Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Samarinda

Kolam Eks Tambang yang Tewaskan Bocah 7 Tahun di Bayur Sempaja Diminta Ditutup

Koran Kaltim
16 September 2026
0 views
•3 min
Kolam eks Tambang yang menjadi tempat Seorang Bocah tewas saat berenang. (Foto: Adnan Abdul/KoranKaltim.com)

Penulis: Adnan Abdul 

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kemarau memaksa warga mencari air ke mana saja. Ketika sumur tak lagi mengeluarkan air, kolam bekas tambang di Jalan Teluk Kedondong RT 22 Kelurahan Sempaja Utara, Samarinda Utara, Kota Samarinda, menjadi pilihan untuk mandi dan mencuci.

Namun sumber air alternatif itu menyimpan bahaya. Selasa (15/9/2026) sore kemarin, aktivitas mandi di kolam tersebut berubah menjadi tragedi. Muhammad Andi Riski, bocah berusia tujuh tahun, tenggelam dan ditemukan meninggal dunia beberapa jam kemudian.

Risnawati, warga Simpangan Bayur menyebut kolam itu bahkan baru pertama kali didatanginya dan wanita 50 tahun itu terpaksa mandi disana setelah sumurnya mengering akibat kemarau.

“Ya karena air nggak mau naik-naik. Air sumur kering. Dampak kemarau ini, sudah tidak ada air,” kata Risna saat ditemui Korankaltim.com Rabu (16/9/2026)

Risnawati datang bersama anaknya yang berusia 13 tahun. Sang anak lebih dahulu mengetahui keberadaan kolam tersebut dan mengajaknya ke lokasi.

“Saya pertama kali juga ke sini. Anak saya yang kasih tahu. Sudah, kamu kenapa mandi sendirian, ayo mama ikut,” tuturnya.

Saat mandi, Risnawati sempat melihat sejumlah anak berada di sekitar kolam kemudian melihat dua anak turun mendekati air, disusul seorang anak kecil.

“Saya lihat anak-anak itu berempat. Setelah itu kami mau pulang. Dua anak turun, terus naik ke kayu. Yang anak kecil kemudian menyusul dan terjun ke bawah sini,” ungkap Risna lagi.

Dirinya tak mengetahui ketika satu diantara anak itu mengalami masalah di dalam air. Jarak pandang dari lokasi tempatnya mandi cukup jauh. Risnawati juga mengira ada orang dewasa yang mengawasi anak-anak tersebut.

“Enggak tahu kalau tenggelam atau bagaimana. Kami pikir ada orang tua juga yang sedang mencuci, jadi aman saja,” jelasnya.

Ketua RT 22 La Mannu mengatakan, lubang bekas tambang tersebut telah ada bertahun-tahun. Setelah aktivitas pengambilan material berhenti, lubang kemudian terisi air dan dimanfaatkan warga.

“Sebagian mandi-mandi di situ, orang ambil untuk cuci-cuci juga. Kalau mau mandi atau cucian, sebagian warga larinya ke situ,” ujar Mannu.

Kemarau membuat pemanfaatan kolam semakin sering. Bahkan, anak-anak juga kerap mandi dan bermain di lokasi yang berada tak jauh dari permukiman tersebut. Warga sebenarnya telah mengingatkan anak-anak agar tidak bermain di kolam. Namun, lubang bekas tambang yang dibiarkan terbuka membuat akses menuju lokasi tetap mudah.

"Sering dibilang dulu, namanya anak-anak mau bagaimana lagi. Cuma masalahnya lubang itu tidak ditutup, ditinggal begitu saja,” ujarnya.

Pencarian dilakukan warga bersama Bhabinkamtibmas dan kepolisian hingga malam. Muhammad Andi Riski akhirnya ditemukan sekitar pukul 19.17 WITA di dasar kolam, sekitar 10 meter dari tepian.

Kedalaman kolam diperkirakan mencapai 2,5 meter. Bagi warga, tragedi tersebut menjadi peringatan atas lubang bekas tambang yang masih terbuka di tengah permukiman.

La Mannu berharap lokasi segera ditutup agar tidak kembali menjadi tempat bermain maupun mandi anak-anak.

“Kalau menurut kami, ditutup saja itu. Soalnya kalau terjadi lagi seperti ini, kita tidak mungkin terus ada orang tua atau orang lain yang mengawasi di situ,” tegasnya.

Kejadian tersebut merupakan korban jiwa pertama yang diketahuinya di kolam bekas tambang tersebut.

“Kami warga berharap lubang bekas tambang itu tidak lagi dibiarkan terbuka dan menjadi ancaman bagi masyarakat kami,” tutup Mannu.

Editor: Aspian Nur

Tags:

SamarindaBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Samarinda.