Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Nasional

Hujan dan Angin Kencang jadi Badai Hancurkan Negara Asia Tenggara, Kerugian Indonesia Capai Rp66 Triliun

Koran Kaltim
3 Desember 2025
0 views
3 min
Tim penyelamat melewati lumpur sementara operasi pencarian dan penyelamatan terus berlanjut di wilayah yang dilanda banjir bandang mematikan menyusul hujan deras di Palembayan, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat (reuters)

KORANKALTIM.COM – Indonesia, Sri Lanka dan Thailand menghadapi banjir parah selama berhari-hari yang telah menyebabkan sekitar 1.300 orang meninggal dan ratusan lainnya hilang, sementara pemerintah dan para ahli menganalisis penyebab kehancuran dan besarnya kerusakan.

Tiga negara berkembang Asia itu, yang menjadi rumah bagi sekitar 380 juta orang, menghadapi kerugian serius berupa jiwa dan harta benda dengan runtuhnya ribuan rumah, jembatan dan sekolah yang akan berdampak pada perekonomian mereka dan kehidupan sekitar 8,4 juta orang yang terkena dampak bencana.

Badai yang menimbulkan bencana alam tersebut, yang melibatkan tiga siklon bersamaan di Asia Selatan dan Tenggara, tiba pada akhir November lalu untuk menutup bulan penuh bencana yang mana Filipina, Vietnam, Malaysia dan Thailand dilanda hujan luar biasa deras.

Hujan deras menimpa tanah yang sudah jenuh air, setelah sebulan diguyur hujan dan menimpa sungai-sungai yang alirannya meningkat akibat pemanasan global, sebuah fenomena yang khususnya memengaruhi kawasan Asia Pasifik, sebagaimana telah diperingatkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sebagian bencana disebabkan oleh La Niña, fenomena iklim dimana angin kencang mendorong perairan hangat melintasi Pasifik menuju Asia Timur, menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan badai.

Tantangan meteorologi ini ditambah dengan kurangnya perencanaan perkotaan  yang kini tertimbun lumpur, begitu pula dengan rumah-rumah yang dibangun di tepi sungai atau ditepi gunung.

Di Sumatera Utara, satu dari tiga provinsi di Indonesia yang berada dalam keadaan darurat selain Aceh dan Sumatera Barat, pemerintah daerah telah meminta pemerintah untuk menyatakan bencana nasional, sesuatu yang ditentang oleh Eksekutif mantan Jenderal Prabowo Subianto dan hanya terjadi tiga kali dalam tiga dekade terakhir, termasuk pandemi Covid-19 dan tsunami Samudra Hindia pada tahun 2004.

Dalam kasus Indonesia, ekonomi utama Asia Tenggara, Pusat Studi Ekonomi dan Hukum Indonesia (CELIOS) menunjuk deforestasi, perluasan perkebunan kelapa sawit dan aktivitas pertambangan di wilayah terdampak sebagai pemicu bencana ekologi .

Di Pulau Sumatera saat ini sedikitnya 744 orang meninggal dunia akibat banjir dalam sepekan terakhir, sementara lebih dari 599 orang masih hilang, jumlah korban jiwa ini bertambah dari lebih dari 400 orang meninggal dunia dan ratusan orang hilang di Sri Lanka dan 181 orang lainnya di Thailand.

Melansir dari saluran media global EFE Rabu (3/12/2025) hari ini, perkiraan kerusakan material mulai dihitung. Banjir di Thailand selatan, yang sudah mulai surut, telah merugikan Thailand sebesar $1,249 Miliar, lebih dari Rp20 Triliun, menurut perkiraan dari Kamar Dagang dan Industri Universitas setempat. 

Sementara imbas kehancuran di Sumatera membuat negara diperkirakan rugi lebih dari US$4 Miliar, setara dengan Rp66,5 Triliun menurut Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Indonesia.

Karena tidak adanya angka-angka ini untuk Sri Lanka, Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) hari ini mengingat negara tersebut menderita kerugian sekitar $1,1 Miliar akibat banjir tahun 2017, setara dengan Rp18,2 Triliun, ketika 246 orang meninggal, sebuah tragedi yang lebih kecil daripada banjir saat ini.


Editor: Aspian Nur

Tags:

NasionalBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Nasional.