TANJUNG SELOR – Densus 88 meringkus seorang terduga teroris di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (17/5) dini hari. AS (25) ditangkap setelah video ancamannya viral di media sosial Facebook.
Santri di salah satu pondok pesantren di Gresik, Jawa Timur ini diamankan di kediamannya, di Kelurahan Karang Anyar, Kota Tarakan, pukul 01.00 Wita.
Dalam video berdurasi 2 menit 50 detik yang diunggahnya, AS menyebut Kota Tarakan sebagai salah satu target sambil memasukkan butir demi butir peluru ke dalam pistol. Di video itu pula, AS terlihat berbaiat kepada pemimpin kelompoknya yang diduga berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.
Dari penggeledahan di kediaman pelaku, Densus menyita barang bukti, seperti pistol revolver, amunisi, pisau dan buku panduan jihad ISIS.
Kapolda Kaltara Brigjend Pol Indrajit mengatakan AS telah diterbangkan ke Jakarta untuk proses pemeriksaan lebih lanjut. “Karena yang nangkap kan tim Densus. Yang jelasnya, pelakunya sudah ditangkap, dan tadi itu (kemarin) Polres Tarakan sudah melakukan penyidikan di kediamannya,” kata Indrajit.
Menurut Kapolda, ada 12 orang di Kaltara diindikasikan pengikut ISIS dan lima lainnya menganut paham radikal yang bertentangan dengan pancasila. Mereka sejak lama telah dipantau aparat keamanan.
“Kegiatannya belum ada mengarah ke arah sana (aksi teror). Tetapi kita tidak dibiarkan. Kita tetap pantau. Kami meminta dukungan moril dari TNI, semua elemen masyarakat untuk mencegah aksi teror di sini,” imbuhnya. Beberapa dari mereka ternyata merupakan alumni Suriah.
Kaltara yang berada di daerah perbatasan negara dinilai sebagai jalur masuknya pelaku teror. Ribuan jalur tikus membuat daerah ini mudah disambangi teroris.
“Jika dia dikejar, maka dia lari dari Jawa ke Tarakan, Tarakan ke Nunukan, Nunukan ke Poso. Karena, daerah kita ini daerah perbatasan. Banyak sekali jalur tikusnya yang tersebar,” jelasnya.
Kapolres Tarakan AKBP Yudhistira menyebut AS baru enam bulan belajar di salah satu pondok pesantren di Gresik, Jawa Timur. Ia baru saja kembali ke Tarakan setelah jatuh sakit. Rencananya, pemuda itu akan kembali lagi menempuh pendidikan di Gresik setelah lebaran Idulfitri nanti.
“Ibu dan adik perempuannya telah dimintai keterangan,” ungkap Yudhistira.
Polisi akan mendalami sepak terjang AS, termasuk soal kemungkinan apakah yang bersangkutan berkaitan dengan pelaku bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur.
Ketua RT 54 Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat Marsudi membeberkan selama dua tahun tinggal di rumah kontrakan, AS dan keluarganya tidak pernah melapor. Mereka juga diketahui jarang bergaul dengan warga sekitar. “Mereka ini pengontrak, selama ini tidak lapor ke saya,” ungkap Marsudi ketika ditemui, Kamis (17/5).
Selama tinggal di Karang Anyar, AS hanya sering terlihat apabila salat di masjid At-Taubat yang terletak di lingkungan mereka. Ia bahkan tak pernah ikut dalam kegiatan kerja bakti yang digelar warga sekitar.
“Sering sama-sama ke masjid, tetapi tidak pernah ngobrol. Begitu selesai salat langsung pulang ke rumah masing-masing,” kata Marsudi.
Teman AS semasa sekolah di Tarakan, Fatir kaget dengan penangkapan itu. “Dulu pas di MAN ndak terlalu rajin, bisa dibilang sedikit nakal,” ujar Fatir. (ram316/yan)




