KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Hari Raya Iduladha yang diperingati setiap 10 Zulhijah tahun Hijriyah ini sejatinya terdapat nilai yang sangat besar untuk dapat diteladani dalam kehidupan sehari-hari.
Hari Raya Iduladha bermula ketika Nabi Ibrahim AS mendapat wahyu atau perintah dari Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail AS anaknya sendiri, seperti yang termaktub dalam Alqur'an surat As Saffat.
Mimpi mengurbankan Ismail AS datang terus menerus sampai tiga kali hingga akhirnya Nabi Ibrahim melakukan perintah tersebut.
Lalu, Allah SWT menurunkan firman-Nya yang termuat dalam Alquran surat As-Saffat ayat 104-108. Allah SWT hanya bermaksud untuk menguji Nabi Ibrahim AS kemudian mengganti sembelihan dengan seekor kambing.
Habib Alwi Baraqbah,Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al-Baghdadi di Kota Samarinda, Kalimantan Timur menyebut, perayaan Iduladha itu sejatinya mengajarkan umat muslim untuk senantiasa bertawakal kepada Allah SWT dan sabar dalam setiap perjuangan karena di dalamnya pasti ada pengorbanan.
"Tawakkal kepada Allah SWT, pasrah dalam setiap keadaan, menyerahkan diri. Perjuangan butuh pengorbanan yang hakiki yakni mengorbankan diri untuk beribadah kepada Allah SWT," ucap Habib Alwi kepada Korankaltim.com Minggu (10/7/2022) hari ini.
Dalam menjalankan kehidupan, Habib Alwi berpesan kepada masyarakat agar senantiasa bersama ulama, karena ulama insya Allah benar-benar lurus.
"Karena ulama tidak akan provokasi masyarakat untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan," paparnya.
Terpisah, Ketua DPD PKS Kutai Kartanegara Ustadz Firnadi Ikhsan menyampaikan perayaan IdulAdha adalah tentang kesejatian tauhid, sebenar benarnya iman hingga melahirkan sikap kerelaan berkorban seperti dicontohkan Nabiyullah Ibrahim AS dan keluarganya.
"Hal ini mendorong kita bersikap selalu dalam kebenaran, berbuat baik dan ringan berkorban untuk itu, semangat berbagi dan berjiwa sosial," ujar Firnadi.
Penulis : Faishal Ays
Editor: Aspian Nur




