Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Komunitas

Romantika Vespa Klasik di Tengah Kesibukan Kota Modern

Koran Kaltim
19 Oktober 2025
0 views
3 min
Anggota komunitas Djoeang Scooter berkumpul bersama Vespa klasik mereka di sudut Kota Samarinda, menjaga keaslian dan filosofi berkendara. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)

Penulis: Ayu Norwahliyah

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Di tengah kesibukan kota modern dengan kendaraan terbaru dan jalanan yang padat, deretan Vespa klasik yang diparkir rapi di sudut kota tetap memikat perhatian. 

Motor-motor tua itu bukan sekadar alat transportasi, tapi lambang gaya hidup santai, sederhana, dan penuh karakter.

Setiap lekuk bodi dan cat yang mulai memudar membawa nostalgia, mengingatkan pada masa ketika ritme hidup lebih lambat, perjalanan lebih personal, dan setiap perjalanan meninggalkan cerita tersendiri.

Di Kota Tepian, komunitas Djoeang Scooter menekuni Vespa klasik bukan hanya sebagai hobi, tapi juga sebagai cara melestarikan sejarah dan identitas budaya. 
Ketua Harian komunitas Ali Rossit mengatakan, Vespa bukan sekadar soal penampilan, melainkan filosofi menikmati perjalanan.

“Setiap detail Vespa memiliki cerita. Motor ini bukan sekadar kendaraan, tapi cara merasakan perjalanan,” ujar Ali, Minggu (19/10/2025).

Meskipun komunitas ini baru resmi berdiri pada Agustus 2025, para anggota telah sering berkumpul jauh sebelumnya. 

Mereka berasal dari beragam latar belakang, mulai mahasiswa, pekerja kantoran, hingga profesional, namun disatukan oleh kecintaan terhadap Vespa klasik dan tekad menjaga karakter asli setiap motor. 

Koleksi anggota pun bervariasi, mulai unit tertua keluaran 1964 hingga yang termuda tahun 2002, semuanya menjadi simbol bahwa semangat klasik tak lekang oleh waktu.

Bagi masyarakat awam, Vespa klasik sering dianggap sulit dirawat. Namun di tangan komunitas ini, perawatan menjadi ritual melepas penat. 

Memperbaiki mesin, memoles bodi, atau menyetel rem bukan sekadar pekerjaan teknis, tapi cara menghormati sejarah, memahami setiap lekuk dan bunyi mesin, serta merayakan pengalaman berkendara yang berbeda dari teknologi modern.

Pemilik Garage Djoeang Scooter, Suprayogi menuturkan merawat Vespa klasik lebih sederhana daripada yang dibayangkan. Dengan kemauan belajar, perawatan dasar seperti mengganti oli, membersihkan karburator, hingga menyetel rem bisa dilakukan sendiri. 

Meski begitu, memahami dasar mekanik tetap penting sebelum membongkar motor. Sistem mesin Vespa unik dan berbeda dari motor biasa, sehingga menemukan mekanik yang benar-benar memahami karakter Vespa menjadi kunci agar motor tetap orisinal dan awet.

“Kalau sudah ketemu mekanik yang tepat, rawat baik-baik. Mekanik yang sabar dan paham detail Vespa tidak banyak,” kata Suprayogi.

Keaslian menjadi prioritas utama bagi penggemar Vespa klasik. Lecet atau goresan ringan pada bodi justru dianggap bagian dari sejarah motor, menandakan perjalanan panjang yang telah dilalui. 

“Modifikasi berlebihan justru mengurangi karakter sederhana namun khas yang melekat pada Vespa,” katanya lagi.

Komunitas Djoeang Scooter rutin menggelar perjalanan ke berbagai daerah, termasuk Tanah Grogot dan Bontang. Kegiatan ini bersifat fleksibel, memberi anggota kebebasan untuk ikut sesuai waktu dan kesibukan masing-masing.

Bagi pencinta Vespa klasik, motor ini memiliki tempat istimewa yang tidak tergantikan dan memberi nilai lebih pada pengalaman, kenangan, serta gaya hidup yang santai namun penuh karakter.

“Orang yang main Vespa biasanya punya rasa tersendiri. Tidak semua orang bisa cocok,” pungkas Suprayogi.


Editor: Erwin

Tags:

KomunitasBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Komunitas.