TENGGARONG – Tingkat partisipasi pemilih di sejumlah daerah jauh dari kata memuaskan. Rata-rata partisipasi pemilih di kabupaten/kota di Kaltim berkisar di bawah 60 persen. Jauh dari target 77,5 persen yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI.
Di Kutai Barat misalnya. Dari 109.927 pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilgub Kaltim 27 Juni Juni 2018, hanya 60 persen yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan menyalurkan hak pilihnya. Dengan kata lain, 40 persen golput.
KPU Kubar mengakui partisipasi masyarakat dalam Pilgub Kaltim tahun ini menurun dari Pilkada Kubar pada 2016 silam. “Jauh menurun partisipasi masyarakat dalam Pilgub Kaltim 2018. Dari jumlah dalam DPT, hanya 60 persen masyarakat yang datang ke TPS. Sedangkan pada Pilkada Bupati/Wabup Kubar 2016 lalu masih berkisar 80 persen,” kata Ketua KPU Kubar FX Irianto kepada Koran Kaltim, Kamis (28/6).
KPU pun membantah jika ada yang mengaitkan tingginya golput itu karena masyarakat tak mendapat C6 atau surat undangan pemberitahuan kepada masyarakat. Pihaknya memastikan Petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) telah bekerja maksimal.
“Kami punya rekapitulasi distribusi C6 KWK Pilgub Kaltim 2018 untuk 16 kecamatan se-Kubar. Dari 194 kampung dan kelurahan serta 362 TPS, surat C6 terdistribusi 91,46 persen. Itu bukti bahwa petugas PPS benar-benar bekerja,” tambah Komisioner Divisi Hukum KPU Kubar, Arkadius Hanye.
Dia menyebut ada hal menarik didapati petugas PPS di lapangan, bahwa sangat banyak warga yang tercatat sesuai dengan alamat di KTP-el, tetapi tidak berdomisili pada alamat tersebut.
“Prinsifnya KPU mendistribusikan C6 itu sesuai SOP KPU kepada warga sesuai dengan alamat di KTP-el dimana warga tersebut terdaftar. Tetapi ketika sesuai alamat tidak ditemukan warga yang bersangkutan atau tidak ada rumahnya, maka C6 tidak akan terdistribusi,” bebernya lagi.
Di Bontang, partisipasi pemilih lebih rendah lagi. Hanya 58,9 persen yang menyalurkan hak pilihnya dari 114.111 yang terdaftar di DPT.
Ketua KPU Bontang Suardi mengatakan rendahnya partisipasi pemilih itu disebabkan beberapa faktor. Di antaranya Pilgub bertepatan dengan libur panjang lebaran, di samping itu bersamaan dengan masa libur anak-anak sekolah.
“Ini jelas ada pengaruhnya juga, termasuk saat hari pelaksanaan Pilgub, curah hujan cukup tinggi dari pagi hingga siang,” ujar Suardi.
Namun, persentase itu bisa berubah saat KPU Bontang melakukan perhitungan secara manual.
Di Paser lebih parah lagi. Partisipasi masyarakat di wilayah itu hanya 54,99 persen, dengan DPT 173.484 pemilih.
Ketua KPU Paser Eka Yusda Indrawan mengatakan, minimnya partisipasi masyarakat dalam memilih pemimpin Kaltim lima tahun ke depan di pengaruhi beberapa hal. Di antaranya, banyak pemilih yang masih berada di luar daerah pasca libur panjang. “Masih berada di luar daerah dan belum kembali pada saat hari pemungutan suara,” kata Ketua KPU Paser Eka Yusda Indrawan.
Meski demikian, Eka bersyukur pelaksanaan Pilgub Kaltim di Paser berlangsung aman dan tertib. “Alhamdulillah, pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara bisa terlaksana dengan tertib tanpa ada kejadian yang bisa mengganggu pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara di TPS,” kata Eka.
Sementara di Penajam Paser Utara. KPU setempat belum bisa memastikan persentase pemilih dalam Pemilihan Gubernur Kaltim dan Pemilihan Bupati PPU.
Ketua KPU PPU, Feri Mei Efendi mengatakan sejumlah PPK baru mulai melaksanakan pleno. “Saya barusan dari beberapa kecamatan, PPK Penajam dan Waru, hari ini (kemarin, Red) sudah mulai pleno dan PPK Waru dan Sepaku itu besok (hari ini, Red). Makanya untuk tingkat partisipasi itu belum memastikan, sebelum logistik masuk ke Kantor KPU,” ungkapnya.
Namun, ia pesimis target partisipasi masyarakat PPU bisa melampaui target nasional. Sebab, masih terdapat masyarakat PPU yang berada di luar daerah untuk menempuh pendidikan.
“Perkiraan kami hanya 69-70 persen, karena kita ketahui bersama, posisi sekarang masih banyak orang yang libur, anak-anak sekolah pada liburan dan posisi orang mudik maupun balik itu tidak berimbang,” tuturnya.
KUKAR MENINGKAT
Berbeda dengan daerah lain, partisipasi pemilih di Kutai Kartanegara justru meningkat. Yakni sekitar 61,24 persen.
Ketua KPU Kukar Junaidi Samsuddin mengatakan, jumlah itu bisa bertambah seiring data yang masuk. “Kalau semua data masuk, ada kemungkinan jumlah partisipasi warga meningkat,” harapnya.
Jumlah ini sendiri lebih baik dibanding partisipasi warga pada Pemilihan Bupati pada Desember 2015 silam yang hanya 58,9 persen. “Kalau sementara ini, pemilih mengalami kenaikan, tapi kan belum masuk semua TPS,” ungkapnya. (imr/cil/dc1217/wn/ami)




