Oleh Riyawan, S.Hut.
Direktur Data Plus Indonesia
Politik Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menunjukkan tensi yang tidak biasa, meskipun Pilkada 2031 masih terbilang jauh. Di tengah isu publik seperti harga BBM hingga nasib tenaga honorer, para elit politik justru sudah lebih dulu memanaskan mesin.
Arah pertarungan mulai terlihat, dan publik perlahan disuguhkan narasi besar yakni duel panas antara Aulia Rahman Basri dan Rendi Solihin.
Namun, di balik pertarungan dua nama besar itu, ada satu sosok yang diam-diam mulai mencuri perhatian. Tidak banyak dibicarakan, tapi potensinya tidak bisa dianggap remeh.
Gerindra Gas Pol, PDIP Tetap Kalem: Strategi Berbeda di Awal Pertarungan
Langkah agresif datang dari Partai Gerindra. Dalam rapat koordinasi tingkat daerah, sinyal perlawanan terhadap dominasi PDIP di Kukar disampaikan secara terbuka. Targetnya pun tidak tanggung-tanggung yakni ingin merebut 20 kursi DPRD Kukar pada Pemilu 2029.
Angka ini jelas bukan sekadar ambisi. Saat ini PDIP menguasai 16 kursi, dan Gerindra ingin melampaui itu dengan strategi yang sudah disusun sejak dini. Mulai dari restrukturisasi kepengurusan di tingkat kecamatan, pembentukan tim pemenangan hingga akar rumput, sampai seleksi ketat calon legislatif yang akan diproyeksikan menjadi mesin suara.
Yang membuat situasi semakin menarik adalah sosok di balik strategi ini. Aulia Rahman Basri bukan pemain baru dalam peta politik Kukar. Ia justru pernah menjadi bagian penting dari PDIP dan dikenal sebagai arsitek kemenangan partai tersebut pada Pemilu 2024. Perpindahannya ke Gerindra menjadikannya figur yang sangat memahami kekuatan sekaligus kelemahan lawan.
Dalam konteks politik, ini bukan sekadar perpindahan kader. Ini adalah perubahan posisi yang berpotensi mengubah peta kekuatan secara signifikan.
Di sisi lain, PDIP memilih pendekatan yang lebih tenang. Tidak ada reaksi frontal terhadap “tantangan” dari Gerindra. Pernyataan resmi justru bernada diplomatis dan cenderung meredam tensi.
Alih-alih terjebak dalam narasi konflik, PDIP mencoba tetap fokus pada isu publik seperti kesejahteraan pegawai, pengangkatan PPPK, hingga perhatian terhadap tenaga honorer. Strategi ini menunjukkan bahwa PDIP tidak ingin bermain dalam frame yang dibangun lawan.
Namun, sikap tenang bukan berarti tanpa kewaspadaan. Kehilangan sosok strategis seperti Aulia jelas bukan hal kecil, dan efeknya bisa terasa dalam jangka panjang.
Hasil Survei Mulai Bicara: Aulia Unggul, Rendi Disukai, Persaingan Belum Final
Peta kekuatan mulai terlihat dari hasil survei yang dirilis pada Awal tahun 2026 oleh lembaga riset independen Data Plus Indonesia (DPI). Data ini memberikan gambaran awal tentang siapa yang benar-benar punya peluang di mata publik.
Dari sisi top of mind atau nama yang pertama kali muncul di benak masyarakat, Aulia Rahman Basri tampil dominan dengan angka 39,29 persen. Jauh di atas Rendi Solihin yang berada di angka 12,29 persen. Ini menunjukkan bahwa Aulia sudah melekat kuat di ingatan publik sebagai figur calon pemimpin.
Namun, cerita berbeda muncul saat melihat tingkat popularitas dan kesukaan. Rendi justru unggul tipis dengan tingkat pengenalan mencapai 83,71 persen dan tingkat kesukaan 90,10 persen. Sementara Aulia berada di angka 78,86 persen untuk pengenalan dan 88,95 persen untuk kesukaan.
Artinya, Rendi memiliki citra personal yang sangat kuat di mata masyarakat. Ia dikenal luas dan disukai, sebuah modal sosial yang sangat penting dalam kontestasi politik.
Ketika masuk ke simulasi elektabilitas langsung, Aulia kembali memimpin dengan angka 40,71 persen, sedangkan Rendi berada di 17,43 persen. Selisih ini cukup signifikan, namun ada satu faktor penting yang tidak boleh diabaikan, bahwa lebih dari 23 persen pemilih masih belum menentukan pilihan.
Dalam simulasi yang lebih spesifik dengan beberapa kandidat, pola yang muncul tetap konsisten. Aulia berada di kisaran 43–44 persen, sementara Rendi bertahan di angka 24–25 persen.
Data ini menunjukkan bahwa Aulia unggul secara elektoral, tetapi belum sepenuhnya aman. Rendi masih punya ruang besar untuk mengejar, terutama dengan basis pemilih yang sudah mengenal dan menyukainya.
Kuda Hitam Thauhid Afrilian Noor: Diam Tapi Berpotensi Meledak
Di tengah dominasi dua nama besar, muncul satu sosok yang sejauh ini belum banyak diperbincangkan yakni Thauhid Afrilian Noor.
Secara angka, posisinya memang masih jauh. Tingkat pengenalan hanya sekitar 15,14 persen, dengan elektabilitas di bawah 3 persen. Dalam simulasi pun, namanya belum menjadi pesaing utama. Namun, ada dua indikator yang membuatnya menarik untuk diperhatikan.
Pertama, tingkat kesukaan yang mencapai 76,42 persen. Ini berarti mayoritas orang yang mengenalnya memiliki persepsi positif. Masalahnya hanya satu, belum cukup banyak yang mengenal.
Kedua, tingkat keyakinan pemilihnya yang sangat tinggi. Sebanyak 42,1 persen pendukungnya percaya ia bisa menang. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan keyakinan pemilih Aulia maupun Rendi.
Dalam dinamika politik, profil seperti ini sering disebut sebagai “kuda hitam”. Tidak menonjol di awal, tetapi punya potensi lonjakan besar jika momentum berhasil dimanfaatkan.
Jika dalam beberapa tahun ke depan tingkat pengenalannya meningkat melalui kampanye, media sosial, atau dukungan tokoh tertentu, bukan tidak mungkin grafik elektabilitasnya akan naik tajam. Dan di situlah potensi kejutan bisa terjadi.
Peta Menuju 2031: Tiga Skenario yang Mungkin Terjadi
Melihat dinamika saat ini, setidaknya ada tiga skenario yang bisa berkembang menuju Pilkada Kukar 2031.
Skenario pertama adalah duel langsung antara Aulia dan Rendi. Ini adalah pertarungan ideal yang saat ini mulai terbentuk. Gerindra dengan kekuatan mesin politik dan strategi agresif, berhadapan dengan PDIP yang mengandalkan basis loyal dan citra kandidat yang kuat.
Skenario kedua adalah kemungkinan koalisi besar. Dalam politik, tidak ada yang benar-benar mustahil. Jika kedua tokoh memilih berada dalam satu poros, maka peta kekuatan akan berubah total dan kontestasi bisa menjadi tidak kompetitif.
Skenario ketiga adalah munculnya faktor penentu dari luar, yaitu Thauhid. Dalam kondisi persaingan ketat, suara kecil tapi solid bisa menjadi pembeda. Bahkan bukan tidak mungkin, ia justru menjadi kejutan utama jika mampu memanfaatkan momentum.
Pertarungan Masih Panjang, Kejutan Masih Terbuka
Pilkada Kukar 2031 memang masih beberapa tahun lagi, tetapi tanda-tanda pertarungan sudah terlihat sejak sekarang. Gerindra memilih jalur agresif, PDIP tetap tenang, dan publik mulai membentuk preferensi.
Aulia Rahman Basri saat ini berada di posisi terdepan, tetapi posisinya belum sepenuhnya aman, Rendi Solihin memiliki kedekatan emosional dengan pemilih, namun masih perlu meningkatkan elektabilitas. Sementara Thauhid Afrilian Noor menjadi variabel yang bisa mengubah arah permainan kapan saja.
Yang pasti, politik Kukar tidak pernah sederhana. Selalu ada dinamika, selalu ada kejutan. Dan jika melihat tren saat ini, satu hal yang jelas bahwa pertarungan menuju 2031 bukan soal siapa yang kuat di awal, tapi siapa yang mampu bertahan, beradaptasi, dan mengambil momentum di waktu yang tepat.




