KORANKALTIM.COM – Penghormatan besar yang berlangsung secara emosional diberikan Ukraina kepada Olga Semidyanova, wanita yang ikut berperang dan gugur setelah baku tembak dengan tentara Rusia dimana ibu dari 12 anak itu berada di garis depan pada pertempuran yang terjadi Kamis, 3 Maret dua pecan lalu.
Olga Semidyanova yang secara heroik ikut angkat senjata terluka parah saat dia terus bertempur melawan pasukan Rusia ketika sebagian besar unitnya terbunuh.
Wanita berusia 48 tahun itu tertembak di bagian perut dalam perang yang terjadi di dekat Kota Donetsk, selatan Ukraina.
Tubuhnya belum ditemukan karena pertempuran yang terus berlanjut di daerah itu, membuat keluarganya harap-harap cemas karena ingin mengetahui nasib Olga dan ingin secepatnya mengubur jasad wanita itu.
“Dia menyelamatkan para prajurit sampai akhir. Kami memiliki foto-foto dari tempat ibu saya kena tembak, tetapi karena pertempuran sengit, kami masih tidak dapat menguburkan ibuku dan dia masih ada disana,” ujar Julia, putri Olga, dilansir dari laman Thesun.co.uk Kamis (17/3/2022) hari ini.
Atas jasanya berperang melawan Rusia, pemerintah Ukraina memuji Olga yang tidak mementingkan diri sendiri dan segera memberikan bantuan kepada keluarganya.
“Dia dibunuh dalam konfrontasi dengan tentara Rusia. Bahkan ketika dia yakin resimennya mungkin tidak akan bertahan, dia menekankan keinginannya untuk melindungi negara sampai akhir. Dia adalah pahlawan nasional. Dia adalah pahlawan bagiku,” ujar Anton Gerashchenko, penasihat Kementerian Dalam Negeri Ukraina dengan nada sedih.
Olga tinggal di kota Marhanets, sekitar 150 mil dari tempat dia meninggal dunia. Dia sebelumnya telah dianugerahi gelar Mother’s of Hero atau Ibu Pahlawan karena memiliki lebih dari lima anak.
Selain enam anaknya sendiri, Olga telah mengadopsi enam anak yatim piatu dari panti asuhan setempat.
Orang-orang Ukraina membanjiri media sosial dengan penghormatan kepada Olga. "Wanita Ukraina ini benar-benar seorang pahlawan," kata pengguna Facebook bernama Marina Ivanchenko. "RIP Olga Semidyanova, pahlawan Ukraina pembela Eropa," tulisnya lagi.
Sementara Chuk Towers menyebut Olga sebagai pahlawan. “Olga Semidyanova berjuang sampai akhir untuk negaranya. RIP pahlawan,”, sedangkan Stewart Merritt berkata: "Pahlawan tidak mati."
Korban perang Ukraina lainnya juga mendapat penghormatan serupa. Mereka termasuk dua orang yang tewas dalam serangan rudal jelajah awal pekan tadi di sebuah pangkalan militer yang digunakan untuk latihan NATO sekitar 12 mil dari perbatasan Polandia.
Berbeda dengan Olga yang belum dimakamkan, dua tentara bernama Roman Rak dan Mykola Mykytiuk terlihat dibaringkan di peti mati yang dilapisi kain putih dengan ratusan orang memberi penghormatan baik itu tentara, kerabat dan tetangga yang memadati gereja. Satu peti mati dibuka untuk sebagian kebaktian, yang lain ditutup.
“Orang-orang ini seperti malaikat bagi kami. Mereka mati melindungi kita. Mereka adalah pahlawan. Pahlawan kita. Pahlawan Ukraina. Pahlawan rakyat. Pahlawan tidak pernah mati,” ujar Diakon Taras Hlova, warga sipil setempat.
Dua tentara itu dibawa keluar dari gereja di Starychi untuk dimakamkan. Gereja itu berada di dekat pangkalan udara di Yavoriv, 12 mil dari perbatasan, lokasi Roman dan Mykola yang berusia 40 tahun dan 50 tahun, termasuk di antara 35 orang yang tewas dengan 135 lainnya terluka.
Sementara itu, di kota Mariupol yang masih terkepung oleh tentara Rusia, para dokter dan perawat terus merawat pasien mereka di sebuah rumah sakit yang telah diduduki oleh pasukan Rusia. Mereka disandera setelah pasukan Rusia mengambil alih situs tersebut untuk digunakan sebagai posisi menembak untuk menargetkan pasukan Ukraina.
Pemimpin regional Pavlo Kyrylenko mengatakan tentara Rusia memaksa sekitar 400 orang dari rumah terdekat ke Rumah Sakit Perawatan Intensif Regional untuk menggunakan mereka sebagai perisai manusia bersama dengan sekitar 100 pasien dan staf.
Wakil Perdana Menteri Ukraina Iryna Vereshchuk menyatakan kekecewaannya atas situasi tersebut.
Dokter dari rumah sakit Mariupol membuat video untuk memberi tahu dunia tentang kengerian yang mereka saksikan dalam serangan gencar yang berkelanjutan di kota tersebut. "Kami tidak ingin menjadi pahlawan dan martir secara bersamaan,” katanya.
Luka yang harus ditangani petugas medis untuk orang sipil sangat mengerikan. "Tangan dan kakinya robek, mata dicungkil, tubuh tercabik-cabik, bagian dalamnya rontok," ungkapnya lagi.
Editor: Aspian Nur




