Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Opini

Daripada Lelah Mengejar Nada Tinggi, Mending Keisya jadi Vokalis Deadsquad Saja

Koran Kaltim
1 Juli 2022
1.6K views
3 min
Daripada Lelah Mengejar Nada Tinggi, Mending Keisya jadi Vokalis Deadsquad Saja

WALAU pun saya penggemar berat hal-hil yang berbau luar angkasa, tapi kali ini  saya harus katakan ada persoalan yang lebih pantas dan mendesak untuk segera saya komentari dan tentu saja memberikan urun rembuk.

Urusan tukang bakso, promo Howwy Lings dan planet-planet yang sedang sejajar biar saja diurus oleh ahlinya, karena memang begitu seharusnya. Daripada saya ikut-ikutan bersuara tapi suara saya tak sampai, ha kan malah bikin malu. 

Energi saya, juga mungkin separuh lebih manusia Indonesia, sedang terserap untuk geger geden di dunia musik Tanah Air, yang tengah dihebohkan dengan dua isu besar. 

Pertama, tentang kabar hengkangnya Widi dari unit technical death metal asal Jakarta, Vierratale. Eh beda Widi. Maksudnya, Agustinus Widi dari Deadsquad. 

Widi yang baru bergabung kurang dari satu tahun yang lalu itu dikabarkan sudah tak lagi menjadi juru lantang para Pasukan Mati (fans Deadsquad), meskipun band yang dimotori Stevi Item itu baru saja merilis album baru berjudul Catharsis, yang juga sekaligus adalah album pertama dengan formasi baru, tanpa vokalis sebelumnya, Daniel Mardhany. 

Kabar ini langsung disambut warganet khususnya di skena musik bawah tanah, dengan berbagai tanggapan walaupun ya, harus diakui lebih banyak yang cenderung nyinyirin keputusan Om Tepi, sapaan Stevi Item sang gitaris sekaligus pendiri Deadsquad itu.

Alasannya macem-macem. Dari yang mengaku baru mulai suka karakter vokal Widi hingga ya yang emang sebel aja sama Om Tepi. 


Sayangnya, yang disebut terakhir itu jumlahnya banyak. Mendominasi malah. Mereka ini adalah jenis Metalhead (penggemar musik metal) yang merasa punya ikatan dengan band idolanya. 

Prinsip-prinsip bahwa pelaku musik metal harus punya semangat advokasi kepentingan umum, dan tidak semata mencari keuntungan dalam berkarya juga dipegang teguh oleh mereka. 

Setidaknya, itulah yang bisa saya tangkap dari lusinan komentar di unggahan-unggahan menyoal Deadsquad. 

Tapi yang tidak kalah menarik perhatian adalah, sibuknya warganet menjejali kolom komentar hampir di semua media sosial yang menampilkan aksi  Keisya Levronka, saat melantunkan lagu terbarunya. 

Jebolan Indonesian Idol itu, dianggap gagal mendudukkan nada tinggi yang pada versi rekaman studionya, begitu epik membuai telinga penikmat musik tanah air, nyaris di semua platform musik.

Potongan-potongan video Keisya gagal menyanyikan nada tinggi itu terus dibagikan dan dikomentari. Kamu juga pasti tahu, sebagian besarnya mengungkapkan kekecewaan, karena ekspektasi kualitas yang diharap didapat dari jebolan ajang pencarian bakat legendaris itu terjerembab hingga ndlosor. 

Sebagai orang awam dalam dunia tarik suara, saya bisa menangkap pesan yang disampaikan banyak ekspert. Mulai dari menurunkan nada, hingga pakai teknik falsetto alih-alih head voice. 

Tapi sayangnya, hari ke hari, temuan momen Keisya lagi-lagi tak berhasil mengeksekusi nada yang jadi hook nan menohok lagu berjudul Tak Ingin Usai itu terus bermunculan. 

Entah, mungkin Keisya sendiri ingin membuktikan bahwa sejatinya dia bisa membawakan lagu itu dengan paripurna. Tapi kan, bukannya manusia itu tempatnya ketidaksempurnaan? Kalau saja Keisya enggak sengaja membaca tulisan ini, saya cuma mau bilang. Enggak apa-apa enggak sempurna. Karena sempurna itu adalah sifatnya Tuhan. 

Sekalinya ia ada di dunia, ia cuma ada dan bisa dihadirkan oleh Andra and The Back Bone. Secara kebetulan, lagu itu ditulis oleh Stevi Item, alias Om Tepi. 

Barangkali ini adalah sebuah nubuat. Petunjuk dari semesta, bahwa sudah saatnya, Keisya Levronka yang berasal dari genre populer, sedikit bergeser untuk meneriakkan lagu Pasukan Mati. 


Ah, saya jadi membayangkan Keisya yang disebut oleh salah satu guru vokal kerap salah ambil posisi ketika mengambil nada tinggi, yang seharusnya menunduk tapi justru mendongak. 

Tak lagi harus lelah-lelah mengikuti standar teknis semacam itu lagi. Dia hanya perlu  memegang microphone dengan rambut diurai, dan sambil menunduk lalu berteriak secukupnya, dengan teknik growl untuk menyelesaikan lagu Curse of The Black Plague. 

Bukankah itu akan membahagiakan untuk kita semua? 


Rusdianto

Samarinda 28 Juni 2022

Tags:

OpiniBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Opini.