BALIKPAPAN - Warganet dihebohkan dengan munculnya salah satu grup di facebook (FB) bernama “Kumpulan PIN Gay Balikpapan”. Grup ini semakin terkenal setelah salah satu akun media sosial (medsos) instagram mempostingnya. Berbagai hujatan terhadap grup FB tersebut banyak dilontarkan netizen. Gay, merupakan perilaku seks menyimpang yang diwanti-wanti tumbuh subur di Indonesia.
Di Kaltim, Kota Balikpapan dan Samarinda ditengarai komunitas ini masih eksis. Pola hidup kota berkembang menuju metropolis, menjadi salah satu pencetus eksistensi mereka.
Dari penelusuran media ini, grup terbuka untuk umum tersebut beranggotakan lebih dari 2.900 akun. Dalam setiap postingan di dalam grup oleh sejumlah member, secara terang-terangan mereka seolah tak masalah mengakui sebagai seorang gay.
Salah satunya seperti postingan akun FB, Aji Safhan Syhaidan menulis, “Yg gay bppn mana suaranya,” tulisnya tanggal 21 September 2018, pukul 17.15 WITA.
Tak semua postingan mendukung, banyak juga postingan-postingan negatif oleh member grup tersebut. Dalam riwayatnya, grup dibuat, 2 Desember 2014.
Grup ini juga terdapat member yang memposting penjualan obat vitalitas pria, serta jasa pijat.
Keberadaan gay di Indonesia terlebih di Kota Balikpapan, sangat tak familiar. Banyak warganya yang menganggap gay bagian dari LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) adalah perilaku menyimpang dan melanggar hukum negara. Eksistensi komunitas ini umumnya berkembang secara diam-diam. Tapi, sepandai tupai melompat, pasti jatuh juga.
Keberadaan komunitas ini terendus polisi. Kapolres Balikpapan, AKBP Wiwin Firta mengatan pihaknya akan menyelidiki keberadaan komunitas ini. Grup FB yang sudah membuat resah warga Kota Beriman ini bisa jadi modal penyelidikan. Dia juga telah memerintahkan anggotanya untuk melacak kebenaran akan grup tersebut.
“Nanti kami cek,” singkatnya.
Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Kota Balikpapan, Dwita Salvery tak memungkiri potensi penyimpangan orientasi seksual LGBT cukup besar di Kota Balikpapan.
“Di sini cukup banyak kalangan remaja yang berprilaku gay. Lihat saja kasus si Pandu yang korbannya pun anak-anak muda. Apalagi kalau itu terjadi di kalangan organisasi,” ucap Dwita.
Pandu Dharma Wicaksono (22) merupakan terpidana kasus kekerasan seksual dengan korban 9 anak laki-laki dan divonis 12 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Balikpapan. Pandu juga pernah menjabat sebagai Presiden Green Generation, sebuah organisasi lingkungan untuk remaja.
“Saya ada klien yang juga menjadi korban. Perilaku gay itu ada yang awalnya sebagai korban, lalu mencari korban lainnya. Ada juga yang memang menjadi gay, lalu mencari pasangan yang berperilaku sama,” jelasnya.
Meski tak bisa membeber data atau pun persentase karena harus melalui penelitian, Dwita lagi-lagi menekankan potensi penyimpangan orientasi seksual di Kota Madinatul Iman cukup tinggi.
Dia membeber warga Kota Balikpapan saat ini heterogen dan sebagai kota transit. Perempuan berjilbab ini lantas menyebut bahwa tidak ada jaminan seseorang yang berprestasi, menempuh pendidikan di sekolah favorit atau pondok pesantren berperilaku seksual yang normal.
“Semua tempat punya potensi karena LGBT bisa masuk dimana saja dan kalangan apa saja. Ada akademisi tapi gay, di kalangan pengusaha juga ada,” sebutnya.
Senada, Konsultan Psikologi Klinik Hati Samarinda Friska Asta menjelaskan tak cuma Kota Balikpapan, di Samarinda sebagai kategori kota berkembang juga lepas dari permsalahan sosial, seperti penyimpangan seksual. “Kalau dibilang wajar (ada penyimpangan seksual), ya wajar. Karena fasilitasnya ada,” ujarnya dikomfirmasi Koran Kaltim kemarin.
Akses akan informasi yang berlimpah, lanjut dia namun tanpa diikuti dengan pendampingan yang tepat maka akan berdampak munculnya penyimpangan seksual.
Sebagai langkah mitigasi, kata Friska setidaknya pemerintah bisa melakukan dua hal. “Pertama ya penggerebekan, artinya yang sudah ada dan terekspose, segera diantisipasi,” tukasnya.
Selanjutnya dan yang paling penting, katanya adalah solusi jangka panjang dengan memberikan informasi sebanyak dan sebaik mungkin, mengenai hal berkaitan urusan reproduksi, pendidikan seksual, dan penekanan moral agar bibit-bibit penyimpangan dapat segera diantisipasi.
Di Samarinda kata Friska sedianya juga menyimpan cerita penyimpangan seksual serupa. Ia mengaku beberapa kali mendapatkan klien yang mengalami penyimpangan seksual dari 2 kota penting di Bumi Etam ini. “Tak cuma klien ya, yang dari lingkungan terdekat juga ada,” akunya.
Hanya saja, signifikansi pembahasan maupun ekspos terhadap perihal itu, masih belum se-masif sebagaimana kota-kota besar di Pulau Jawa.
Adanya, grup tersebut membuat sebagian orangtua merasa khawatir, apalagi anak laki-laki mereka menginjak usia remaja. “Sangat khawatir sekali ya, takut anak-anak kami nanti terikut-ikut seperti di FB itu kan serem banget,” ujar salah satu orangtua bernama Nita, Warga Balikpapan Tengah.
Polisi sedianya segera menindaklanjuti dengan menelisik keabsahan grup tersebut. Komunitas ini harus diungkap sebelum komunitas gay menjamur lebih luas di Kaltim. (yud/hn/rs)




