis instrumen yang digunakan,” paparnya.
Bukti ilmiah memperkuat gagasan tidak pernah terlambat untuk belajar. Musik dan khususnya kemungkinan improvisasimerupakan alat yang efektif dan mudah diakses untuk memperkuat otak dan meningkatkan kualitas hidup .
“Pelatihan musik sebagai intervensi kognitif seumur hidup telah mendapat perhatian beragam akhir-akhir ini, dengan bukti korelasional yang menunjukkan bahwa ada keuntungan bagi para musisi saat mereka mencapai usia dewasa yang lebih tua, khususnya untuk berbicara dalam kondisi bising dan manfaat kognitif secara umum,” tutupnya.
Editor: Aspian Nur




