Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Internasional

Perubahan Iklim Bikin Air Langka, Lahan Pertanian Bakal Mengalami Kekeringan

Koran Kaltim
8 Mei 2022
272 views
2 min
Ilustrasi Perubahan iklim. (Foto: dailymail)

KORANKALTIM.COM – Perubahan iklim yang terus terjadi di dunia saat ini membuat lebih dari 80 persen lahan pertanian di dunia terimbas. Dampaknya, air akan langka dalam beberapa dekade mendatang.

Hal ini berdasarkan sebuah studi baru yang dilakukan di Eropa. Para peneliti memeriksa kebutuhan air saat ini dan masa depan untuk pertanian global, untuk menentukan apakah tingkat air yang dibutuhkan akan tersedia pada tahun 2050 mendatang.

Dilansir dari laman Dailymail.co.uk Minggu (8/5/2022) hari ini, tim dari Akademi Ilmu Pengetahuan China di Beijing melihat tingkat maksimum air yang mungkin dari air hujan dan irigasi di setiap area lahan pertanian.

Mereka membuat indeks untuk mengukur dan memprediksi kelangkaan air di sumber pertanian utama, termasuk tanah, hujan, irigasi dan sungai dan menemukan fakta 80 persen dari semua area lahan pertanian di seluruh dunia tidak akan memiliki cukup air pada tahun 2050 bahkan mengarah kepada kekeringan.

Dalam 100 tahun terakhir, permintaan air di seluruh dunia telah tumbuh dua kali lebih cepat dari populasi manusia, dengan kelangkaan air menjadi masalah yang meningkat di daerah yang dilanda kekeringan seperti negara bagian Amerika Serikat bagian barat, dimana air mengalir dari lembah Sungai Colorado.

Awal pekan ini para pejabat AS mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai langkah luar biasa untuk menyimpan ratusan miliar galon air yang tersimpan di waduk Danau Powell.

Hal itu dilakukan untuk mencegah menyusutnya air lebih banyak di tengah kekeringan berkepanjangan dan perubahan iklim yang membuat waduk di wilayah itu turun ke rekor terendah.

“Teknik pertanian yang menahan air hujan di tanah dapat membantu mengurangi kekurangan di daerah kering,” saran para peneliti.

Kelangkaan air sudah menjadi masalah di setiap benua dengan pertanian, menghadirkan ancaman besar bagi ketahanan pangan.

Namun program air tanah yang berasal dari hujan dan disebut air hijau ditambah irigasi dari sungai, danau dan air tanah disebut air biru yang sudah dilakukan menemui kegagalan.

Itu adalah studi pertama yang menerapkan indeks komprehensif kemungkinan air di seluruh dunia dan memprediksi kelangkaan air biru dan hijau global sebagai akibat dari perubahan iklim.

Ini memprediksi apakah tingkat air yang tersedia, baik dari air hujan atau irigasi, akan cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut di bawah perubahan iklim.

“Sebagai pengguna terbesar dari kedua sumber daya air biru dan hijau, produksi pertanian dihadapkan dengan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Xingcai Liu, seorang profesor di Akademi Ilmu Pengetahuan China dan penulis utama studi baru tersebut.

Editor: Aspian Nur

Tags:

InternasionalBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Internasional.