KORANKALTIM.COM – Mantan gitaris grup band legendaris The Beatles, Paul McCartney, akan merilis lagu bisu bulan Desember 2025 mendatang bersama dengan artis lain untuk mengecam proyek Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligent (AI) yang melemahkan hak cipta para musisi.
Lagu McCartney yang berjudul "Bonus Track" merupakan rekaman "studio kosong", dengan serangkaian suara, berdurasi 2 menit 45 detik.
Lagu tersebut akan dirilis bertepatan dengan penerbitan ulang vinil album “Is This What We Want” pada tanggal 8 Desember, kolektif dengan nama yang sama mengumumkan disitus webnya. Berdurasi 2 menit 45 detik, lagu ini hampir sama panjangnya dengan “With a Little Help From My Friends”. Namun lagu baru Paul McCartney ini kurang memiliki irama yang mudah dinyanyikan dan permainan gitar yang riang karena hampir tidak ada apa-apa di dalamnya.
Lebih dari seribu artis, termasuk Annie Lennox , Damon Albarn , Jamiroquai dan Max Richter berkolaborasi dalam album bisu ini, yang dirilis secara digital pada Februari 2025 dengan tujuan mendesak pemerintah Inggris untuk tidak melegalkan penjarahan musik demi kepentingan perusahaan AI.
Pria berusia 83 tahun itu bersama 400 artis lainnya termasuk Dua Lipa, Ed Sheeran, Annie Lennox, Elton John dan Kate Bush sudah menanda tangani sebuah surat terbuka yang mendesak pemerintah untuk melindungi industri musik Inggris.
Versi vinil album McCartney akan dirilis terbatas, hanya seribu kopi dan berisi lagu-lagunya sendiri. "Album ini berisi rekaman yang dibuat di studio dan aula konser kosong, menggambarkan dampak yang kami yakini akan ditimbulkan oleh proposal pemerintah terhadap mata pencaharian para musisi," demikian pernyataan kolektif tersebut melansir dari laman AFP Selasa (18/11/2025) hari ini.
Sebelumnya Pemerintah Buruh di Inggris menganjurkan suatu rancangan undang-undang yang diperkirakan akan diperkenalkan pada tahun 2026 yang ditujukan untuk menciptakan pengecualian terhadap hukum hak cipta guna memfasilitasi penggunaan konten kreatif untuk melatih model AI.
Dalam anjuran itu disebutkan perusahaan teknologi ini tidak perlu lagi memperoleh izin dari penulis atau memberi mereka imbalan, hal mana menyebabkan kemarahan di industri musik.
Menurut sebuah studi yang dilakukan di kalangan artis dan produser oleh asosiasi Musik Inggris, dua dari tiga responden menganggap AI sebagai ancaman bagi karier mereka.
Editor: Aspian Nur




