KORANKALTIM.COM - Kehidupan modern menuntut perhatian terus-menerus pada berbagai tugas, Keputusan dan tanggung jawab, baik di tempat kerja maupun di rumah. Kecepatan ini menghasilkan kelelahan tak terlihat yang melampaui sekadar kelelahan fisik.
Beban mental ini berdampak pada kesejahteraan sehari-hari dan dapat bermanifestasi sebagai iritabilitas, insomnia atau kurang energi bahkan ketika tidak ada penyebab yang jelas.
Mengatur jadwal keluarga, mengantisipasi kebutuhan, mengingat tanggal, menyelesaikan masalah tak terduga, memutuskan setiap detail hari itu dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain, semuanya merupakan bagian dari upaya mental yang seringkali tidak disadari.
Namun, dampaknya terakumulasi dan memengaruhi kesehatan fisik dan emosional, bahkan kualitas hubungan pribadi .
Memahami fenomena ini adalah kunci untuk mengidentifikasi tanda-tandanya, mencegah kelelahan, dan menemukan strategi untuk mengembalikan keseimbangan antara pikiran dan tubuh.
Melupakan sumber kelelahan dapat meninggalkan bekas yang tak terduga pada suasana hati dan kehidupan sehari-hari.
Merasa lelah tanpa alasan yang jelas, bertengkar dengan pasangan tanpa alasan yang nyata atau bahkan ragu-ragu untuk makan malam apa adalah tanda-tanda kelelahan mental yang sering terjadi.
Akumulasi tugas dan pikiran ini memengaruhi kesehatan fisik dan emosional menurut Amy Brodsky, seorang psikoterapis yang berspesialisasi dalam kesehatan mental dan bagian dari tim Cleveland Clinic.
Menurut Brodsky, beban mental adalah akumulasi pikiran, pengingat dan keputusan yang memenuhi pikiran setiap hari.
Beban mental tidak terbatas pada tindakan fisik seperti membersihkan; tetapi juga mencakup pekerjaan tak terlihat berupa mengantisipasi dan mengatur kebutuhan diri sendiri dan orang lain. “Beban mental adalah jumlah dari semua keputusan, besar dan kecil, yang harus kita pertimbangkan,” Brodsky.
Tidak seperti tekanan fisik, tekanan mental menuntut upaya yang konstan dan teliti. Merencanakan detail, mengantisipasi kebutuhan dan membuat keputusan sehari-hari ditambahkan ke pekerjaan dan pemeliharaan rumah tangga, menghasilkan kelelahan yang memengaruhi semua orang, tetapi lebih terasa pada mereka yang mengalami situasi stres atau kurang mendapat dukungan.
Brodsky menyebut mereka yang merawat orang lain, menghadapi kehilangan, kesulitan keuangan atau menderita kecemasan dan depresi seringkali menanggung beban mental yang lebih besar.
Kurangnya jaringan dukungan meningkatkan upaya harian yang dibutuhkan untuk mengatur dan memprioritaskan.
Satu diantara efek yang paling jelas adalah kelelahan pengambilan keputusan. Orang dewasa membuat ribuan keputusan setiap hari yang pada akhirnya menyebabkan kelelahan. “Pada akhirnya seseorang mungkin mengembangkan keinginan kuat agar orang lain membuat keputusan untuk dia karena kelelahan ,” jelas Brodsky.
Kelelahan mental ini dapat bermanifestasi sebagai perubahan suasana hati, kritik diri yang intens dan kurangnya rasa welas asih.
Lebih jauh lagi, stres yang menumpuk dapat menyebabkan ketegangan otot, insomnia dan melanggengkan siklus kelelahan fisik dan mental. Hubungan pribadi juga terpengaruh, karena beban berlebihan ini menghambat empati dan dapat menimbulkan pertengkaran atau keterputusan emosional.
Menghadapi skenario ini, satu diantara strategi mengatasinya adalah dengan menuliskan tugas-tugas yang tertunda dalam daftar, perencana atau aplikasi, karena ini dapat memberikan kelegaan dan rasa kendali.
Jika melihat daftar tersebut terasa terlalu berat, disarankan untuk menggunakan pengingat di ponsel Anda atau metode yang lebih sederhana.
Mendelegasikan tanggung jawab kepada pasangan, keluarga, kolega, atau teman, serta menegosiasikan tenggat waktu atau mencari bantuan eksternal, memungkinkan Anda untuk berbagi beban ketika beban kerja terlalu tinggi. “Terkadang, beban mental terasa berat karena terlalu banyak yang harus dikelola ,” kata pakar tersebut.
Selain itu, disarankan juga untuk mengurangi jumlah keputusan harian dengan mengotomatiskan rutinitas, merencanakan menu atau pembayaran, dan menyederhanakan aktivitas. Mengidentifikasi area yang paling menyebabkan kelelahan dan berfokus pada pengurangannya membantu mengurangi kelelahan kerja (burnout).
Editor: Aspian Nur




