Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kualitas udara Kota Samarinda berada pada kategori sedang dengan indeks kualitas udara mencapai 80 pada Jumat (4/9/2026).
Kondisi tersebut terpantau di tengah kemunculan kabut di sejumlah wilayah dan meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data IQAir dari stasiun pemantau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hingga Jumat siang, polutan utama yang memengaruhi kualitas udara Samarinda adalah PM2.5.
Konsentrasi PM2.5 tercatat 24,7 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut setara 4,9 kali lipat dari batas panduan tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Meski masih berada dalam kategori sedang, kondisi tersebut menunjukkan adanya peningkatan paparan partikel halus di udara yang perlu diwaspadai, terutama jika aktivitas karhutla dan kabut asap terus berlangsung.
“Rata-rata kebakaran terjadi dari siang ke malam, itu mempengaruhi kualitas udara, tetapi secara umum masih dalam kategori sedang,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda Suwarso.
Secara visual, ruang udara kota tampak diselimuti kabut tipis. Sebagian warga bahkan mulai merasakan perih di mata saat berada di ruang terbuka.
Karena itu, masyarakat diminta untuk lebih waspada dan disarankan mengenakan masker serta kacamata pelindung, terutama bagi kelompok rentan.
Penurunan mutu udara di Kota Tepian dinilai sangat bergantung pada arah angin dan intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan sekitar. Sebaran asap dapat terbawa angin hingga memperburuk kondisi udara di kecamatan lain.
Sejumlah wilayah tercatat memiliki kerawanan tinggi karhutla. Palaran mencatatkan 46 kejadian dengan luas area terbakar mencapai 991.100 meter persegi. Sambutan menyumbang 34 kejadian dengan luas 787.800 meter persegi, sedangkan Samarinda Ulu mencatat 19 kejadian dengan luas lahan terbakar 210.185 meter persegi, periode Januari hingga awal September.
Kondisi udara di kawasan tersebut berfluktuasi dalam hitungan jam, khususnya pada siang hingga sore hari saat marak terjadi kebakaran.
“Kalau di Samarinda atau daerah sekitar tingkat kebakarannya tinggi, ada kemungkinan kualitas udaranya makin menurun,” terangnya.
Guna mengantisipasi dampak kesehatan akibat debu dan kemarau, DLH berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) hingga tingkat puskesmas.
Langkah ini diambil untuk memastikan warga yang mengalami Gangguan Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dapat segera memperoleh tindakan medis.
“Sampai di puskesmas untuk melakukan pemantauan dan pengobatan kalau terjadi ISPA dampak dari kekeringan,” paparnya.
Di sisi lain, pemantauan kualitas udara terus berjalan secara berkala. Pembagian masker disebut terus disalurkan ke daerah yang memiliki frekuensi karhutla tinggi atau wilayah yang menunjukkan kriteria udara mendekati buruk.
Data IQAir memproyeksikan kualitas udara Samarinda melandai secara bertahap mulai sore hingga malam, dengan perkiraan indeks turun ke angka 61 pada pukul 22.00 WITA.
Adapun prakiraan sepekan ke depan menunjukkan tren harian berada di kisaran 45 hingga 59, mendekati kategori baik.
Kendati status udara masih bertahan di kategori sedang, warga dianjurkan membatasi aktivitas di luar gedung jika tidak ada keperluan mendesak, terutama saat kabut asap mulai menebal.
“Kalau tidak penting, baiknya tidak usah keluar rumah dahulu,” tandasnya.
Editor: Erwin




