Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Rencana modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi kemarau berkepanjangan di Kota Samarinda belum dapat dilaksanakan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda disebut telah menyiagakan anggaran dan skenario teknis sejak beberapa pekan lalu. Namun, tutupan awan hingga kini belum memenuhi syarat untuk penyemaian.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, skema ini disiapkan sebagai mitigasi dini menghadapi ancaman kemarau panjang, menyusul peringatan potensi El Nino yang dikhawatirkan memperparah kekeringan.
“Kondisi awan kita belum pas untuk dilakukan modifikasi cuaca karena awannya tipis dan tidak berkumpul,” kata Andi Harun, Jumat (11/9/2026).
Kerentanan Kota Tepian terhadap krisis air bersih serta perembesan air laut menjadi dasar penguatan langkah antisipasi.
Mitigasi juga difokuskan pada potensi lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Seluruh posko pemadam disiagakan dengan standar durasi respons (response time) maksimal 10 menit untuk radius dekat dan 15 menit bagi kawasan yang lebih jauh.
Kendati demikian, tren kemunculan titik panas (hotspot) dan titik api terus memuncak. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda mencatat hingga 11 September ini, kejadian karhutla telah terjadi sebanyak 165 kali dengan luasan terdampak mencapai 344,43 hektare.
Situasi tersebut mengharuskan adanya koordinasi kuat dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Lanud Dhomber Balikpapan guna menyiagakan dukungan water bombing dan teknologi modifikasi cuaca (TMC).
Kesiapan anggaran operasi tidak menjadi kendala, sebab hambatan utama murni bersumber dari kondisi atmosfer yang belum ideal untuk memicu hujan buatan.
Selain pemadaman darat, penanganan karhutla diperkuat lewat jalur udara. Helikopter bantuan BNPB telah mendarat di Bandara APT Pranoto, Sungai Siring pada Selasa (8/9/2026) lalu untuk disiagakan menjalankan operasi water bombing.
Kesiapsiagaan posko di tingkat kecamatan dan kota tetap diandalkan bersama sokongan personel TNI, Polri, serta relawan. Kehadiran armada tersebut dinilai sangat membantu percepatan penanggulangan karhutla di daerah.
Andi Harun mengakui, bantuan unit udara tersebut murni disokong Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tanpa membebani kas daerah.
“Pesawat yang melaksanakan penyiraman melalui pesawat dan helikopter akan menyesuaikan terhadap perkembangan sampai kita nyatakan Samarinda relatif aman untuk kebakaran,” pungkasnya.
Editor: Erwin




