Penulis: Muhammad Solih Januar
KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta dampak kekeringan akibat fenomena El Nino kini menjadi perhatian serius di Kalimantan Timur.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, sepanjang periode Januari hingga 10 Agustus, tercatat sebanyak 196 titik api telah terjadi di Bumi Etam.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengungkapkan, terjadi peningkatan signifikan sebanyak 125 jumlah titik api pada awal hingga pertengahan Agustus ini.
"Ada 196 titik dari mulai Januari sampai tanggal 10 Agustus. Tetapi 71 titik diantaranya terjadi di bulan Agustus, terhitung dari tanggal 1 sampai 10. Jadi memang ada peningkatan yang luar biasa," kata Buyung kepada Korankaltim.com Selasa (11/8/2026).
Buyung menegaskan saat ini status di wilayah Kaltim masih berada pada level siaga darurat, belum mencapai tahap tanggap darurat. Ada 4 kabupaten yang masuk kategori siaga darurat yakni Kutai Timur dan Kutai Barat.
"Meskipun Berau juga mengalami peningkatan, namun curah hujannya masih ada sehingga kategorinya belum masuk," jelasnya.
Rata-rata luas lahan yang terbakar tidak lebih dari 5 hektare per kejadian, di mana sebagian besar dipicu oleh kelalaian manusia. Menghadapi prediksi puncak kemarau pada bulan September mendatang di mana curah hujan diprediksi sangat rendah, yakni berkisar 0-20 mm pihaknya terus mengintensifkan sosialisasi melalui kanal media digital.
Sementara itu, terkait kendala peralatan di sejumlah daerah yang memiliki wilayah geografis luas seperti Berau, Kutai Barat dan Kutim, Buyung menyebut pihaknya terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak.
"Kami telah mengusulkan bantuan ke BNPB melalui usulan provinsi yang juga didukung oleh Bapak Pangdam, untuk melengkapi peralatan yang dibutuhkan," tambahnya.
Selain masalah karhutla, Buyung juga menyoroti dampak kekeringan terhadap ketahanan pangan khususnya di Mahakam Ulu (Mahulu). Kendala utama yang dihadapi saat ini adalah distribusi pasokan pangan akibat menyusutnya debit air sungai, yang menghambat transportasi air skala besar.
"Pihak Bulog sudah memastikan stok pangan cukup, hanya terkendala distribusi ke daerah Long Apari dan Long Pahangai. Solusinya, kita akan melangsir logistik menggunakan kapal kecil atau perahu ces. Pendekatan lintas sektor terus berjalan dan akan kita pantau terus perkembangannya demi memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi," tutup Buyung.
Editor: Aspian Nur




