Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Internasional

Perubahan Iklim Bikin Pohon di Hutan Hujan Buatan Mati Dua Kali Lebih Cepat

Koran Kaltim
19 Mei 2022
1.1K views
3 min
Pohon besar di hutan tropis Queensland Utara, kematiannya meningkat dua kali lipat lebih tinggi sejak tahun 1984 silam karena pemanasan global yang terjadi di dunia. (Foto: dailymail)

KORANKALTIM.COM – Sebuah fakta baru terungkap terkait dengan keberadaan hutan yang lebih cepat mati karena perubahan iklim.

Sebuah studi yang baru dilakukan mengatakan kalau rain forest atau hutan hujan buatan dengan pohon-pohon besar yang ada di Australia mati dua kali lebih cepat dibanding tahun 1980 silam karena perubahan iklim tersebut.

Sekelompok peneliti internasional mempelajari hampir 50 tahun data tentang jumlah pohon di daerah tropis lembab di Queensland Utara, Australia.

Mereka menemukan tingkat kematian pohon tropis meningkat dua kali lipat sejak 1984 yang diduga karena pemanasan global sementara pohon lainnya hidup hanya sekitar setengah usia mereka.

Para peneliti itu menduga atmosfer Queensland Utara dan bagian lain dunia memiliki iklim lebih kering saat ini dibandingkan dengan tahun 1980-an.

Saat atmosfer menghangat, ia menarik lebih banyak uap air dari tanaman, mengakibatkan hilangnya air di pepohonan dan pada akhirnya risiko kematian yang lebih tinggi.

Karena pohon menyedot karbon, peningkatan kematian pohon akan meningkatkan karbon di atmosfer, yang pada gilirannya dapat menyebabkan planet ini semakin panas.

Studi baru dilakukan oleh para peneliti dari Pusat Penelitian Lingkungan Smithsonian dan Universitas Oxford dan Institut Penelitian Nasional Prancis Institute for Sustainable Development (IRD) atau Pembangunan Berkelanjutan.

“Sangat mengejutkan mendeteksi peningkatan yang nyata dalam kematian pohon, apalagi tren yang konsisten di seluruh keanekaragaman spesies dan lokasi yang kami pelajari,” kata Dr David Bauman dari IRD, yang memimpin penelitian tersebut dilansir dari laman Dailymail.co.uk Kamis (18/5/2022) hari ini.

“Risiko kematian ganda yang berkelanjutan menyiratkan karbon yang tersimpan di pohon kembali dua kali lebih cepat ke atmosfer,” ungkapnya.

Tim menganalisis pola kematian pohon antara tahun 1971 dan 2019, menggunakan kumpulan data yang mewakili 74.135 pohon dari 81 spesies berbeda dan 24 petak hutan di Queensland Utara.

Mereka menemukan data risiko kematian pohon tahunan rata-rata meningkat dua kali lipat di semua plot dan spesies selama periode tersebut.

Peningkatan kematian pohon masih terjadi setelah tim memperhitungkan kejadian alam seperti angin topan dan bentuk kerusakan angin lainnya.

Peningkatan tampaknya telah dimulai pada 1980-an, yang menunjukkan sistem alami bumi mungkin telah merespons perubahan iklim selama beberapa dekade.

Tidak mengherankan, pohon di iklim lokal yang lebih kering ditemukan memiliki risiko kematian rata-rata yang lebih tinggi.

Hutan secara luas diakui sebagai penyerap karbon yang penting, ekosistem yang mampu menangkap dan menyimpan sejumlah besar karbon dioksida (CO2).

Namun kematian pohon mengurangi penyimpanan karbon, membuatnya semakin sulit untuk menjaga suhu global jauh di bawah target iklim yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris di Perancis.

Diadopsi pada tahun 2016, Perjanjian Paris bertujuan untuk menahan peningkatan suhu rata-rata global di bawah 3,6°F (2°C) dan mengupayakan upaya untuk membatasi kenaikan suhu hingga 2,7°F (1,5°C).

Studi terbaru di Amazon juga menunjukkan tingkat kematian pohon tropis meningkat, melemahkan penyerapan karbon.

Profesor Bill Laurance di Universitas James Cook Queensland yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan sesuatu yang aneh terjadi pada hutan hujan di Queensland Utara dan mungkin secara global.

"Kami telah menemukan tren serupa di lembah Amazon dimana tingkat kematian pohon juga meningkat tajam dalam beberapa dekade terakhir," paparnya.

“Sayangnya, tidak terlalu sulit untuk membunuh pohon rain forest, cukup menghangatkannya sedikit dan beberapa spesies akan menjatuhkan daunnya dan mati dengan sendirinya,” paparnya.


Editor: Aspian Nur

Tags:

InternasionalBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Internasional.