KORANKALTIM.COM - Di era kecerdasan buatan saat ini, keamanan pusat data telah mengalami perubahan yang tak terduga. Tak lagi memerlukan tenaga manusia, robot berkaki empat berpatroli dikoridor dan perimeter infrastruktur penting ini.
Perusahaan-perusahaan seperti Meta, Amazon, Microsoft dan Google telah mengalokasikan sebagian dari lebih dari $670 Miliar, setara dengan sekitar Rp11,39 Kuadriliun, yang diinvestasikan pada tahun 2024 untuk pembelian anjing robot, sebuah keputusan yang mencerminkan baik ledakan teknologi maupun kebutuhan untuk melindungi aset bernilai jutaan dolar dan memastikan pengoperasian fasilitas-fasilitas tersebut tanpa gangguan.
Robot anjing , seperti Spot buatan Boston Dynamics atau Vision 60 buatan Ghost Robotics, telah berubah dari sekadar barang aneh di industri menjadi komponen kunci keamanan pusat data.
Peran mereka jauh melampaui sekadar bertindak sebagai kamera pengawasan bergerak.
Melansir dari Business Insider Senin (23/3/2026) hari ini, robot-robot itu berpatroli diperimeter luar, menjelajahi ruang server dan pendingin untuk mendeteksi anomali seperti kebocoran air, titik panas, atau penumpukan kelembapan, dan menggunakan sensor gas serta mikrofon untuk menganalisis lingkungan.
Selain itu, mereka dapat menangkap data visual dari pengukur tekanan dan indikator analog lainnya, serta terus-menerus memetakan lingkungan sekitar dengan teknologi Light Detection and Ranging atau LiDAR, teknologi penginderaan jauh aktif yang menggunakan pulsa sinar laser untuk mengukur jarak dan membuat model tiga dimensi.
Penerapan robot-robot ini di pusat-pusat seperti Novva Data Centers di Utah dan Oracle Industry Lab di Chicago didorong oleh efisiensi dan penghematan biaya jangka panjang.
Biaya pengadaan robot anjing antara $165.000 dan $300.000, setara dengan Rp2,804 Miliar hingga Rp5,098 Miliar, yang dapat dikembalikan dalam waktu sekitar 18 bulan, dibandingkan dengan biaya tahunan sebesar $300.000 untuk dua petugas keamanan manusia penuh waktu, menurut sumber di Ghost Robotics.
Selain itu, anjing robot ini dapat beroperasi dalam kondisi ekstrem, tidak memerlukan istirahat dan dilengkapi dengan antarmuka percakapan berbasis Artificial Intelligent (AI) atau Kecerdasan Buatan, untuk berinteraksi dengan teknisi dan pengunjung.
Mengerahkan robot anjing bukanlah tanpa tantangan. Perangkat ini membutuhkan stasiun pengisian daya, penggantian baterai dan lingkungan yang terstruktur dengan baik untuk memaksimalkan efisiensinya.
Meskipun mereka dapat menaiki tangga dan melewati rintangan, kinerja mereka dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu, dan perencanaan yang cermat diperlukan untuk mengintegrasikan sensor tetap dan rute patroli.
Pasar robot anjing dan drone industri sedang berkembang pesat, dengan sekitar 500 ribu unit yang digunakan dan diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun 2030, menghasilkan pendapatan triliunan rupiah.
Namun kehadiran robotika dalam bidang keamanan kembali membuka perdebatan tentang penggantian tenaga kerja manusia. Seperti yang dikemukakan Michael Subhan dari Ghost Robotics, “robot jelas tidak sakit atau mengambil cuti,” tetapi saat ini robot dipandang sebagai pelengkap bagi petugas keamanan manusia, bukan sebagai pengganti sepenuhnya, karena keputusan-keputusan penting tetap berada di tangan operator di ruang kendali. Pernyataan ini dilaporkan oleh media yang disebutkan di atas.
Tren ini juga terlihat di industri lain, dan perusahaan seperti Samsung sudah berencana untuk mengotomatisasi seluruh pabrik dengan robot humanoid yang dikendalikan AI . Di pusat data, robot anjing bertindak sebagai sensor bergerak, terbukti sangat berguna baik di lingkungan luar ruangan yang panas maupun di koridor dalam ruangan yang dingin tempat data dunia digital disimpan.
Robot humanoid adalah mesin yang dirancang untuk meniru bentuk dan gerakan tubuh manusia. Biasanya, robot ini memiliki struktur yang mencakup kepala, badan, lengan, dan kaki yang dapat digerakkan, sehingga memungkinkan robot untuk berinteraksi dengan objek dan bergerak di lingkungan yang dirancang untuk manusia.
Kesamaan fisik ini memudahkan robot humanoid untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh manusia , seperti menangani peralatan, membantu aktivitas sehari-hari, atau membantu dalam situasi darurat.
Selain penampilannya, robot humanoid menggabungkan sistem sensor canggih, motor, dan algoritma kecerdasan buatan yang memungkinkan mereka untuk memahami lingkungan sekitar, mengambil keputusan, dan beradaptasi dengan situasi yang berubah.
Berkat perkembangan ini, mereka dapat melakukan tugas-tugas kompleks, belajar dari pengalaman, dan berkolaborasi dengan manusia di berbagai bidang seperti industri, pendidikan, kesehatan, atau hiburan, yang menandai langkah penting menuju koeksistensi antara manusia dan mesin.
Editor: Aspian Nur




