Penulis : Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Kesiapan Teras Samarinda Tahap II di Jalan Gajah Mada untuk digunakan masyarakat tak hanya ditentukan oleh kelengkapan fasilitas di atas kawasan pedestrian.
Kondisi tanaman, rumput, hingga tumpukan sampah di tepian Sungai Mahakam juga menjadi pekerjaan rumah sebelum ruang publik tersebut benar-benar dibuka untuk masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda Suwarso menyampaikan, berdasarkan hasil peninjauan, memang masih ditemukan sejumlah tanaman yang mati dan membutuhkan penggantian dari kontraktor. “Memang saya lihat ada beberapa tanaman yang mati. Nanti kita tunggu penggantian dari kontraktor,” terang Suwarso, Selasa (11/8/2026).
Selain kondisi vegetasi, ketersediaan jaringan air untuk pemeliharaan rumput dan pohon peneduh turut ditunggu kepastiannya. Apabila kontraktor belum menyiapkan fasilitas tersebut, DLH mempertimbangkan opsi pemasangan secara mandiri.
Namun penggunaan sprinkler yang ada saat ini dinilai kurang praktis lantaran pemeliharaannya rumit, serta berisiko merusak struktur tanah kawasan pedestrian jika harus membongkar jalur bawah tanah. “Kami coba untuk pasang jaringan, mungkin tidak sprinkler karena pemeliharaannya susah,” jelasnya.
Untuk menekan beban penggunaan air Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Kencana, penyiraman tanaman diarahkan menggunakan air Sungai Mahakam. Di sisi lain, kondisi rumput gajah mini juga memerlukan perlakuan khusus, karena sukar tumbuh optimal apabila lapisan di bawahnya masih dipenuhi bebatuan. “Lihat perkembangan dulu setelah kontraktor melakukan perbaikan,” ujar Suwarso.
Persoalan lain yang menjadi perhatian utama yakni tumpukan sampah di sepanjang tepian sungai. Material yang mengendap tidak hanya berupa sampah ringan, melainkan balok kayu, rumput, hingga perakaran yang telah memadat menyerupai timbunan tanah.
Lantaran penanganannya membutuhkan pekerjaan dalam skala besar, diperlukan koordinasi DLH Samarinda dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV, dan penanganannya ditargetkan mulai pada Agustus ini.
Sebagai langkah penanganan cepat, opsi kerja bakti bersama di kawasan Sungai Pasar Pagi tengah dimatangkan untuk dilaksanakan pada Jumat pekan ini. Guna mengantisipasi sampah susulan terbawa aliran air, kawat penyaring (wire mesh) bakal dipasang pada pintu air untuk menahan material kayu dan dedaunan. “Mudah-mudahan sebelum koordinasi pekan ini sudah ada informasi bagaimana upaya penanganannya,” harapnya.
Sebelumnya Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menargetkan kawasan Teras Samarinda Tahap II mulai beroperasi pada September 2026 dengan tetap mengutamakan kelayakan fasilitas, kebersihan, serta keamanan pengunjung.
Editor: Aspian Nur




