Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Internasional

Ilmuwan Temukan Ukiran Hewan Batu Berusia 12 Ribu Tahun di Gurun Arab Saudi

Koran Kaltim
1 Oktober 2025
0 views
2 min
Para ahli sedang menggali tanah di bawah pahatan batu binatang, di sebuah gurun di Arab Saudi utara pada tahun 2023. (Foto: apphoto)

KORANKALTIM.COM - Gurun di Arab Saudi menyimpan banyak misteri dan satu diantaranya berhasil ditemukan para ilmuwan atau peneliti, yaitu ukiran batu gambar unta, kijang dan hewan lainnya  yang berukuran besar dan asli.

Ukiran-ukiran ini diperkirakan berusia sekitar 12.000 tahun dan banyak diantaranya memiliki tinggi lebih dari 6 kaki (1,8 meter). Para ilmuwan mengatakan ukiran-ukiran ini dibuat menggunakan batu berbentuk segitiga untuk menciptakan garis-garis tajam hingga terbentuk gambar tersebut.

Beberapa diantaranya diukir di tebing sempit sehingga seniman tidak bisa mundur untuk melihat hasil akhir saat mereka bekerja.

“Mengukir detail sebanyak itu hanya dengan batu membutuhkan keahlian yang sesungguhnya,” kata Maria Guagnin, arkeolog dari Institut Max Planck untuk Geoantropologi di Jerman yang terlibat dalam penemuan ini, melansir dari laman apnews.com Rabu (1/10/2025) hari ini.

Ukiran hewan dan alat ukir yang ditemukan di situs tersebut menunjukkan orang-orang tinggal di daerah tersebut sekitar 2.000 tahun lebih awal dari perkiraan para ilmuwan. 

Belum jelas bagaimana mereka bertahan hidup di kondisi gersang tersebut, apakah mereka hidup dari danau dangkal yang tergenang sebagian tahun atau minum air yang terkumpul di celah-celah dalam. “Orang-orang telah menciptakan seni batu di Arab Saudi selama ribuan tahun,” kata Guagnin. 

Namun ukiran yang lebih tua sulit untuk ditentukan usianya karena biasanya tidak mengandung tulisan dan sedikit sisa-sisa seperti arang, yang dapat dikirim ke laboratorium untuk dianalisis.

“Kami tahu relatif sedikit tentang seni di Timur Tengah selama periode sangat kuno dalam sejarah manusia,” kata Michael Harrower, arkeolog dari Universitas Johns Hopkins yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, dalam sebuah email.

Dalam penemuan terbaru, para ilmuwan menemukan sebuah alat pemecah batu yang terkubur di lanskap tepat di bawah ukiran-ukiran tersebut, memungkinkan mereka untuk menentukan usia alat tersebut dan seni yang dibuat dengannya. 

Temuan mereka dipublikasikan di jurnal Nature Communications kemarin. Para ilmuwan tidak yakin apakah orang-orang tinggal di gurun pada periode ini karena kondisi yang kering dan air diyakini langka. Mereka berpendapat orang-orang mungkin pindah ke sana kemudian, ketika lanskap ditandai dengan padang rumput yang lebih hijau dan danau.

Satu diantara ukiran menggambarkan auroch, nenek moyang sapi liar yang tidak hidup di gurun dan telah punah. Hal ini membuat Guagnin bertanya-tanya apakah para seniman telah bertemu dengan hewan-hewan tersebut dengan bepergian ke tempat lain selama musim kering.

“Mereka pasti merupakan komunitas yang sudah mapan dan sangat mengenal lanskap tersebut,” ungkapnya.

Editor: Aspian Nur

Tags:

InternasionalBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Internasional.