Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Samarinda

22 Tahun Kasus Munir, Aktor Intelektual Masih Jadi Tanda Tanya

Koran Kaltim
8 September 2026
0 views
•2 min
Koalisi September Hitam membentangkan spanduk di simpang empat Lembuswana, Senin (8/9/2026). (Foto: Istimewa)

Penulis: M Rafik

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Tepat 22 lalu, aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib tewas, namun siapa aktor intelektual di balik pembunuhan tersebut hingga kini masih menjadi tanda tanya. 

Koalisi September Hitam mendesak pemerintah membuka kembali kasus tersebut dan mengungkap seluruh pihak yang terlibat.

Narahubung Koalisi September Hitam, Yopin Pratama, mengatakan peringatan 22 tahun kematian Munir menjadi momentum untuk merefleksikan kembali perjalanan kasus tersebut sekaligus mengingatkan pemerintah agar tidak membiarkan persoalan berhenti pada pelaku lapangan.

“Lebih tepatnya, kita ingin kembali merefleksikan diri sekaligus mengingatkan kembali pemerintah, terutama negara, terkait kasus Munir yang sudah 22 tahun berlalu. Namun hingga hari ini belum ada titik terang, khususnya terkait aktor intelektual yang ikut serta dalam upaya pembunuhan aktivis HAM tersebut,” ujar Yopin, Selasa (8/9/2026).

Munir meninggal pada 7 September 2004 dalam penerbangan Garuda GA-974 rute Jakarta-Amsterdam melalui Singapura. Hasil pemeriksaan forensik di Belanda menemukan adanya racun arsenik dalam tubuhnya.

Sejumlah pihak telah diproses secara hukum dalam kasus tersebut. Namun, menurut Yopin, proses hukum terhadap pelaku lapangan belum menjawab pertanyaan terbesar mengenai pihak yang merencanakan dan memerintahkan pembunuhan Munir.

“Yang harus diketahui publik adalah siapa dalang di balik proses perencanaan hingga upaya pembunuhan terhadap Munir. Itu yang sampai sekarang belum terungkap,” katanya.

Ia menyebut hasil kerja Tim Pencari Fakta (TPF) menunjukkan adanya indikasi keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut. Karena itu, Koalisi September Hitam mendesak Komnas HAM dan Kejaksaan Agung menuntaskan penyelidikan serta memproses seluruh pihak yang terlibat berdasarkan bukti.

Koalisi juga meminta pemerintah membuka dokumen TPF Munir kepada publik sesuai ketentuan hukum dan memastikan tidak ada impunitas, termasuk bagi pihak yang memiliki kekuasaan dan jabatan.

“Munir boleh dibunuh, tetapi kebenaran tidak pernah bisa dibungkam,” tegasnya. 

Editor: Erwin

Tags:

SamarindaBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Samarinda.