Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Ekonomi Bisnis

Sisa MBG Tak Terbuang, GMJB Jadikan Pakan Magot di Biokosmo

Adi Putra
12 Agustus 2026
0 views
5 min
Ahmad Mubarok memperlihatkan magot hasil budi daya GMJB untuk menjadi produk pupuk hingga pakan ternak. (Hendra/Korankaltim.com)

Penulis: Hendra

KORANKALTIM.COM, MUARA JAWA - Sisa makanan tidak selalu berakhir sebagai sampah. Masyarakat Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara, telah membuktikannya dari Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Reduce Reuse Recycle (TPST3R) Gerakan Muara Jawa Bersih (GMJB).

Sisa nasi, sayuran, dan bahan organik lainnya justru menjadi bahan baku untuk pakan magot, larva dari Black Soldier Fly (BSF). Dari budi daya magot itu, GMJB memperoleh produk turunan berupa pakan ternak dan kasgot yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Siklus tersebut membuat sampah organik memiliki nilai lebih. Limbah yang semula hanya membebani lingkungan kini dapat kembali masuk ke rantai produksi sekaligus menghasilkan pemasukan. Nama programnya Biokonversi Sampah Organik (Biokosmo)
Koordinator Pengelolaan Pupuk Organik TPST3R GMJB, Ahmad Mubarok, mengatakan sampah organik menjadi salah satu jenis limbah yang memiliki banyak potensi untuk dikembangkan.

“Jadi bahan pupuk organik cair (POC) itu kita ngambilnya dari ekstrak magot. Magot dibikin pasta dulu, lalu difermentasi dengan campuran kasgot dan mikroba lainnya. Fermentasi minimal dua minggu,” kata Ahmad, Rabu (12/8/2026).

SISA MBG JADI BAHAN BAKU

Peluang tersebut semakin terbuka dengan adanya sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai masuk dalam pembahasan pengelolaan GMJB.

Camat Muara Jawa Muhammad Ramli mengatakan pemerintah daerah bersama GMJB mulai menjajaki kerja sama dengan sekolah untuk mengolah sisa makanan MBG. Saat ini, baru satu sekolah yang menjalankan kerja sama tersebut.

“Ternyata banyak sisa dari MBG karena tidak termakan di sekolah. Itu kita sayangkan sebenarnya karena mubazir ya,” katanya.
Menurut Ramli, makanan yang tersisa seharusnya tidak langsung menjadi sampah. Selain mengurangi pemborosan makanan, pengelolaan sisa MBG dapat memberikan manfaat lain apabila masuk ke sistem pengolahan sampah organik.

“Kita akan kelola di sini. Tergantung sekolahnya mau kerja sama enggak dengan kami,” kata Ramli.

Sisa makanan tersebut berpotensi masuk dalam siklus budi daya magot. Dengan begitu, makanan yang tidak termakan tidak langsung berakhir di tempat pembuangan, tetapi dapat menjadi sumber bahan organik untuk menghasilkan produk baru.

WhatsApp Image 2026-08-12 at 11.14.29.jpeg

MAGOT UBAH SAMPAH JADI PAKAN

Budi daya magot menjadi salah satu cara GMJB dalam mengolah sampah organik. Larva tersebut memanfaatkan bahan organik sebagai sumber makanan sebelum kemudian dipanen dan diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Ahmad kembali menjelaskan magot memiliki kandungan protein tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan berbagai jenis hewan.
“Pakan proteinnya tinggi. Tinggi untuk pakan ke ternak ya, proteinnya sangat tinggi itu di sekitar 38 sampai 40 persen, tergantung juga apa yang dimakan,” ujarnya.

GMJB telah mempraktikkan pemanfaatan magot sebagai pakan ayam dan ikan. Kebutuhan pakan ayam yang mereka kelola sendiri bahkan mencapai sekitar 10 kilogram per hari.

Produk magot juga tidak hanya menyasar kebutuhan internal. GMJB telah memasarkan magot hingga Samarinda, baik dalam bentuk magot hidup maupun produk lainnya.

Pengelola juga menjual magot muda dan telur atau bibit magot. Harga telur atau bibit magot dapat mencapai sekitar Rp20 ribu per gram.
“Kalau jual bibit per gram jadinya,” ujar Ahmad.

DARI MAGOT LAHIR PUPUK ORGANIK

Siklus pengolahan tidak berhenti ketika magot dipanen. Budi daya magot menghasilkan kasgot, yakni residu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik.

GMJB kemudian mengolah produk turunan tersebut menjadi POC. Menurut Ahmad, penggunaan pupuk organik memberikan manfaat jangka panjang bagi tanah.

Ia bahkan menilai bahan organik dapat membantu menjaga tanah tetap subur tanpa bergantung sepenuhnya pada bahan kimia. “Suburnya tanah juga bagus, terus ya lebih sehat sih kita, bukan dari bahan-bahan kimia,” imbuhnya.

Ia juga mengakui pupuk kimia memiliki reaksi lebih cepat. Sebaliknya, pupuk organik membutuhkan waktu lebih panjang, tetapi manfaatnya dapat berlangsung dalam jangka panjang.

“Kalau pertumbuhan memakai pupuk organik ini memang agak lambat, cuman jangka panjang. Ke tanah, ke mungkin ke tubuh kita juga yang kita makan dari sayur-sayuran gitu kan, itu lebih sehat,” tuturnya.

WhatsApp Image 2026-08-12 at 11.14.29 (1).jpeg

CUAN SEKALIGUS BUKA LAPANGAN KERJA

Ketua GMJB Achmad Taufik mengatakan potensi ekonomi tersebut menjadi alasan komunitasnya terus mengembangkan pengelolaan sampah.

“Karena barang yang seharusnya dibuang, justru bisa menjadi penghasilan,” terang Taufik.
Saat ini, GMJB memberdayakan sekitar 54 tenaga kerja. Mereka terdiri atas pengemudi, pembantu pengemudi, serta pekerja yang menangani pemilahan dan pengolahan sampah.

“Jadi setiap ada kerja sama baru dengan pihak perusahaan, kami selalu merekrut tenaga baru,” lanjutnya.
Pekerja yang menangani pengolahan magot memperoleh penghasilan sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan. Taufik mengatakan GMJB berupaya meningkatkan pendapatan pekerja seiring berkembangnya kegiatan pengolahan sampah.

PHSS DORONG EKONOMI SIRKULAR

Pengembangan pengolahan sampah organik GMJB turut mendapat dukungan Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS). Comrel & CID PHSS Lapangan Mutiara, Muhammad Fajerianior, mengatakan pengolahan sampah organik menjadi perhatian karena volume sampah Muara Jawa mencapai 30-35 ton setiap hari.

“PHSS masuk sebagai program pemberdayaan masyarakat untuk membantu pemerintah mengatasi masalah sampah di Muara Jawa,” kata Fajerianior.

Menurutnya, PHSS bersama GMJB menjalankan program Biokosmo yang fokus pada sampah organik karena jenis limbah ini memiliki banyak produk turunan.

“Kami melihat pengelolaan sampah organik ini kalau tidak dikelola dengan baik juga akan menjadi masalah besar,” ungkapnya.
PHSS melihat pengolahan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang juga menjadi fokus pemberdayaan oleh pemerintah. Sampah yang semula menjadi beban lingkungan dapat kembali menjadi bahan baku dan menghasilkan nilai ekonomi.

“Dan kami melihat juga sampah organik banyak turunannya," tukasnya.
Perjalanan sampah organik di GMJB menunjukkan bahwa limbah tidak harus berakhir sebagai beban. Sisa makanan, termasuk potensi sisa MBG dari sekolah, dapat masuk ke dalam siklus pengolahan.

Bahan organik menjadi sumber makanan magot. Magot kemudian dapat menjadi pakan ayam dan ikan dengan kandungan protein sekitar 38-40 persen. Sementara kasgot hasil budi daya magot dapat kembali menjadi bahan pupuk.

Dari satu siklus tersebut, muncul berbagai peluang ekonomi, mulai dari penjualan magot, bibit magot, dry magot, kasgot, hingga pupuk organik cair.

 

Tags:

Ekonomi BisnisBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Adi Putra

2

Penulis di kategori Ekonomi Bisnis.