KORANKALTIM.COM – Serangan udara dari pasukan Rusia terhadap Ukraina menghancurkan sebuah rumah sakit bersalin di Kota Mariupol, kota yang terletak di sebelah utara Ukraina berpenduduk 500.000 jiwa.
Presiden Volodymyr Zelensky mengklaim rumah sakit itu mengalami "serangan langsung" dan anak-anak dibiarkan terkubur di bawah puing-puing saat serangan terjadi pada Rabu (9/3/2022) sore waktu setempat.
Para relawan berlomba untuk menyelamatkan orang-orang yang selamat dan terperangkap saat suhu turun hingga minus empat derajat Celcius (24,8 derajat Fahrenheit).
“Serangan udara itu dilakukan saat gencatan senjata yang disepakati yang dimaksudkan untuk memungkinkan evakuasi warga sipil dari kota selatan yang terkepung,” kata Gubernur Regional Pavlo Kyrylenko dilansir dari laman Thesun.co.uk Kamis (10/3/2022) hari ini.
"Sejauh ini ada 17 petugas rumah sakit dan beberapa anak yang terluka tapi tidak ada yang meninggal dunia di dalam rumah sakit,” ujarnya lagi.
Dilaporkan wanita yang melahirkan termasuk di antara 17 yang terluka. Banyak wanita hamil yang berada di rumah sakit bersembunyi di ruang bawah tanah ketika serangan terjadi.
Sebuah video menakutkan menunjukkan sisa-sisa rumah sakit yang hangus dengan staf yang terluka dan pasien yang dilarikan keluar dari gedung ke tempat melintasi mobil yang terbakar dan puing-puing yang membara di luar gedung rumah sakit sebelum menuju tempat yang lebih aman.
Video tersebut juga menunjukkan lubang besar akibat hantaman bom di bangunan rumah sakit di lantai tiga yang rusak parah. Seorang calon ibu yang terluka dan dibawa keluar terlihat dibungkus dengan selimut agar tetap hangat di suhu yang membekukan.
Ada juga gambar-gambar mengerikan menunjukkan mayat-mayat diluar rumah sakit dimasukkan ke dalam kantong mayat dan dibuang ke kuburan massal setelah serangan terjadi beberapa waktu sebelumnya.
Pekerja terlihat menggali parit sepanjang 25m di salah satu kuburan tua di Mariupol yang merupakan kota pelabuhan dan dalam kondisi terkepung, membuat tanda salib saat mereka mendorong mayat ke dalam lubang. Mayat-mayat itu dibungkus dengan karpet atau tas.
Sementara itu di Zhytomyr yang terletak di sebelah barat Kyiv, bom jatuh di dua rumah sakit, termasuk satu rumah sakit anak-anak. Beruntung tidak ada yang terluka dalam serangan itu, menurut Walikota Serhii Sukhomlyn, memposting pembaruan ke Facebook.
Upaya sebelumnya untuk mengizinkan warga sipil mengungsi dengan aman ternyata gagal, dengan gambar-gambar mengerikan yang menunjukkan orang-orang berlarian mencari perlindungan. Dewan kota menuduh pasukan brutal Rusia "menjatuhkan beberapa bom" di rumah sakit dengan rekaman yang menunjukkan kawah besar di luar sebuah bangunan.
"Pasukan pendudukan Rusia telah menjatuhkan beberapa bom di rumah sakit anak-anak. Kehancurannya sangat besar," sebut dewan kota Mariupol.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membagikan rekaman adegan mengerikan di dalam gedung tersebut. "Serangan langsung pasukan Rusia di rumah sakit bersalin. Orang-orang, anak-anak berada di bawah reruntuhan. Kekejaman!,” ujarnya.
"Berapa lama lagi dunia akan menjadi kaki tangan yang mengabaikan teror? Hentikan pembunuhan! Anda memiliki kekuatan tetapi Anda tampaknya kehilangan kemanusiaan," kata Zelensky lagi yang ditujukan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dalam video Telegram terpisah, Zelensky merilis pesan video lain yang isinya mendesak Eropa untuk memperketat sanksi. "Orang-orang Eropa, Anda tidak bisa mengatakan Anda tidak melihat apa yang terjadi. Anda harus memperketat sanksi sampai Rusia tidak dapat melanjutkan perang biadab mereka," kata Zelensky. "Negara seperti apa yang mengebom rumah sakit? Apakah takut dengan rumah sakit dan bangsal bersalin?," sindirnya.
Sang kepala negara sudah berulang kali mendesak AS dan negara-negara NATO lainnya untuk memberlakukan zona larangan terbang untuk melindungi warganya dari pemboman, serangan roket dan pasukan Rusia yang terus menyerbu.
Tetapi anggota NATO memperingatkan zona larangan terbang dapat menyebabkan bentrokan langsung antara pasukan Rusia dan NATO. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengecam serangan udara di Mariupol yang menargetkan ibu dan bayi yang rentan dan tidak berdaya tersebut.
"Inggris sedang menjajaki lebih banyak dukungan bagi Ukraina untuk bertahan melawan serangan udara dan kami akan meminta pertanggungjawaban Putin atas kejahatannya yang mengerikan," tegas Boris.
Anggota parlemen Ukraina Dmytro Gurin mengklaim banyak wanita telah terbunuh atau terluka dalam pemboman Rusia. Sementara Menteri Luar Negeri Liz Truss mengatakan serangan itu "menjijikkan".
Dinas keamanan Inggris khawatir Rusia dapat menggunakan senjata kimia saat Putin mengencangkan jerat di Ukraina. Para pejabat Barat khawatir Mad Vlad akan menggunakan senjata non-konvensional seperti senjata sarin, klorin, dan gas mustard. Penembakan selama berhari-hari di Mariupol telah memisahkan penduduk dari dunia luar dan memaksa mereka mengais makanan dan air.
Wakil Wali Kota Mariupol Serhiy Orlov mengatakan 1.170 warga sipil telah tewas di kota itu sejak dimulainya invasi Rusia. "Setidaknya 1.170 orang telah tewas dan 47 dimakamkan di kuburan massal hari ini. Orang-orang tanpa air, panas, listrik, gas, penduduk mencairkan salju untuk minum," ungkapnya.
Kemarin, seorang gadis berusia delapan tahun meninggal karena dehidrasi setelah serangan Rusia membuatnya tanpa akses ke air, listrik atau pemanas. Dan misi bantuan Palang Merah diduga terkena bom Rusia di kota itu, di tengah laporan korban penembakan dikubur di kuburan massal.
Dua bom dijatuhkan dalam serangan terhadap Komite Palang Merah Internasional dan Ukraina, menurut laporan yang belum diverifikasi. Palang Merah menggambarkan kondisi di dalam kota sebagai "apokaliptik", dengan penduduk berlindung di bawah tanah dari pemboman tanpa henti.
Editor: Aspian Nur




