Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Musim kemarau membuat kondisi Bendungan Benanga di Samarinda semakin mengering. Aliran air yang biasanya bergerak menuju sungai-sungai kecil di sekitar kawasan tersebut kini tidak lagi mengalir normal. Air yang tersisa pun menjadi lebih mudah menggenang dan menimbulkan bau tidak sedap.
Kondisi itu turut dirasakan warga dan pedagang yang beraktivitas di sekitar bendungan, Nur Kasiyati, penjual di kawasan Bendungan Benanga jadi satu diantaranya. Nur mengaku aktivitas jualannya masih berjalan, meski jumlah warga yang datang untuk makan di sekitar tempatnya berjualan berkurang.
“Kalau jualan tetap saja, kadang ramai kadang sepi. Tapi kalau untuk orang makan di sini jarang ada,” kata Nur saat ditemui di lokasi pada Kamis (17/9/2026)
Bau yang muncul dari kondisi air menjadi alasan kawasan tersebut kini tidak seramai biasanya dan kondisi itu telah dirasakan sekitar sepekan terakhir. Selain persoalan kemarau, Nur menduga tumpukan sampah yang dibuang ke aliran sungai turut memperparah kondisi lingkungan. Wanita itu mengaku masih kerap melihat warga membuang sampah secara langsung ke sungai, terutama pada malam hari.
“Kalau malam kadang-kadang itu jam satu, jam dua orang buang sampah. Dari mana-mana itu orang buang sampah, buang langsung ke dalam,” ungkap Nur.
Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda menemukan persoalan lain yang berpotensi memperburuk kualitas air di kawasan tersebut. Hasil peninjauan DLH menemukan adanya aktivitas usaha tahu yang telah beroperasi sejak 1994 dan sebelumnya membuang limbah langsung ke sungai.
Plt Kepala Bidang Penataan DLH Samarinda Rifqi Helmi mengatakan, pelaku usaha kini telah memiliki bak penampungan limbah, namun fasilitas tersebut belum berfungsi sebagai tempat pengolahan.
“Bak-bak penampungan itu hanya dilakukan untuk menampung, bukan untuk diolah,” jelas Rifqi.
DLH kemudian meminta pelaku usaha menghentikan sementara pembuangan limbah cair ke sungai. Limbah yang tertampung akan disedot dengan bantuan Dinas PUPR Samarinda.
Ke depan, DLH akan melakukan pembinaan agar pengelolaan limbah dilakukan sesuai ketentuan. Limbah usaha tahu sendiri terdiri dari limbah padat dan cair yang membutuhkan penanganan berbeda.
“Untuk sementara yang mereka lakukan nanti ke depannya mereka akan kami bina untuk melakukan bagaimana cara pengelolaan limbah tahu yang benar,” pungkas Rifqi.
Editor: Aspian Nur




