Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Struktur ekspor Kalimantan Timur (Kaltim) dinilai masih terlalu bergantung pada sektor minyak dan gas (migas) serta batu bara. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi daerah dinilai rentan terhadap perubahan situasi dan kebijakan ekonomi global.
Sekretaris DPD Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Kaltim, Hasrun Jaya mengatakan, ketergantungan terhadap komoditas ekstraktif menjadi salah satu persoalan mendasar dalam pengembangan ekonomi Kaltim.
Sektor migas dan batu bara memang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian dan ekspor Kaltim. Namun, kondisi tersebut belum cukup kuat menjadi fondasi ekonomi jangka panjang karena harga dan permintaan komoditas sangat sensitif terhadap kondisi global.
“Pertumbuhan ekonomi Kaltim hanya pada sektor migas dan batu bara, itu semu. Itu sangat sensitif,” ujar Hasrun kepada Korankaltim.com, Kamis (13/8/2026).
Kaltim sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor ekspor nonmigas. Salah satunya melalui pemanfaatan lahan tidur dan pengembangan komoditas pertanian, perikanan, peternakan hingga produk perkebunan. Namun persoalannya terletak pada minimnya industri pengolahan yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam daerah.
Sejumlah produk yang berasal dari Kaltim justru harus dikirim ke luar daerah untuk mendapatkan proses pengolahan sebelum dipasarkan dengan nilai jual lebih tinggi.
“Yang menjadi kendala adalah banyaknya lahan tidur yang tidak termanfaatkan. Yang kedua, semua bertumpu kepada migas dan batu bara,” ujar Hasrun lagi.
Hasrun mencontohkan komoditas perikanan yang memiliki peluang besar menembus pasar Eropa. Namun, standar kualitas dan proses produksi yang diterapkan nelayan Indonesia masih perlu ditingkatkan agar mampu memenuhi persyaratan pasar internasional.
Peningkatan nilai tambah melalui teknologi dan pengolahan dapat memberikan perbedaan harga yang signifikan. Karena itu, menurutnya, Kaltim tidak cukup hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah, tetapi harus mulai membangun ekosistem industri hilir di daerah.
“Hilirasasi tidak ada. Peningkatan nilai jual, bukan barang mentah. Barang mentah menjadi barang setengah jadi saja,” ucapnya.
Penguatan hilirisasi juga penting agar kontribusi besar Kaltim terhadap perekonomian nasional tidak terus bergantung pada eksploitasi sumber daya alam. Dengan potensi lahan, komoditas dan sumber daya yang dimiliki, ia mendorong pemerintah memperkuat industri pengolahan sekaligus membuka akses pasar ekspor bagi produk lokal bernilai tambah.
Dengan begitu struktur ekonomi dan ekspor Kaltim ke depan diharapkan lebih beragam dan tidak mudah terdampak gejolak harga migas maupun batu bara di pasar global.
Editor: Aspian Nur




