Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Internasional

Menanti 10 Tahun untuk Dibangun, Sekolah di Kota Lviv Ukraina Hancur dalam Hitungan Detik, Pustakawan Ini Hanya Bisa Menangis

Koran Kaltim
18 Maret 2022
363 views
3 min
Anastasiya berada di pelukan Oleksandra Yakovleva saat sang nenek bercerita kehidupannya yang hancur akibat serangan Rusia. (Foto: thesun)

KORANKALTIM.COM – Anastasiya, bocah berusia tiga tahun, hanya bisa menatap wajah neneknya, Oleksandra Yakovleva, yang menangis terisak-isak setelah mereka berdua terpaksa melarikan diri demi tetap bertahan hidup di Ukraina setelah invasi Rusia ke negara tersebut.

Anastasiya memeluk Oleksandra Yakovleva ketika pensiunan pustakawan berusia 57 tahun itu menceritakan tentang kehidupannya yang hancur dan perpisahan yang menyayat hati dengan suami tercinta.

“Kami menunggu sekolah baru selama sepuluh tahun kemudian hancur dalam hitungan detik. Orang-orang bersembunyi di ruang bawah tanah ketika sebuah roket menghantam. Mereka terkubur di bawah reruntuhan,” ujar Yakovleva dilansir dari Thesun.co.uk Jumat (18/3/2022) hari ini.

Yakovleva selama ini  bekerja di perpustakaan di sebuah sekolah di Desa Zelenyi Hai, dekat kota Mykolayiv, Ukraina Selatan.

“Kepala sekolah berada di lantai pertama dan sekarang sudah meninggal. Saya adalah seorang pustakawan di sekolah tersebut selama 26 tahun dan memiliki banyak teman disana. Pada hari pengeboman, saya berlindung di sebuah stadion. Tuhan memberkati saya," ungkapnya.

Di aula kedatangan yang berangin di stasiun kereta Lviv, pusat berkumpulnya para pengungsi menuju barat, Yakovleva dan Anastasiya dirawat sukarelawan Palang Merah. Mereka mendapatkan paket makanan, obat-obatan dasar dan tempat yang hangat.

Sedikitnya tujuh orang tewas dan tiga terluka ketika sekolah di Desa Zelenyi Hai itu  dibom Minggu (13/3/2022) pagi lalu.

“Semua orang yang bisa pergi dievakuasi tetapi suami saya Sergiy, yang berusia 62 tahun, menderita radang sendi yang parah dan terlalu lemah dan harus ditinggal. Dia mengucapkan selamat tinggal dan itu menghancurkan hatiku. Kami menuju Polandia. Saya tidak tahu apakah saya akan bertemu dengannya lagi," paparnya.

Relawan Palang Merah Anastasis Osidach memberikan Anastasiya kecil sekotak susu dan menghibur sang nenek.

“Sangat menyakitkan melihat anak-anak kecil kesal. Mereka tidak benar-benar tahu apa yang terjadi tetapi dapat melihat rasa sakit di wajah mereka,” kata Osidach, mahasiswa kedokteran Lviv itu.
Hanya dalam 21 hari, lebih dari tiga juta orang Ukraina telah melarikan diri ke luar negeri imbas serangan Rusia.

Di stasiun kereta api itu di  ruang tunggu, ada seorang ibu yang kesehariannya sebagai petani bernama Tatjana Homuch berusia 42 tahun, mengaku berada di ruang bawah tanah sekolah Zelenyi Hai ketika hantaman bom datang.

Sambil menggendong putrinya yang berusia tiga tahun, Allna, Tatjana mengungkapkan isi hatinya.

“Menakutkan. Bom itu menghantam sekolah secara langsung dan mengubahnya menjadi debu. Semua orang berlari keluar. Saya kemudian mendengar gelombang kejut dari bom membunuh keluarga di dekatnya,” paparnya.

“Untungnya putri saya tidak ada di sana. Aku mencoba membuat ini semua tampak seperti permainan baginya, untuk menyembunyikan kenyataan. Saya harap dia tidak akan mengingat rasa sakit yang kami alami,” ujar Tatjana.

Stasiun Lviv yang padat di barat Ukraina, adalah titik utama dimana ratusan ribu orang tiba dengan kereta api untuk naik bus ke perbatasan Polandia terdekat.

Wanita dan anak-anak yang terlihat lelah mengenakan mantel tebal melawan dingin. Wajah mereka pucat dan penuh ketegangan.

Ada 1,85 juta orang di Ukraina yang terpaksa meninggalkan rumah mereka, menurut PBB. Ini termasuk 200.000 di Kota Lviv, kota terbesar ketujuh di Ukraina.

Editor: Aspian Nur

Tags:

InternasionalBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Internasional.