Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Pendidikan

SMPN 24 Samarinda Langganan Banjir, Aktivitas Belajar Kerap Terganggu dan Laboratorium IPA Rusak

Koran Kaltim
7 November 2025
0 views
3 min
Kondisi lingkungan sekitar SMPN 24 Samarinda yang berada di kawasan rawan longsor dan kerap terendam banjir. (Ayu/Korankaltim.com)

Penulis: Ayu Norwahliyah

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Banjir yang kerap melanda kawasan SMP Negeri 24 Samarinda di Jalan Pangeran Suryanata, Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu, membuat aktivitas belajar di sekolah itu tak pernah benar-benar lepas dari gangguan. Hampir setiap tahun, air merendam sebagian bangunan, terutama sejak banjir besar yang terjadi pada 2021.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 24 Samarinda Taufik Khairudin mengatakan, warga sekolah sudah terbiasa menghadapi banjir karena frekuensinya cukup sering dalam setahun. Biasanya, air datang saat akhir pekan ketika kegiatan belajar-mengajar libur.

“Jadi saat banjir datang, tidak ada siswa maupun guru di sekolah, hanya penjaga yang berjaga di siang hari,” ujar Taufik pada Jumat, (7/11/2025).

Namun, peristiwa terakhir dua pekan lalu terjadi saat jam sekolah. Ketika air mulai naik hingga ke teras dan koridor, pihak sekolah segera meminta orang tua menjemput anak-anak sebelum genangan semakin tinggi. 

Air datang dari berbagai arah belakang, samping kanan-kiri, hingga depan sekolah karena posisi sekolah berada di lembahan dengan kontur cekung.

Tidak hanya air, lumpur juga ikut terbawa karena aliran dari parit cukup deras. Beruntung air cepat surut, biasanya jika terjadi sore hari, keesokan subuh sudah kering. 

Kendati begitu, sisa lumpur menumpuk dan membuat proses pembersihan cukup melelahkan.

“Kalau banjir sore, biasanya subuh sudah surut. Tapi bersih-bersihnya yang bikin capek,” katanya.

Setelah air surut, kegiatan belajar terpaksa dihentikan sementara. Semua warga sekolah ikut membersihkan lingkungan, mulai dari guru hingga siswa.

Hanya siswa yang rumahnya dekat sekitar 100 hingga 200 meter dari sekolah, yang diminta membantu. Setiap kelas melibatkan empat hingga lima siswa, dan koordinasi dilakukan lewat wali kelas. Biasanya, kelurahan juga turun tangan membantu.

Proses pembersihan dilakukan bertahap. Hari pertama fokus mengeruk lumpur, kemudian hari berikutnya menata kembali ruang kelas. Biasanya, pembelajaran baru bisa dimulai setelah satu hingga dua jam pelajaran berlangsung di hari berikutnya.

“Sekolah tetap berupaya agar belajar bisa berjalan karena frekuensi banjir cukup sering,” ujarnya.

Banjir besar jarang terjadi, tapi jika datang, pekerjaan tambahan seperti merapikan lumpur dan memindahkan barang tak bisa dihindari. Bila air naik pada Jumat sore, Sabtu dan Minggu dipakai untuk bersih-bersih agar Senin kegiatan bisa normal kembali.

Banjir besar pertama kali terjadi pada 2021, dan sejak itu genangan mulai rutin melanda setiap tahun. Saat kejadian itu, sekolah sempat diliburkan hampir satu minggu karena air yang masuk ketinggiannya hingga sepinggang orang dewasa.

Saat ini, SMPN 24 memiliki 13 rombongan belajar dengan total 382 siswa. Mayoritas anak didik tinggal di sekitar sekolah sesuai sistem zonasi.

Beberapa waktu lalu, Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) sempat meninjau langsung kondisi sekolah. Dari hasil pantauan, hampir seluruh ruang terdampak banjir, terutama di bangunan utama berbentuk huruf U, yakni aula yang menjadi titik terdalam saat air naik.

Berkas-berkas penting, meski diamankan, tetap ada yang basah termasuk di ruang guru dan tata usaha. Guru biasanya menutupi meja dengan kain dan plastik untuk menghindari rembesan, tetapi sebagian dokumen tetap terendam.

Laboratorium IPA yang berada di belakang aula kini tak lagi bisa digunakan karena rusak akibat banjir. Sedangkan laboratorium komputer masih berfungsi karena posisinya lebih tinggi satu lapis keramik. 

Guru juga terbiasa menaikkan kabel, kursi dan barang penting ke tempat aman setiap pulang sekolah sebagai langkah antisipasi.

"Biasa sebelum pulang sekolah kami sudah mengamankan semua alat dan berkas penting untuk antisipasi," tutupnya.


Editor: Erwin

Tags:

PendidikanBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Pendidikan.