Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Beredar selebaran digital yang mengimbau masyarakat tidak menampung air hujan karena dikaitkan dengan penggunaan bahan berbahaya dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda memastikan informasi tersebut tidak berasal dari lembaga resmi.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto BMKG Samarinda Riza Arian Noor mengatakan, masyarakat perlu mencermati sumber informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Ia menilai selebaran yang beredar tidak memenuhi unsur informasi resmi karena tidak mencantumkan pihak yang bertanggung jawab.
“Infografis tanpa keterangan siapa yang mengeluarkan sama sekali,” ujar Riza saat dikonfirmasi, Minggu (6/9/2026).
Selain persoalan sumber informasi, Riza memastikan hingga saat ini tidak ada pelaksanaan OMC di wilayah Kaltim. Dengan demikian, kabar yang menghubungkan air hujan dengan kegiatan tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Tidak ada kegiatan OMC di Kaltim sampai saat ini. Jadi, anggapan bahwa air hujan tercemar akibat penyemaian awan itu tidak benar. Kalau pun dilakukan modifikasi cuaca, bahan semainya berupa garam halus atau Natrium Klorida (NaCl), bukan bahan kimia berbahaya,” tegasnya
Ia menjelaskan partikel tersebut digunakan untuk membantu proses kondensasi pada awan yang memenuhi syarat sehingga mempercepat pembentukan butiran air.
“Kajian ilmiah menunjukkan tidak ada pengaruh signifikan terhadap kesehatan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk memastikan asal-usul selebaran tersebut. Hasil pengecekan menunjukkan tidak ada informasi resmi yang mendasari imbauan larangan menampung air hujan.
“Sumber infografis tersebut tidak jelas,” ujar Suwarso.
Ia menambahkan, pelaksanaan OMC bergantung pada kondisi atmosfer, terutama keberadaan awan yang memenuhi kriteria untuk dilakukan penyemaian.
“Untuk Samarinda sampai saat ini belum ada kegiatan maupun jadwal pelaksanaan OMC. Kondisi atmosfer juga belum menunjukkan adanya pertumbuhan benih awan yang berpotensi untuk dilakukan penyemaian,” kata Suwarso.
Suwarso mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil kesimpulan mengenai keamanan air hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, kualitas air dapat dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium.
“Jangan langsung percaya atau menyebarkan informasi yang sumbernya tidak jelas. Kami mengimbau masyarakat untuk saring sebelum sharing dan memastikan informasi terkait cuaca maupun lingkungan melalui kanal resmi pemerintah,” pungkasnya.
Editor: Erwin




