Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Internasional

Setelah Enam Tahun, Misteri Jatuhnya Pesawat EgyptAir MS804 di Laut Mediterania Terkuak, Diduga karena Rokok

Koran Kaltim
27 April 2022
567 views
3 min
Pilot beserta penampakan puing-puing Pesawat EgyptAir MS804. (Foto: Istimewa)

KORANKALTIM.COM – Masih ingat dengan tragedy di dunia penerbangan saat pesawat EgyptAir MS804 yang melayani penerbangan dari Bandara Charles de Gaulle, Paris menuju Bandara Internasional Kairo, Mesir tiba-tiba hilang dan kemudian ditemukan sudah luluh lantak pada 19 Mei 2016 silam?

Setelah enam tahun jadi misteri, penyebab pesawat Airbus A320 menghilang dari radar pada pukul 02.30 waktu Mesir itu yang puing-puingnya ditemukan di beberapa titik di Laut Mediterania, sekitar 290 kilometer utara Alexandria dan menewaskan 66 penumpang itu, terjawab.

Ternyata, jatuhnya pesawat itu hanya karena sebatang rokok dan bukan penumpang yang menghisap rokok tersebut melainkan  pilot  di ruang kokpit. Pilot di atas penerbangan EgyptAir MS804 menyalakan sebatang rokok di kokpit, menyebabkan oksigen bocor dari masker darurat dan menimbulkan api hingga terbakar.

Setelah misi pencarian besar yang melibatkan Angkatan Laut AS, kotak hitam pesawat itu ditemukan di perairan dalam dekat Yunani. Pada saat itu, pihak berwenang Mesir mengklaim pesawat jatuh karena serangan teroris, meskipun tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.

Dikatakan bahan peledak ditemukan di tubuh korban kecelakaan pesawat namun akhirnya dugaan itu ditepis. Namun, penyelidikan resmi telah menyimpulkan asap dari rokok pilot secara tidak sengaja memicu kebocoran oksigen dari masker darurat di dalam kokpit.

Pilot Mesir diketahui sering merokok di kokpit dan hebatnya, praktik itu tidak dilarang pada saat kecelakaan terjadi tahun 2016 tersebut, menurut laporan setebal 134 halaman yang diproduksi oleh pakar penerbangan.

Pengaturan pada masker oksigen telah diubah oleh seorang teknisi perawatan dari normal menjadi darurat, kata para ahli, seperti dilansir surat kabar Italia Corriere Della Sera Rabu (27/4/2022) hari ini.

Hal ini menyebabkan alat itu memancarkan oksigen, menciptakan situasi yang sangat tidak stabil. Suara mendesis yang dihasilkan oleh pelepasan oksigen diidentifikasi oleh penyelidik sekitar pukul 02.25 pagi tanggal 19 Mei, hanya beberapa menit sebelum pesawat jet penumpang itu jatuh ke laut.

Tidak diketahui mengapa teknisi pemeliharaan memasang masker wajah ke dalam pengaturan darurat. Laporan para ahli penerbangan sudah dikirim ke Pengadilan Tinggi di Paris. Seorang pilot berpengalaman mengatakan kapten pesawat naas itu, Mohamed Said Ali Ali Shoukair, seharusnya mendeteksi topeng yang rusak sebelum lepas landas.

"Ketika kami masuk ke kabin, di antara berbagai pemeriksaan yang kami lakukan sebelum lepas landas adalah memeriksa aliran oksigen di masker," kata pilot Italia Daniele Veronelli kepada Corriere Della Sera.

“Kalau sakelar dalam posisi normal, aliran oksigen sesuai permintaan. Jika dalam pengaturan darurat, ia akan melepaskan oksigen dengan tekanan lebih besar untuk meniup asap yang mungkin ada di kabin jika ada kebakaran," paparnya.

Meski sudah ada informasi terkait penyebab jatuhnya pesawat itu, namun laporan resmi belum dirilis ke publik, menurut surat kabar Italia. Namun beberapa keluarga yang berduka dan mendapat informasi tersebut sangat marah mengetahui kalau keluarga mereka jadi korban karena rokok.

Julie Heslouin, yang kehilangan saudara laki-lakinya berusia 41 tahun dan ayahnya yang berusia 75 tahun angkat bicara. “Kami telah menunggu sejak 2016 untuk memahami mengapa kami kehilangan orang yang kami cintai dan secara resmi tidak ada yang memberi tahu kami apa pun," tegas Julie.

Pada tahun 2018, biro kecelakaan penerbangan sipil Prancis BEA mengatakan kemungkinan besar kebakaran terjadi di kokpit saat pesawat terbang di ketinggian jelajahnya dan api menyebar dengan cepat, yang mengakibatkan hilangnya kendali atas pesawat.

Pada saat itu, tidak disebutkan adanya kebocoran oksigen atau pilot yang merokok di dalam kabin dan ada dugaan pesawat EgyptAir jatuh karena smartphone yang terlalu panas.

Editor: Aspian Nur

Tags:

InternasionalBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Internasional.