Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Kutai Kartanegara

Rumah Warga Ambruk di Embalut Tenggarong Seberang, Diduga Dipicu Tanah Labil dan Gelombang Kapal

Koran Kaltim
15 Juli 2026
0 views
3 min
Kondisi rumah warga yang hancur akibat lonsor di perairan Sungai Mahakam Desa Embalut, Tenggarong Seberang. (Foto: Dok.Pemdes Embalut)

Penulis: Muhammad Anshori

KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Pemerintah Desa (Pemdes) Embalut, Kecamatan Tenggarong Seberang angkat bicara mengenai penyebab utama ambruknya rumah warga di pinggir Sungai Mahakam pada Selasa (14/7/2026) pagi. 

Pihak desa menegaskan bahwa insiden ini bukan hanya karena faktor bangunan tua, mengingat salah satu rumah yang ambruk total justru baru saja selesai direnovasi. 

Tekstur tanah yang labil ditambah hantaman gelombang besar dari kapal-kapal yang melintas disinyalir kuat menjadi pemicu utama amblesnya bangunan tersebut.

Sekretaris Desa (Sekdes) Embalut, Riduar, mengungkapkan, lokasi berdirinya bangunan rumah warga tersebut memang berada di zona rawan bencana longsor bantaran sungai.

“Rumah yang roboh itu sebenarnya bangunannya kuat dan diperbaiki habis sekitar Rp30 juta, kalau yang parah itu bangunan di sebelahnya, lokasinya juga memang rawan tanah turun ke bawah dan tipenya tanah liat,” kata Riduar, Rabu (15/7/2026).

Ia juga meluruskan detail mengenai dampak kerusakan di lapangan agar tidak terjadi simpang siur. Berdasarkan data desa, terdapat tiga Kepala Keluarga (KK) lima jiwa yang terdampak. 

Dari tiga rumah yang posisinya berdempetan di pinggir sungai tersebut, satu rumah mengalami rusak parah, satu rumah amblas di bagian dapur, dan satu rumah lainnya masih dalam kondisi aman.

“Untuk yang di foto dan video beredar itu, satu rumah hanya bagian dapurnya saja yang amblas, bagian depannya masih aman,” ujarnya.

Saat ini, warga yang terdampak untuk sementara waktu, para korban memilih mengungsi ke rumah kerabat mereka.

Selain kondisi tanah, pihak desa membenarkan keluhan warga terkait lalu lintas transportasi air di kawasan tersebut. Gelombang besar yang dihasilkan oleh kapal-kapal yang melintas dengan kecepatan tinggi kerap menghantam pondasi rumah dan merusak keramba ikan milik warga.

“Gelombang yang besar itu memang ada pengaruhnya, kadang-kadang kapal Melak kalau lewat Desa Embalut itu memang laju. Sering juga kami tegur, apalagi di Desa Embalut ini banyak keramba ikan warga. Biasanya kapal lewat sekitar jam 10.00 atau 10.30 pagi,” ucapnya.

Menyikapi masalah ini, Pemdes Embalut berencana mengambil tindakan tegas dengan menyurati pihak otoritas pelabuhan dan dinas terkait.

“Kami akan mengirim surat ke Dinas Perhubungan (Dishub) dan pihak pelabuhannya, supaya kapal yang lewat di perairan Desa Embalut untuk mengurangi kecepatan karena ombaknya yang dihasilkan itu besar,” ungkapnya.

Pemdes Embalut mengimbau kepada warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai untuk terus meningkatkan kewaspadaan, terutama saat intensitas transportasi air sedang tinggi.

Ke depan, pihak desa juga akan menggandeng BPBD Kukar untuk mengkaji kelayakan huni di kawasan pesisir sungai tersebut. Jika dari hasil kajian teknis menyatakan wilayah tersebut masuk dalam zona berbahaya, maka, Pemdes memastikan akan melarang adanya aktivitas pemukiman baru di sana.

“Kalau berbahaya, warga akan kami larang tinggal di sana, dan tidak diperbolehkan lagi membangun rumah yang permanen di area itu,” tutupnya.

Editor: Erwin

Tags:

Kutai KartanegaraBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Kutai Kartanegara.