Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kemarau panjang di Kota Tepian mulai mengancam produksi pangan lokal akibat minimnya hujan, membuat sejumlah lahan pertanian kekurangan pasokan air.
Para petani pun menghadapi risiko tanaman rusak hingga gagal panen jika kondisi kering terus berlangsung.
Guna menyelamatkan lahan pertanian yang terancam kekeringan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distapangtani) Samarinda menyiagakan sumber air alternatif di kawasan Betapus dan Lempake Jaya, Kecamatan Samarinda Utara.
Penyelamatan lahan difokuskan dengan memanfaatkan aliran anak Sungai Karang Mumus (SKM). Dua unit pompa berkapasitas besar disiapkan untuk menyedot dan menyalurkan air ke persawahan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Distapangtani Samarinda, Noke Pattipawaej, menerangkan pemompaan air anak sungai menjadi opsi tercepat menekan risiko gagal panen.
“Untuk saat ini Distapangtani mencoba mencari alternatif pengairan dengan cara pemompaan pada sumber anak SKM,” ungkapnya, Senin (8/9/2026).
Di Betapus, intervensi pengairan ini menyasar sekitar 40 hektare sawah serta 30 hektare lahan hortikultura dan tanaman pangan lainnya. Penempatan dua unit pompa tersebut ditargetkan beroperasi mulai Rabu (9/9/2026).
“Harapan kami dengan adanya pompa ini setidaknya bisa mengurangi dampak risiko gagal panen,” terangnya.
Langkah darurat ini menyokong sedikitnya lima kelompok tani dengan total anggota sekitar 100 orang. Perhatian utama tertuju pada tanaman padi berusia 30 hari setelah tanam yang berada pada fase krusial membutuhkan pasokan air.
“Yang kita khawatirkan adalah padi sawah baru 30 hari setelah tanam. Pada fase itu tanaman perlu air,” jelasnya.
Kondisi lebih menantang ditemui di kawasan Serayu. Petani yang baru menyelesaikan masa tanam sama sekali tidak memiliki akses sumber air. Distapangtani lantas menyiapkan skema penyuplaian armada tangki untuk mengisi embung sebelum air dialirkan ke lahan persawahan.
Kendati demikian, penggunaan air tangki tersebut wajib melewati pengujian kualitas guna memastikan bebas dari kandungan logam berat yang berpotensi merusak tanaman.
“Kita masih mencoba kualitas airnya sebelum memasukkan ke lahan persawahan. Kalau kandungan logamnya terlalu berat, takutnya malah berpengaruh buruk ke padinya,” paparnya.
Guna mempermudah alokasi bantuan pengairan, para petani diimbau berkoordinasi melalui kelompok tani dan penyuluh lapangan yang terhubung ke Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Makroman, Lempake, Sungai Kunjang, maupun Palaran. Penanganan krisis air ini turut melibatkan Balai Wilayah Sungai (BWS), Dinas PUPR, serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Saat ini, luas lahan yang belum memasuki masa panen di kawasan Serayu tercatat sekitar 40 hektare, dari total estimasi 200 hingga 300 hektare lahan persawahan yang masih bertahan di Samarinda.
“Kita harap tidak gagal panen, tidak puso. Walau ada dampak kekeringan, mereka bisa menghasilkan walaupun turun jumlah produksinya,” tutupnya.
Editor: Erwin




