SAMARINDA – Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak memenuhi panggilan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kaltim, Jumat (6/7). Awang dimintai keterangan terkait pernyataannya yang menyebutkan terjadinya money politic pada penyelenggaraan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim, 27 Juni lalu.
Awang datang ke kantor Bawaslu Kaltim, Jl MT Haryono, Kota Samarinda didampingi seorang ajudan dan staf mengendarai Toyota Alphard warna hitam bernomor polisi B 317 AFI, pukul 08.40 WITA.
Awang lalu melakukan pertemuan tertutup dengan Ketua Bawaslu Kaltim Saipul serta Komisioner Bawaslu Galeh Akbar Tanjung dan Hari Darmanto.
Sekitar dua jam kemudian, Awang keluar dari ruang pertemuan. Kepada wartawan, ia mengaku kedatangannya adalah bentuk penghargaan kepada penyelenggara pemilu, yakni KPU dan Bawaslu.
“Saya sangat menghargai KPU dan Bawaslu . Tidak perlu saya gunakan kuasa sebagai gubernur untuk memanggil mereka ke kantor gubernur, tapi saya yang datang ke Bawaslu. Ini dua kali saya datang ke sini,” ujarnya.
Tak jauh berbeda dengan pernyataan sebelumnya, Awang menyebut informasi adanya pengiriman uang via kargo dari Singapura dan dugaan money politic di Pilgub Kaltim ia terima dari laporan intelijen. Isu ini sebelumnya dilontarkan Awang saat Focus Group Discussion (FGD) bertema “Menjaga Kondusifitas Kaltim Pasca Pemungutan Suara Pilkada Serentak Tahun 2018”, di Ruang Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim, Jl Gajah Mada, Senin (2/7) lalu.
Awang kembali memastikan pengiriman uang dalam jumlah besar yang ditengarai untuk memenangkan Pilgub Kaltim oleh salah satu calon, bebar-benar terjadi. “Silakan ditindaklanjuti. Saya kan mengatakan kejadian itu ada, terjadi,” tukasnya.
Informasi terbaru, Awang juga menyebut adanya beberapa uang rupiah dengan nomor seri yang berbeda warna yang beredar di masyarakat. Sayangnya, tak satupun bukti dibawa Awang.
“Bukan hoaks, ada uang rupiah yang berbeda seri, yang satu berwarna hitam yang satu berwarna merah. Didapat dari masyarakat. Ada Rp100 ribu, Rp200 ribu ada yang sampai Rp500 ribu. Itu kan bukti awal yang bisa ditelusuri. Soal dia masuk lewat kargo, siapa yang bisa mengontrol. Kalau pesawat dari luar negeri turun, dia nggak lewat sistem di bandara, nggak lewat X-Ray,” kata Awang, meyakinkan.
Namun, kata Awang, informasi itu didapat intelijen internal pemerintah, bukan kepolisian maupun TNI. “Saya kan pasti punya intelijen sendiri, kepolisian punya intelijen sendiri. Polisi pasti lapornya ke Kapolda, tentara lapornya ke Korem dan ke Kodam. Mana boleh saya mau mencampuri. Kita saling menghormati,” ungkapnya.
Ketua Bawaslu Kaltim, Saipul mengapresiasi kehadiran Awang. Menurutnya, Awang sengaja diundang untuk mendengarkan secara langsung pernyataannya di media beberapa hari belakangan, seputar indikasi money politic dalam Pilgub Kaltim.
“Tadi bukan untuk mengklarifikasi dengan menggunakan pertanyaan terarah. Tetapi tadi adalah dalam bentuk penyampaian langsung dari Pak Gubernur, terkait hal-hal yang mau disampaikan secara langsung kepada Bawaslu,” jelasnya.
Secara umum, kata Saipul, pernyataan Awang masih sama seperti dengan yang disampaikan pada saat FGD, 2 Juli 2018 lalu. Kecuali seputar beredarnya uang yang disebut Awang memiliki nomor seri dan warna yang berbeda di tengah masyarakat.
“Tadi beliau juga menyampaikan bentuk klasifikasi nomor seri uang. Tentunya kita akan melakukan pendalaman lebih jauh apakah bentuk petunjuk adanya perbedaan warna nomor seri uang ini menuntun ke adanya pelanggaran money politic atau tidak. Nanti kita lakukan pendalaman. Untuk hal ini, tentu Bank Indonesia bisa saja kita libatkan terkait dengan keaslian uang. Tapi alat bukti, tidak ada satupun yang diserahkan ke Bawaslu,” ujarnya. (rs)




