Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Komunitas

Tetap Eksis di Masa Pandemi, Lanjong Tampilkan ‘New Normal’

Koran Kaltim
7 Juli 2020
1.4K views
2 min
Penampilan Yayasan Lanjong “New Normal” ( Foto: dok yayasan lanjong  )

KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Sebagai bentuk eksistensi dalam berkarya seni, Yayasan Lanjong di masa pandemi Covid-19 menyajikan penampilan teater bertajuk ‘New Normal’, Minggu (5/7/2020) di Ladang Budaya (Ladaya) Tenggarong Kukar.

Pagelaran perdana ini berlangsung sukses dan mendapatkan atensi yang luar biasa dari para penonton yang nota bene adalah penikmat seni. 

Perwakilan Yayasan Lanjong AB Asmarandana mengatakan pihaknya berterima kasih kepada kawan yang setia dan berkenan hadir dan memberi apresiasi langsung pada pagelaran bersejarah ini.

Ia menyampaikan, menjadikan pagelaran teater sebagai hal penting di masa pandemi sepertinya terasa berlebihan. Karena mungkin orang datang ke sebuah pertunjukan sekedar untuk mendapatkan hiburan. Sejenak melarikan diri dari pekerjaan di rumah atau kantor, berharap hal itu bisa membuat suasana hati lebih riang. “Jika demikian, cukuplah teater selesai pada tataran kesenangan dan keindahan semata. Celakanya, di pertunjukan New Normal kali ini kami berupaya melampaui itu dengan mengajak penonton untuk lebih mengoptimalkan imajinasi pada saat menonton. Karena memang di masa pandemi semacam ini, imajinasilah ‘alat canggih’ yang kerap kita gunakan untuk menyiasati hidup,” katanya kepada Koran Kaltim.

Melalui Teater, Yayasan Lanjong ingin merepresentasikan estetika di atas panggung sebagai alternatif cara pandang. Cara pandang baru akan kebenaran yang lebih dalam dari realitas yang dihadapi sehari-hari. “Estetika yang kami sajikan semalam sebagai kendaraan demi menjangkau lebih dekat persoalan kebenaran, kehidupan, tak melulu urusan keindahan,” terang Kang Abuy sapaan akrabnya.

Dalam upaya turut mendukung percepatan penanganan Covid-19, Yayasan Lanjong dalam menyajikan pertunjukan teater ini juga memperhatikan protokol kesehatan secara ketat. Wajib mengenakan masker, jaga jarak, sedia hand sanitizer dan adanya screening pengecekan suhu tubuh dan penyemprotan hand sanitizer sebelum memasuki area pertunjukan.

“Blur #2 kali ini yang dikasih judul New Normal beberapa dialognya saya kutip dari bukunya Syarif Maulana. Baca deh, itu buku bagus sebagai penghantar membungkam keinginan yang indah saya rasa. “Demotivasi”, itu judulnya. Belilah biar hidup semakin biasa saja,” terang Abuy. 

Ia menegaskan Blur #2 ini semacam pengulangan. Namun hal ini bukanlah karena dirinya kehabisan gagasan. “Entah juga ya atau memang karena ingin mencoba beristikamah menetapkan hati untuk melihat kembali perjalanan teater menegur kaki, tangan, mata, suara yang hanya nampang untuk diri bukan untuk-Nya. Khayalnya sih pentas ini sebagai visi kontemplatif. Semoga makbul...Amin, dan terima kasih penonton atas apresiasinya untuk kami,” pungkas Abuy. 


Penulis: */Heriansyah

Editor: Supiansyah

* Berita/artikel ini sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak tanggal 07 Juli 2020

Tags:

KomunitasBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Komunitas.