KORANKALTIM.COM – Ditengah ancaman Amerika Serikat yang meminta media sosial Tiktok untuk ditutup dengan alasan membahayakan keamanan negara, aplikasi buatan China ini tetap tak berhenti untuk berinovasi.
Terbaru, aplikasi mereka viral karena tarian yang diambil dari film Finding Nemo.
Tarian viral diketahui membuat konten TikTok menjadi sangat mahal dan saat ini yang paling banyak diikuti di TikTok adalah penari dan influencer Charli D'Amelio dengan tarian Hai I'm Dory dimana dalam video itu tidak sepenuhnya menari tetapi memainkan kekuatan TikTok karena dapat dengan mudah ditiru.
Tren ini membutuhkan sedikit lipsync untuk menyesuaikan dengan audio Hai, Saya Dory. Tariannya sederhana, hanya menurunkan tangan seperti ikan yang berusaha untuk tidak kehilangan keseimbangan namun ada banyak interpretasi berbeda dari bagian tren ini.
Anak-anak mengajak orangtua mereka mengikuti tren berhenti sejenak untuk mengundang mereka dalam video dengan gelombang kartun.
“Banyak tarian TikTok sangat mudah diakses,” kata seorang instruktur tari kepada Vice. "Ini benar-benar mempopulerkan tarian [dan] membuat tarian menjadi keren," sebutnya dilansir dari laman Thesun.co.uk Sabtu (2/7/2022) hari ini.
Para peneliti menetapkan imitasi fisik adalah bagian dari kondisi manusia dan TikTok hanyalah teknologi yang memfasilitasi itu. "Para penari ini dipisahkan oleh ruang dan waktu, tetapi mereka menciptakan solidaritas dan perasaan positif dengan bergerak bersama, dimediasi oleh struktur platform," tulis kandidat PhD Niall Edwards-FitzSimons untuk The Conversation.
Bagi generasi yang lebih tua, tarian TikTok hanyalah fase aneh bagi Gen-Z yang kecanduan media sosial.
Tetapi manusia telah menari bersama dan dalam ritual selama berabad-abad dan TikTok adalah produsen gerakan dan tren paling modern.
Facebook, Instagram dan Snapchat dulunya adalah trio utama media sosial tetapi TikTok telah mengamankan posisi mereka sebagai yang terbaik keempat di dunia. TikTok adalah bagian penting dari lanskap media sosial, memiliki hampir satu miliar penggunadi dunia.
Editor: Aspian Nur




