KORANKALTIM.COM – Tak banyak orang tahu kalau sejak tentara Rusia diperintahkan Presiden Vladimir Putin menyerbu Ukraina pada 24 Februari 2022 lalu, pasangan suami istri usia lanjut ini harus tinggal di blok terakhir flat yang tersisa di tepi Kharkiv, tepatnya di dalam toilet atau kamar mandi.
Ironis, karena hampir tiga bulan Vera Hurovaya dan suaminya Vladimir Krupenya harus tidur dibangku kayu kamar mandi yang sempit itu dengan hanya diterangi cahaya lilin demi menghindari bom yang memborbardir kota terbesar kedua di Ukraina itu.
Tetangga Vera dan Vlad sudah melarikan diri dari distrik Saltivka sejak penyerangan berlangsung.
Pasangan berusia 73 dan 83 tahun itu tidak punya tempat lain untuk pergi karena rumah mereka yang menghadap ke tanah tak bertuan hanya berjarak 2,5 mil dari posisi Rusia yang praktis sudah terkepung.
Mereka kelelahan sampai akhirnya ditemukan tim relawan karena sudah tidak bisa berbaring di bak mandi karena mereka menyimpannya penuh air untuk minum, memasak dan mencuci.
Kisah memilukan mereka yang dilansir dari laman Thesun.co.uk Selasa (26/4/2022) hari ini, datang ketika pasukan Rusia meledakkan lima stasiun kereta api di Ukraina tengah dan barat beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken melakukan perjalanan dengan kereta api ke ibu kota Kyiv.
Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace juga mengungkapkan sekitar 15 ribu tentara Rusia telah tewas selama invasi.
Rusia juga kehilangan lebih dari 2.000 kendaraan lapis baja, termasuk 530 tank dan 60 helikopter dan jet dalam pertempuran tersebut.
Tetapi berita itu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghibur Vera dan Vlad. Mereka mengutuk peperangan yang disebut Rusia sebagai pembawa damai. “Apa yang mereka lakukan pada kami? Saya tidak paham,” ujar Vera.
Di flat lantai dasar mereka yang rusak, Vera tidur dengan bantal di wastafel sementara Vlad bersandar di pintu kamar mandi.
“Ayah saya meninggal dalam Perang Dunia Kedua melawan Nazi. Saya bisa membayangkan Nazi melakukan ini pada kami, tapi Rusia?” tanyanya.
Di Kharkiv hanya orangtua tak berdaya yang tertinggal dimana setidaknya 234 warga sipil tewas dalam penembakan. Lebih dari 1.600 rumah telah hancur. Wakil Wali Kota Sveltana Horbunova mengatakan mereka yang bisa melarikan diri sudah melakukannya.
“Kebanyakan orangtua yang tersisa di kota dan sukarelawan, tentara dan keluarga mereka. Beberapa orang tidak mampu untuk pergi, beberapa orang tidak punya tempat untuk pergi,” ungkapnya.
Kharkiv telah diserang sejak hari pertama perang oleh tentara Rusia yang menggunakan tank. Kota ini terletak 16 mil dari perbatasan Rusia dan dikelilingi di utara dan timur.
Vlad dan Vera tidak memiliki kerabat untuk membantu mereka. Tiga dari empat anak mereka meninggal sebelum perang mereka dimulai. Putri mereka yang masih hidup tinggal di Rusia dimana dia telah dicuci otak oleh propaganda Putin.
“Dia tidak percaya apa yang terjadi di sini. Dia mengatakan itu adalah pembebasan,” ungkap Vera. “Saya tidak percaya ini adalah hidup kita. Kami hanya ingin perdamaian datang,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur




