Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Internasional

Kura-Kura Berusia 116 Tahun Ditemukan di Kepulauan Galapagos

Koran Kaltim
10 Juni 2022
1.6K views
3 min
Fernanda, kura-kura raksasa yang diperkirakan berusia 116 tahun ditemukan masih hidup di Kepulauan Galapagos. (Foto: dailymail)

KORANKALTIM.COM - Sebuah spesies kura-kura raksasa yang dianggap telah punah selama lebih dari satu abad ditemukan masih hidup dan sehat di sebuah pulau tropis, Pulau Fernandina Galápagos yang terletak di Samudra Pasifik sekitar 1.000 kilometer sebelah barat pesisir Amerika Selatan.

Kura-kura raksasa dengan  istilah latinnya Chelonoidis Phantasticus alias kura-kura raksasa fantastis itu diketahui hanya dari satu spesimen yang pernah ditemukan pada ekspedisi ilmiah tahun 1906 silam.

Kura-kura raksasa berjenis kelamin betina bernama Fernanda itu sebelumnya sempat ditemukan berkeliaran di Pulau Fernandina pada tahun 2019. Para ilmuwan dari Universitas Princeton dan Universitas Yale mengekstraksi DNA Fernanda, bersama dengan spesimen kura-kura jantan berusia 116 tahun silam.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan Jumat (10/6/2022) hari ini di Communications Biology, para peneliti mengungkapkan keduanya adalah kura-kura Chelonoidis phantasticus dan secara genetik berbeda dari semua spesies kura-kura raksasa Galapagos lainnya.

“Selama bertahun-tahun diperkirakan spesimen asli yang dikumpulkan pada tahun 1906 telah ditransplantasikan ke pulau itu, karena itu adalah satu-satunya dari jenisnya,” kata Peter Grant, Profesor Zoologi di Universitas Princeton dan ahli di Galapagos dilansir dari laman Dailymail.co.uk hari ini. “Kura-kura ini sekarang tampaknya menjadi satu dari sedikit yang hidup seabad yang lalu,” imbuhnya.

Pulau Fernandina adalah gunung berapi aktif di sisi barat Kepulauan Galapagos, yang dikunjungi Charles Darwin pada tahun 1835, menginspirasi teori evolusinya. Bukti kecil kura-kura Pulau Fernandina hidup ditemukan setelah penemuan tahun 1906, diantaranya 18 kotoran terlihat di lereng barat pulau pada tahun 1964.

Kotoran lain dan kemungkinan pengamatan visual dari pesawat dilaporkan terlihat pada awal tahun 2000-an dan kotoran kura-kura lain yang mungkin terlihat pada tahun 2014. Fernanda ditemukan di rumpun vegetasi di lautan lava yang baru saja membeku pada Februari 2019.

Para ilmuwan memperkirakan hewan itu berusia lebih dari 50 tahun, tetapi ukurannya kecil, mungkin karena vegetasi yang terbatas menghambat pertumbuhannya. Ketika Fernanda pertama kali ditemukan, banyak ahli ekologi meragukan kura-kura raksasa itu sebenarnya adalah kura-kura jenis phantasticus asli.

Tidak terlihat flaring unik ditepi luar cangkang saddleback-nya yang bisa dilihat pada spesimen tahun 1906 yang dikumpulkan oleh penjelajah bernama Rollo Beck.

Fernanda juga diduga berada di pulau itu karena diangkut dari tempat lain mengingat hewan itu tidak bisa berenang. Kura-kura hanya bisa terapung di antara pulau-pulau saat terjadi badai atau bisa dibawa oleh pelaut.

“Seperti banyak orang, kecurigaan awal saya adalah ini bukan kura-kura asli Pulau Fernandina,” ujar Stephen Gaughran, peneliti pascadoktoral dalam ekologi dan biologi evolusioner di Princeton.
Gaughran mengurutkan genom Fernanda dari sampel darah dan membandingkannya dengan spesimen museum serta 13 spesies kura-kura raksasa Galapagos lainnya untuk memperkuat keraguannya itu.

“Sejujurnya saya terkejut Fernanda sangat mirip dengan yang mereka temukan di pulau itu lebih dari 100 tahun yang lalu dan keduanya sangat berbeda dari semua kura-kura pulau lainnya,” paparnya.

“Bagaimana kura-kura menjajah Fernandina dan apa hubungan evolusioner mereka dengan kura-kura Galápagos raksasa lainnya?. Ini juga menunjukkan pentingnya menggunakan koleksi museum untuk memahami masa lalu,” jelas Penulis senior dan ilmuwan peneliti Adalgisa Caccone dari Universitas Yale.

Saat ini Fernanda berada di Pusat Kura-kura Taman Nasional Galapagos, sebuah fasilitas penyelamatan dan pengembangbiakan di Pulau Santa Cruz, di mana para ahli melihat apa yang dapat mereka lakukan untuk menjaga spesiesnya tetap hidup, termasuk mencoba mencari pasangan jantan.

“Penemuan ini memberi tahu kami tentang spesies langka yang dapat bertahan di tempat-tempat terpencil untuk waktu yang lama. Informasi ini penting untuk konservasi,” katanya.

Fernanda berada dalam posisi yang mirip dengan Lonesome George, yang terkenal sebagai kura-kura raksasa terakhir di Pulau Pinta Galapagos. Lonesome George menjalani dekade terakhir hidupnya di penangkaran tetapi tidak pernah berkembang biak dan spesiesnya punah pada tahun 2012 setelah kematiannya karena usia tua.

Editor: Aspian Nur

Tags:

InternasionalBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Internasional.