TANA TIDUNG – Pemukiman di bantaran sungai, di RT 2 Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap yang tak jauh letaknya dari Pelabuhan Tideng Pale nyaris runtuh lantaran tanah disekitar kawasan tersebut secara perlahan tergerus air Sungai Sesayap.
Sekitar 20-40 rumah didaerah itu masih ditempati warga meski kondisinya cukup membahayakan, karena sewaktu-waktu tempat tinggal mereka akan menyatu dengan air sungai.
Sudah lama masyarakat sekitar meminta agar dilakukan pembenahan dengan pembangunan penyiringan bahkan pembangunan turap (sheet pile) supaya tempat tinggal mereka tetap aman.
“Kami sudah lama mengajukan kepada pihak kecamatan yang mungkin akan diteruskan ke pemerintah kabupaten terkait semakin hari semakin runtuhnya tempat tinggal kami yang sudah kami tempati selama puluhan tahun ini, tapi apa boleh buat sampai sekarang belum juga ada tanggapan positif,” ujar Rahman, salah satu warga yang ada disana pada Rabu (26/9) kemarin.
Lanjut, ia mengatakan awal pembangunan penurapan yang dimulai dari Desa Tideng Pale menuju Desa Sedulun di Kecamatan Sesayap sempat ditolak warga setempat lantaran mereka meminta relokasi yang tepat setelah dilakukannya pemindahan akan dilaksanakannya penurapan, selain itu permintaan penggantian kerugian karena rata-rata yang tinggal di RT tersebut merupakan masyarakat lokal yang sudah tinggal selama puluhan tahun.
“Wajar saja kami meminta agar pemerintah dapat mencarikan tempat kembali (relokasi) bagi kami saat pembangunan penurapan dilakukan, selain itu kegiatan bongkar-bongkar yang akan dilakukan pemerintah guna membangun penurapan tentu saja bangunan yang menjadi tempat tinggal kami selama puluhan tahun harus diganti apalagi pemasangan listrik dan air PDAM harus juga menjadi tanggung jawab pemerintah,” tambahnya.
Apa yang menjadi keinginan masyarakat membuat pemerintah harus alami kendala sosial karena pembahasan dan negosiasi realisasi penggantian kerugian tidak menemukan solusi malahan jalan buntu, akhirnya membuat pemerintah harus menangguhkan pembangunan penurapan, alhasil masyarakat harus merasakan saat ini tempat tinggal yang sudah hampir runtuh dan menyatu dengan air sungai.
“Kami hanya khawatir jika sewaktu-waktu rumah kami akan tenggelam oleh air sungai, ditambah lagi kami sudah tidak memiliki tempat tinggal lainnya sehingga terpaksa kami harus tetap bertahan, tapi sampai kapan?, kami tetap berharap pembangunan penurapan dapat dilakukan dan kami masyarakat tidak akan menuntut dengan begitu banyak pertanggungan pergantian kerugian karena kami hanya ingin tetap tinggal di kawasan sini dengan tetap aman, nyaman dan keselamatan kami lebih terjamin,” harapnya.
Sebagai informasi, pembangunan penurapan yang dibangun oleh pemerintah di tiga kecamatan sekaligus mulai dari pembangunan di Kecamatan Sesayap meliputi Desa Sedulun, Kecamatan Sesayap Hilir termasuk Kecamatan Tana Lia yang sudah rampung seratus persen, pembangunan penurapan dengan tujuan memastikan keindahan pemandangan, keamanan, kenyamanan pemukiman bantaran sungai. (ifa)




