Penulis : Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM,SAMARINDA — Intrusi air laut ke Sungai Mahakam tidak hanya berdampak pada produksi air bersih di Kota Samarinda tetapi juga menjadi perhatian dari sisi kesehatan.
Keterbatasan air untuk kebutuhan sehari-hari dinilai dapat meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan sanitasi, satu diantaranya diare. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda Ismed Kusasih mengatakan, kondisi sumber air baku yang terdampak intrusi perlu diwaspadai karena dapat membatasi produksi air bersih.
Dampaknya bukan hanya pada kebutuhan konsumsi, tetapi juga aktivitas masyarakat seperti mandi, mencuci dan kebutuhan sanitasi lainnya. “Ada intrusi, air laut sudah masuk ke Sungai Mahakam, sehingga ada kemungkinan produksi air bersih dari Perumda akan terbatas,” kata Ismed.
Kondisi tersebut membuat dinkes turut memantau perkembangan kasus diare di Kota Tepian. Sebab keterbatasan air bersih dapat berpengaruh terhadap kebersihan dan sanitasi masyarakat. Hingga Agustus 2026 lalu, kasus diare tercatat sekitar 36,2 kasus per hari.
Namun, Ismed menyebut belum terdapat peningkatan kasus diare dalam pemantauan terakhir. “Untuk diare ini ada peningkatan, bulan ini masih rata, masih sama,” ujarnya. Dinkes Samarinda saat ini melakukan langkah antisipasi dari sisi kesehatan dengan memantau kondisi lingkungan dan penyakit yang berpotensi muncul selama kekeringan.
Masyarakat juga perlu menjaga kebersihan meski ketersediaan air bersih kerap kali mengalami keterbatasan. “Kami hanya mem-back up dari aspek-aspek yang harus diperhatikan dari sisi kesehatan,” pungkas Ismed.
Editor: Aspian Nur




