Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Pendidikan

PJJ di Mahulu Bantu Kurangi Paparan Kabut Asap, Jaringan Internet Jadi Tantangan

Koran Kaltim
24 September 2026
0 views
•2 min
Ilustrasi sejumlah siswa mengikuti pembelajaran dari rumah (BDR) selama kabut asap di Mahulu. Orang tua menilai BDR membantu menjaga kesehatan anak, tetapi efektivitasnya belum sepenuhnya menggantikan pembelajaran tatap muka di sekolah. (Foto: Istimewa)

Penulis: Julika Hengin

KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG – Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan di Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) selama kabut asap dinilai membantu mengurangi risiko paparan udara tidak sehat bagi siswa.

Namun, sejumlah orang tua menilai sistem tersebut belum mampu menggantikan efektivitas pembelajaran tatap muka di sekolah.

Salah seorang orang tua murid di SDN 002 Ujoh Bilang, Imran, mengatakan proses belajar di rumah tetap berjalan melalui pemberian materi dan tugas yang dipantau oleh guru. Meski demikian, hasil yang diperoleh anak dinilai tidak semaksimal ketika belajar langsung bersama guru di sekolah.

”Kalau untuk efektivitas belajar memang tidak semaksimal tatap muka langsung dan tidak seefektif ketika pembelajaran di sekolah. Tapi karena untuk mengatasi ataupun menghindari paparan kabut asap, PJJ ini cukup membantu untuk belajar di rumah,” ujarnya, Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, terdapat ketidakpuasan tersendiri karena anak tidak memperoleh pengalaman belajar yang biasanya didapat saat berada di lingkungan sekolah, baik melalui interaksi dengan guru maupun teman sebaya.

”Di balik itu ada ketidakpuasan tersendiri karena dari sisi materi, pengalaman belajar di sekolah ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan interaksi langsung itu kurang didapatkan oleh anak sebagai siswa,” katanya.

Penerapan PJJ juga menghadirkan tantangan bagi orang tua yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan mendampingi anak belajar di rumah.

Menurut Imran, kondisi tersebut masih bisa diatur, meskipun membutuhkan penyesuaian dalam aktivitas sehari-hari.

Selain itu, pelaksanaan pembelajaran jarak jauh sangat bergantung pada ketersediaan jaringan internet dan perangkat pendukung. Ketika terjadi gangguan jaringan, proses pengiriman maupun penerimaan tugas menjadi terhambat.

”Kendalanya ketika PJJ ini sangat bergantung pada kondisi jaringan. Saat ada gangguan, semuanya tidak bisa berjalan lancar dan harus menunggu jaringan kembali normal,” ujarnya.

Ia juga menyoroti masih adanya keterbatasan ekonomi sebagian keluarga dalam menyediakan perangkat belajar seperti telepon pintar maupun fasilitas penunjang lainnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan pembelajaran dari rumah, terutama di wilayah perbatasan seperti Mahulu.

Meski menghadapi sejumlah kendala, Imran mengaku tetap mendukung kebijakan pemerintah dan sekolah selama kondisi kualitas udara belum memungkinkan untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka secara normal.

Menurutnya, kesehatan dan keselamatan anak tetap menjadi prioritas utama di tengah kabut asap yang masih menyelimuti sebagian wilayah Mahulu. 

Editor: Erwin 
‎

Tags:

PendidikanBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Pendidikan.