Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Samarinda

Kabut Asap di Samarinda Kian Pekat

Koran Kaltim
17 September 2026
0 views
•2 min
Kondisi terkini Kota Samarinda pada Kamis (17/9/2026) terlihat kabut asap mulai menebal. (Foto: Adnan Abdul/Korankaltim)

Penulis: Adnan Abdul

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kabut asap kembali menyelimuti Kota Samarinda pada Kamis (17/9/2026) pagi. Pekatnya kabut membuat udara terasa sesak dan jarak pandang menurun di sejumlah kawasan. Kondisi ini sejalan dengan hasil pemantauan di Bandara APT Pranoto yang mencatat konsentrasi PM2,5 mencapai 367 mikrogram per meter kubik, masuk kategori berbahaya bagi kesehatan.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto Samarinda Riza Arian Noor mengatakan, hasil pemantauan kualitas udara di kawasan bandara menunjukkan tren memburuk sejak pagi.

Berdasarkan data peralatan pemantau kualitas udara di Bandara APT Pranoto, konsentrasi partikulat PM2,5 pada pukul 09.00 Wita tercatat sekitar 367 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut masuk dalam kategori berbahaya bagi kesehatan.

“Dari jam 7, jam 8 sampai jam 9 trennya cenderung meningkat. Data pembacaan nilainya sekitar 367 mikrogram per meter kubik. Artinya, ini dalam kategori terbahaya bagi kesehatan,” ujar Riza saat dikonfirmasi pada Kamis (17/9/2026)

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang rentan terhadap paparan asap maupun mereka yang memiliki gangguan kesehatan tertentu. Paparan udara dengan konsentrasi partikulat tinggi dapat memperburuk kondisi ketika seseorang terlalu lama beraktivitas di luar ruangan.

Riza mengimbau masyarakat Samarinda mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara belum membaik. Jika aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, masyarakat diminta menggunakan masker sebagai perlindungan tambahan.

“Dengan indikator kondisi berbahaya ini, saya harapkan kepada masyarakat di Samarinda khususnya kita kurangi beraktivitas di luar. Kalau beraktivitas di luar, tentunya kita harus menggunakan masker,” katanya.

Selain kualitas udara, kondisi kabut asap juga berdampak terhadap jarak pandang di kawasan Bandara APT Pranoto. Riza menyebut jarak pandang terpendek yang terpantau pada pagi hari hanya sekitar 50 meter.

“Untuk jarak pandang, sampai tadi pagi, jarak pandang terpendek itu sampai 50 meter. Artinya memang sangat pendek, sangat pekat di Bandara APT Pranoto,” jelasnya.

Kondisi tersebut turut memengaruhi operasional penerbangan. Namun, Riza menegaskan aktivitas penerbangan tidak dihentikan atau ditutup secara permanen. Operasional berada dalam kondisi siaga sambil menunggu jarak pandang kembali memenuhi standar keselamatan penerbangan.

“Stand by, bukan dihentikan. Kalau berhenti kan close, jadi ini hanya menunggu perkembangan cuaca menjadi lebih baik,” pungkas Riza.

Editor: Aspian Nur

Tags:

SamarindaBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Samarinda.