KORANKALTIM.COM - Konsumsi cokelat beberapa jam sebelum tidur saat ini memicu perdebatan sengit di kalangan pakar gizi dan tidur.
Beberapa peneliti sepakat baik cokelat hitam maupun cokelat susu mengandung kafein dan teobromin, dua senyawa yang bisa menjadi stimulan dan mengganggu proses tertidur atau menurunkan kualitas tidur.
Situs teknologi dan konsumen Amerika Serikat Tom’s Guide menjelaskan, kandungan kafein dalam cokelat bervariasi tergantung pada jenis dan jumlah kakao, dengan kadar yang lebih tinggi pada varian gelap. Bahkan dosis kecil pun dapat memengaruhi pola tidur pada orang yang sensitif.
Disisi lain, cokelat putih, yang tidak mengandung kakao padat, tidak mengandung kafein dan menurut para ahli, dampaknya terhadap tidur hampir tidak ada. Tom’s Guide memperingatkan tentang kemungkinan efek negatif dari konsumsi kakao sebelum tidur.
Melansir dari laman The Independent Selasa (7/4/2026), para ahli kedokteran tidur menyarankan untuk menghindari cokelat di malam hari. Rekomendasi ini sangat relevan bagi mereka yang menderita insomnia atau gangguan tidur, dengan tujuan meminimalkan risiko dan memudahkan istirahat. Selain kafein, teobromin yang terkandung dalam kakao dapat meningkatkan detak jantung dan mendorong terjaga.
Studi-studi yang diulas menekankan efek ini dapat bervariasi tergantung pada sensitivitas individu dan jumlah yang dikonsumsi. Sebuah studi yang diterbitkan di platform ilmiah PubMed Central meneliti efek teobromin dan kafein yang keduanya terdapat dalam cokelat, terhadap parameter fisiologis dan kualitas tidur pada orang dewasa yang sehat.
Hasilnya, meskipun kafein bertindak sebagai stimulan dan dapat memengaruhi awal serta kualitas tidur, teobromin dalam dosis tinggi juga berkontribusi meningkatkan detak jantung dan mengurangi rasa waspada keesokan harinya, terutama pada orang yang sensitif.
Bagi mereka yang ingin meningkatkan kualitas tidur, para ahli menyarankan untuk memperhatikan tidak hanya cokelat, tetapi juga makanan dan minuman lain yang mengandung stimulan yang dikonsumsi pada malam hari. Konsumsi berulang produk berkafein dapat mengganggu siklus tidur normal dan memengaruhi istirahat.
Namun terdapat kesepakatan mengonsumsi cokelat sesekali dan dalam jumlah kecil tidak menimbulkan masalah serius pada kebanyakan orang. Para ahli menyarankan untuk mengevaluasi respons individu terhadap setiap makanan dan menyesuaikan kebiasaan malam hari berdasarkan gejala yang muncul.
Berdasarkan bukti yang terkumpul, pengendalian diri dan perawatan diri menjadi faktor penentu untuk menghindari gangguan tidur yang terkait dengan cokelat.
Bagi yang menyukai rasa manis dapat memilih alternatif yang memiliki dampak lebih kecil terhadap tidur. Diantara pilihan yang disebutkan oleh para ahli, buah-buahan seperti pisang, apel, atau pir, serta sereal gandum utuh dan produk susu rendah lemak, menjadi pilihan utama.
Para ahli menekankan beberapa nutrisi yang terdapat dalam makanan ini berkontribusi pada sintesis serotonin dan melatonin, hormon yang terkait dengan siklus tidur alami. Jika ada pertanyaan terkait insomnia atau gangguan tidur, disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.
Penyesuaian pola makan malam dan pengawasan terhadap konsumsi stimulan dapat menjadi strategi efektif bagi mereka yang ingin meningkatkan kualitas tidur tanpa harus mengorbankan kenikmatan kecil.
Editor: Aspian Nur




